Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Misteri beberapa cawan


__ADS_3

Di saat Subhan meronta ingin melepaskan diri dari paksaan ustad Saleh agar dirinya pergi dari tempat itu, terlihat cincin biru yang ada di saku bajunya mulai menunjukkan sinarnya. Warnanya sangat terang sehingga membuat mata Subhann silau dibuatnya. Muncullah sosok bayangan hitam di dalam cincin itu. Bayangan hitam itu semakin lama semakin jelas dan mulai menunjukkan wujud nya.


Rupanya, bayangan hitam itu adalah anak keturunan jin jinggo yang telah dikalahkan oleh Subhan dengan menusukkan tombak gaib miliknya.


Bayangan hitam itu menunduk seolah dirinya adalah orang suruhan Subhan yang siap kapan saja membantu Subhan jika Subhan membutuhkan.


Saat Subhan mulai melihat wujud asli bayangan hitam itu, tubuh ustad Saleh dan Sutikno mulai hilang entah kemana


"Loh, dimana ustad Saleh?" tadi dia mencengkeram tanganku?" gumam Subhan sambil melihat ke segala arah. Disaat Subhan mulai bingung, terdengar suara memanggil tepat di telinganya.


"Subhan, Subhan, kenapa kau bicara sendiri?" "Ayo bangun" panggil ayah Subhan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Subhan.

__ADS_1


Subhan sedikit membuka matanya pelan pelan. Terlihat ayahnya sedang berusaha membangunkannya. Wajah cemas sang ayah terlihat sangat mencemaskannya.


"Ayah, aku bermimpi aneh Sekali" Alangkah baiknya, kita semua pergi dari sini sebelum terlambat" ucap Subhan pada ayahnya.


"Loh, kenapa emangnya nak?" tanya sang ayah penasaran


"Ayah, nenek itu sepertinya orang jahat" Ayo kita pergi" Kita keluar dari sini" pinta Subhan pada ayahnya.


"Iya pak, lebih baik kita ikuti perkataan Subhan" Aku juga merasakan hal yang sama dengan nya" Kita pergi dari sini secepatnya" ucap Sarto pada ayah Subhan.


Setelah mereka semua berdiskusi, pada akhirnya mereka berempat sepakat untuk pergi dari tempat itu. Pintu kamar masih terlihat sama seperti tadi. Rumah tetangga yang ada di belakang rumah sang nenek juga sama.

__ADS_1


"Apa kita akan pergi ke rumah tetangga seperti yang kita lakukan sebelumnya?" bapak tau sendiri jika rumah tetangga itu tak bisa kita singgahi" Kita tetap akan terjebak dan masuk ke dalam rumah sang nenek lagi" Lalu bagaimana kita bisa keluar dari sini?" Tanya ayah Subhan pada Sarto.


Sarto melirik ke arah Subhan dan membenarkan apa yang dipertanyakan oleh ayah Subhan kepadanya.


"Gimana kalau kita coba ke arah lain?" Lihatlah ke arah timur?" tak ada rumah penduduk disana" Siapa tahu ada sungai dan kita bisa lanjutkan perjalanan kita?" ucap Subhan pada Sarto


Mereka akhirnya menyetujui ide dari Subhan, dan mulai pergi melalui pintu belakang rumah sang nenek.


Pintu kamar belakang mulai mereka buka, saat Subhan melangkahkan kakinya menuju ke luar rumah, Subhan melihat cincin permata biru yang dipakainya. Subhan ingat betul jika dalam mimpi yang baru saja dia alami, di dalam cincin itu ada bayangan hitam yang muncul tiba tiba.


"cincin ini sepertinya menyimpan suatu misteri" Tapi apa ya?" gumam Subhan sambil terus memperhatikan cincin biru yang dipakainya itu.

__ADS_1


Sementara itu di dalam ruangan khusus, di rumah sang nenek, terlihat nenek tua sedang mengumpulkan berbagai jenis cawan yang beraneka ragam warna. Banyak rintihan terdengar di dalam cawan itu. Namun, sang nenek tetap saja membiarkan dan mengawasi semua cawan miliknya. Pandangan sang nenek sangat tajam. Sepertinya nenek tua itu tahu kalau Subhan dan keluarganya pergi meninggalkan rumahnya secara diam diam


__ADS_2