Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Memulai perjalanan


__ADS_3

"Terimakasih banyak buat teman teman ku yang memberikan vote dan like untuk ceritaku ini" Aku doakan semoga keberkahan rejeki selalu ada untuk kalian dan keselamatan dunia dan akhirat selalu menyertai" Amin amin yarobal alamin.


Pagi hari, tepat nya setelah Sholat subuh, ustad Saleh beserta orang tua Subhan telah ada di rumah Sarto.


Mereka hendak bersiap berangkat ke desa di mana Nenek dan kakek Subhan berada. Subhan juga ingin mengabarkan pada orang tua Sutikno jika Sutikno telah hilang selama perjalanan menuju ke desa dimana Sarto dan ustad Saleh berada.


Dalam hati kecil Subhan, dirinya merasa bersalah dengan orang tua Sutikno karena karena ulahnya, Sutikno jadi hilang.


"Sutikno, gimana jika orang tuamu tau kau telah hilang?" Apakah mereka akan marah kepadaku dan membunuhku?" gumam Subhan. Wajah Subhan sangat murung ketika Sarto mengajak mereka semua untuk berangkat bersama.


"Kalau boleh usul, alangkah baiknya kita berangkat sekarang saja" Takutnya, kita nanti terlambat pulang, mengingat, di peta, tak pernah ada nama desa seperti yang diucapkan Subhan" ujar Sarto pada ustad Saleh maupun ayah ibu Subhan


Mendengar penuturan Sarto, ayah dan ibu Subhan dengan spontan menjawab

__ADS_1


"Pak Sarto, kalau desa teluk meriang memang aku tak pernah mendengar" Kalau saya dulu tinggalnya bukan di desa teluk meriang, melainkan di desa besuko" jawab ayah Subhan


"Lalu, darimana Subhan mendapat nama itu?" apakah dari nenek kamu?" tanya Sarto pada Subhan


"iya pak" Nenek bilang aku sekarang tinggal di desa teluk meriang" Aku ingat betul nenek berkata demikian" ucap Subhan dengan tatapan sangat yakin.


Mendengar penuturan Subhan, ayah dan ibu Subhan mengangguk saja. Mereka berpikiran jika kakek dan nenek Subhan sudah pindah ke desa sebelah karena desa yang ditempati nya dahulu memang desa yang terkena dampak paling parah letusan gunung merapi.


Dengan persiapan yang cukup matang, ustad Saleh, Subhan, kedua orang tua Subhan ditemani Sarto berangkat menuju ke desa teluk meriang, sebuah desa tempat tinggal Subhan.


Di dapur, Rukmini sibuk mempersiapkan makanan yang akan dibawa sebagai bekal di perjalanan nanti.


Sengaja Rukmini memasak lebih banyak menu, agar suami nya dan orang yang ikut dalam perjalanan menuju kedesa teluk meriang tidak kelaparan.

__ADS_1


"Pak, ini bekal untuk perjalanan menuju ke desa" Aku memasak untuk seminggu ke depan"


"Yang sekarang makanan yang cepat basi, dan untuk hari ke dua sampai hari ke tujuh, aku membawakan roti dan air putih dan kopi" ucap Rukmini sambil memberikan sebuah tas besar berisi makanan.


"Ya bu, sudah cukup kok" mungkin kita membutuhkan waktu dua hari untuk pulang pergi" Waktu ini sudah diprediksi oleh ayah dan ibu Subhan" ucap Sarto


"Iya pak, hati-hati di jalan ya?" ujar Rukmini.


"Iya bu" jawab Sarto.. Tak lupa Sarto mencium kening Rukmini.


"Oh ya Subhan, jubah putih mu yang ibu jemur tampak nya sudah kering" Apa perlu kau bawa?" tanya rukmini pada Subhan


"Iya bu, jubah putih nya aku bawa saja" rencana jubah itu mau aku buang ke tengah sungai" gara-gara jubah itu aku jadi bermimpi buruk dan hampir tenggelam di sungai" ujar Subhan

__ADS_1


"Iya nak, ini jubahnya" ucap Rukmini sambil memberikan jubah putih yang sudah di lipat rapi di dalam tas plastik berwarna hitam kepada Subhan.


__ADS_2