
Walau merasa merinding, Subhan memberanikan diri untuk memakai nya dan ternyata setelah memakai jubah itu, Subhan tak merasakan apapun.
Subhan pun langsung menemui ustad Soleh dengan jubah putih yang masih dipakai nya.
"Ustad, lihatlah" Aku sudah memakai jubah putih pemberian dari sang kakek tua kepadaku"
"Tapi, aku tak melihat siapapun dan aku juga tak merasakan keanehan apapun" Sepertinya kakek tua yang pernah aku temui di atas rakit sudah berbohong kepadaku" ucap Subhan pada ustad Saleh.
"Yasudah Subhan, simpan saja jubah putih mu itu mungkin masih berguna buat mu suatu saat nanti" ucap ustad Saleh pada Subhan.
"Hari ini, aku pulang dulu" Aku akan mengabari mu jika kita akan berangkat ke desa tempat mu tinggal" ucap ustad Saleh pada Subhan
"Ya ustadz" jawab Subhan pada ustad Saleh.
Mata Subhan menerawang ke atas dan melihat langit-langit rumah milik Sarto yang banyak sarang laba-laba.
__ADS_1
Sarto emang tidak pernah membersihkan atap rumahnya, karena kesibukannya sebagai petani di desanya.
Tak terasa, waktu sudah malam hari. Subhan tiduran di dalam kamar nya dan malam itu rupanya Subhan tak dapat memejamkan matanya.
Terlihat jubah putih milik nya yang digantung di balik pintu kamarnya berpindah posisi menjadi sedikit aneh.
"Loh, tadi aku menggantung nya di sisi kiri?" Mengapa sekarang berpindah ke sisi kanan?" gumam Subhan sambil berjalan menuju ke belakang pintu kamar nya.
Subhan pun memegang jubah itu dan tak terjadi apa-apa dengannya.
Rupanya, tak sia-sia Subhan memakai jubah itu. Tubuh nya mulai hangat dan tak sedingin kemarin malam.
"Yah, kalau aku tahu fungsi jubah ini sebagai selimut saat aku tidur, pasti jubah ini sudah aku pakai sejak kemarin" gumam Subhan dalam hati.
Subhan pun mulai tertidur lelap karena jubah putih itu menolong nya terhindar dari cuaca dingin.
__ADS_1
Tepat jam 12 malam, Jubah putih itu mulai bergerak sendiri tak tentu arah. dan hal itu membuat Subhan terbangun dari tidurnya. Namun, anehnya mata Subhan terpejam dan tampak berbicara sendiri tak terdengar apa yang dibicarakannya. Mulutnya komat-kamit seakan berbicara dengan seseorang.
Subhan dengan mata terpejam mulai berjalan menuju ke luar kamar. Tangan Subhan mengapai benda yang ada di sekitar rumah Sarto dan hal itu membuat Sarto terbangun dari tidurnya.
"Suara apa malam-malam?" gumam Sarto sambil bangun dan berjalan ke arah ruang tamu.
Terlihat Subhan berjalan sendirian dengan masih memakai jubah putih keluar menuju ke teras rumahnya. Sarto mulai mengejar Subhan dan berencana menghalangi Subhan agar tidak pergi keluar dari rumah. Namun anehnya, tangan Sarto kesulitan untuk menggapai tangan Subhan karena terhalang oleh jubah yang dipakai oleh Subhan.
"Subhan, kau mau kemana?" ini sudah malam nak?" panggil Sarto berusaha memanggil Subhan agar Subhan tak keluar dari rumah.
Usaha Sarto pun gagal membujuk Subhan agar kembali ke dalam rumah. Subhan terus saja berjalan hingga sampailah Subhan ke tepi sungai dimana dirinya dulu terdampar di sana dan ditemukan oleh Sarto dan Hasan.
Suasana malam itu sangat mencekam. Sarto mengamati Subhan dari awal sampai akhir.
"Sepertinya Subhan sedang berbincang dengan seseorang" gumam Sarto sambil terus mengamati segala tingkah laku Subhan
__ADS_1