
Ayah Subhan langsung pamit pada pak Sarto, sementara itu warga desa yang mengantarkan ayah Subhan ke rumah pak Sarto juga ijin pulang karena masih banyak pekerjaan yang menunggunya.
Subhan yang tak menyangka bahwa ayahnya akan datang mulai tersenyum lega. Sambil melihat ke rumah pak Sarto, Subhan menanyakan jubah putih milik nya yang katanya di rendam di kamar mandi oleh Sarto.
"Jubahku apa uda di cuci?" tanya Subhan pada Sarto
"Oh, Jubah itu?" uda nak" Oleh ibu uda di jemur tu" jawab Sarto pada Subhan
"Iya pak, kalau begitu aku mau pergi ke rumah ustad Saleh" katanya dia juga akan mengantarku ke desa ku" Nenek ku pasti sudah menungguku lama" ucap Subhan pada Sarto
"Iya nak, apa perlu bapak temani?" tanya Sarto pada Subhan
"Gak usah pak" Rumah ustad Saleh dekat" jadi aku bisa jalan sendiri" jawab Subhan
Subhan pun keluar dari rumah Sarto menuju ke rumah ustad Saleh. Sebelum keluar halaman rumah Sarto, Subhan melirik ke arah dimana jubah putih milik nya sedang di jemur.
__ADS_1
"Jubah putih itu seperti menyimpan banyak misteri?" nanti aku akan mengatakan semuanya pada ustad Saleh" Tentang mimpiku, tentang semuanya" ujar Subhan sambil berjalan meninggalkan rumah Sarto.
Tak terasa, Subhan telah sampai di rumah Ustad Saleh dan mulai mengetuk pintu rumah ustad Saleh
"Ustad Saleh, apa kau ada di rumah?" Aku subhan" panggil Subhan sambil mengetuk pintu rumah ustad Saleh
Beberapa lama kemudian, Ustad Saleh keluar menemui Subhan
"Oh ya nak Subhan" Tumben kau datang ke rumah ku?" Biasanya pak Sarto yang datang" ucap ustad Saleh penasaran
"Oh, benarkah?" jawab ustad Saleh pada Subhan
"Iya Ustad, besok, aku akan pergi menuju ke desa nenek ku" ayah ibu akan ikut" kalau ustad mau, besok ustad ikut saya menuju ke desa dimana saya tinggal" ujar Subhan pada ustad Soleh
Ustad Soleh tampaknya sangat senang mendengar kabar itu karena hal inilah yang dia tunggu sebenarnya.
__ADS_1
Suatu hal yang harus dia ungkap agar Subhan dan orang tua nya tak merasa bersalah selamanya. Walaupun nantinya ustad Saleh harus mengorbankan pikiran dan tenaga nya untuk mereka.
"Ustad?" bagaimana?" tanya Subhan lagi. Subhan merasa ustad Saleh hanya diam setelah dia menanyakan perihal kepergiannya ke desa nya.
"Oh ya nak" Aku akan menemanimu" Kalau bisa besok pagi-pagi sekali kita berangkat" jawab Ustad saleh pada Subhan
"Baiklag ustad, aku pergi dulu" jawab Subhan
Subhan pun akhirnya pergi meninggalkan rumah ustad Saleh. Dia sudah tak sabar menunggu besok karena besok lah hari dimana dia akan pergi menemui nenek nya.
Sementara itu ayah Subhan sudah menemukan perahu sewaan. Perahu itu sangat kokoh dan bisa menampung sekitar 10 orang penumpang.
"Bu, kita pakai perahu terbaik saja" Cuaca di perjalanan tak menentu" Walau jarak antara desa ini dan desa kita dulu sangat dekat" Tapi kita tidak tahu perjalanan yang sekarang bagaimana" ujar ayah Subhan pada istrinya.
"Iya pak" Ayo sekarang lebih baik kita menginap di rumah pak Sarto saja" Toh kalau kita kembali ke kota, waktu kita sudah sangat mepet" Besok pagi sekali kita sudah harus berangkat ke desa kita dulu" jawab ibu Subhan
__ADS_1
Mereka berdua tak tahu jika perjalanan menyeberang ke desa dimana Subhan dan nenek nya tinggal tak secepat dahulu. Banyak rintangan yang harus mereka hadapi. perubahan itu ada sejak akses jalan penyeberangan ke desa itu ditutup total oleh pemerintah. Menjadikan jalan menuju ke sana di singgahi oleh makhluk yang selalu usil