Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Di perjalanan


__ADS_3

Rakit mulai di dayung oleh Sutikno dan Subhan duduk dengan tenang di rakit. Baju merah milik Sutikno tetap melekat di badan Sutikno. Tangan Subhan yang terluka rupanya telah kering sehingga Subhan mulai membuka balutan sobekan baju Sutikno di tangannya pelan-pelan.


"Sutikno, luka di tangan ku telah kering" Lihatlah" ucap Subhan sambil memperlihatkan tangannya kepada Sutikno


"Oh ya, robekan bajuku ikatkan di rakit kita" Sewaktu-waktu nanti kita membutuhkannya" ucap Sutikno pada Subhan.


"Ya, baiklah kalau begitu" jawab Subhan.


Setelah menyelesaikan aktivitas nya, Rakit yang ditumpangi Sutikno dan Subhan berlayar begitu cepat. Hingga rakit mereka sampai di sebuah lorong gelap tengah sungai. Lorong itu sangat sempit dan hanya cukup untuk satu perahu. Banyak perahu di depan Mereka yang sedang mengantri.


"Sutikno, apakah kita hampir sampai?" tanya Subhan penasaran


"Ya, kita harus melewati lorong itu terlebih dahulu, setelah kita melewati lorong, kita akan sampai di desa sebelah" jawab Sutikno pada Subhan.

__ADS_1


"Oh ya, ayok" Kita tak boleh menyerah" Sepertinya untuk melewati lorong ini kita harus berebut" ucap Subhan sambil melihat banyak perahu yang juga menampung banyak orang.


Subhan melihat satu persatu orang yang berlayar dengan perahu mereka. Sayangnya, mereka tak ada yang bertegur sapa sama sekali. Mereka Semua hanya diam dan fokus memasuki lorong yang sempit itu


"Duh, kenapa situasi sepertinya hening?" tak ada yang menyapaku padahal posisi kita berdekatan" ucap Subhan sambil berusaha memanggil orang yang ada di samping nya.


"Pak, apa bapak hendak memasuki lorong itu?" Bapak dari desa mana?" tanya Subhan berusaha bertanya pada sosok bapak setengah tua yang menggendong anaknya


Bapak tua itu tak menoleh ke arah Subhan sama sekali. Seakan Subhan tak pernah ada di samping mereka.


"Sutikno, apa kau melihat gejanggalan?" tanya Subhan pada Sutikno


"Kejanggalan apa Subhan?" tanya Sutikno pendek

__ADS_1


"Lihatlah orang-orang di sekitar kita "Mereka tak menjawab pertanyaan ku" Mereka seakan tak melihatku" tanya Subhan pada Sutikno


Mendengar sahabatnya itu bertanya terus, Sutikno pun menjawab


"Subhan, biarlah mereka seperti itu" Yang kita mau adalah kita cepat sampai ke tepian" Kakek dan nenek mu pasti menunggu kedatangan kita" Entah berapa lama kita meninggalkan desa" Kalau menurut perhitungan ku, kita lebih dari sehari semalam meninggalkan mereka" Mereka pasti cemas" ucap Sutikno pada Subhan.


"Iya benar" Trus apa yang harus aku lakukan ya?" tanya Subhan dengan raut wajah yang sedih


"Lebih baik, kau doakan mereka agar mereka bahagia" Berdoalah pada Tuhan" ucap Sutikno pada Subhan.


"Oh, ya, selama aku berada di desa, aku tak pernah berdoa apapun" Kakek dan nenek tak pernah mengajarkan ku tentang cara berdoa" jawab Subhan singkat


Subhan pun akhirnya berdoa untuk kakek dan neneknya, dan doa itu membuat hati Subhan sedikit tenang.

__ADS_1


Sementara itu, Sutikno terlihat sedikit sedih melihat Subhan berdoa. Dirinya seakan menunggu sesuatu namun tak bisa mengungkapkan nya.


Selesai berdoa, rakit Subhan meluncur ke lorong gelap itu. Di dalam lorong terasa sangat gelap, bahkan Subhan tak melihat wajah Sutikno namun Subhan masih bisa mendengar suaranya


__ADS_2