
Sementara itu, Ustad Saleh rupanya bisa melepaskan diri dari nenek tua itu dan kembali ke raga aslinya. Sebelum kembali ke raga aslinya, ustad Saleh mengalami hal yang sangat berat. Nenek tua itu selalu menarik kaki ustad Saleh agar tak melanjutkan langkah nya.
Untungnya, ustad Saleh mempunyai ilmu batin yang cukup tinggi. Dengan zikir yang diucapkan oleh ustad Saleh, nenek tua itu segera pergi dan tak mengganggunya lagi.
Setelah jiwa ustad Saleh merasuk ke raganya kembali, terlihat jam menunjukkan pukul 04.00 pagi. Ustad Saleh langsung mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat subuh.
"Untungnya, aku bisa lepas dari nenek tua itu" Tapi siapa dia?" gumam ustad saleh dalam hati.
Terlihat ada luka di kaki ustad Saleh seperti bekas cakaran yang mengelilingi kaki itu.
"Apakah ini bekas cakaran nenek tua itu?" Aku harus segera mencari tahu siapa dia" gumam ustad Saleh sambil masuk ke dalam musholla.
__ADS_1
Di tempat lain, Subhan dan Sarto rupanya menunggu kedatangan ustad Saleh yang berjanji akan datang ke rumah mereka pada pukul 10 siang.
Sambil menunggu, Sarto dan Subhan melanjutkan rutinitas nya yaitu menanam jagung di belakang rumah mereka.
"Pak Sarto, apa belakang rumah akan ditanami jagung semua?" tanya Subhan penasaran
"Ya nak" Halaman belakang mau aku tanami jagung semua" Oh ya, bekas makanan mu yang dulu kau bawa dari desa sebelah aku jadikan pupuk di tanah belakang rumah ini" Siapa tahu tanaman jagung ku tumbuh subur" ucap Sarto pada Subhan.
Memang, harga pupuk di desa Sarto terbilang cukup mahal. Sarto biasanya membeli pupuk yang bersubsidi pemerintah. Namun, pupuk yang bersubsidi dijatah oleh pemerintah dan tak boleh beli banyak-banyak. Sarto juga harus menyerahkan fotokopy bukti kartu keluarga yang dimilikinya jika ingin membeli pupuk.
Mendengar perkataan Sarto, Subhan mengangguk saja karena dirinya juga tak paham tentang apa yang diucapkan Sarto. Bagi Subhan, makanan bekas miliknya sudah tak pernah dipikirkannya lagi semenjak ustad Saleh berkata kepadanya akan mengubur bekas makanan itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, tepat jam 10.00 pagi ustad Saleh datang menemui Subhan di rumah Sarto.
"Subhan, bagaimana keadaan mu?" Apakah kau betah di rumah Sarto?" tanya ustad Saleh kepada Subhan
"Oh ya ustad, aku betah disini" Hanya saja, aku ingin pulang ke desa dimana tempatku tinggal bersama nenek dan kakek" ucap Subhan pada ustad Saleh.
Sambil melihat wajah ustad Saleh dari atas sampai bawah, Subhan melihat luka bekas cakaran tangan yang di kaki ustad Saleh.
"Ustad, kaki ustad terluka?" tanya Subhan penasaran
"Iya nak, tapi luka ini tak masalah buatku" Oh ya, aku akan mengajak mu pergi ke desa di mana kau berada. Paling tidak kau akan mengetahui yang sebenarnya setelah aku mengajak mu" Oh ya baju putih mu tak kau pakai nak?" tanya ustad Saleh pada Subhan.
__ADS_1
"Ya ustad, aku akan memakai nya sekarang" mumpung siang hari" Karena jika malam hari, aku takut sekali" ucap Subhan sambil berlari menuju ke kamarnya untuk mengambil jubah pemberian sang kakek tua.
Terlihat jubah putih itu masih tetap tergantung di gantungan belakang pintu kamarnya. Saat Subhan mulai menyentuh jubah putih itu, terasa sedikit panas di tangan Subhan dan hal itu membuat Subhan mulai merinding