
Maap penulis abis aja lebaran ama salam salaman ama mengumpulkann ide jadi agak terhambat penulisan nya..kali ini penulis akan menuliskan cerita sampai tamat..up lebih banyak..maafkan penulis ya..jangan bosan menunggu ceritaku..muach
Saat Subhan mulai kebingungan, lelaki paruh baya itu segera pergi meninggalkan Subhan dan masuk ke dalam kamarnya lagi. Kamar lelaki itu sudah terkunci rapat. Subhan tak sempat mencegah lelaki itu untuk tidak menutup pintu nya. usaha Subhan terlambat dan sia sia belaka. Subhan tak sempat bertanya lebih jauh mengenai misteri yang ada di rumah nenek tua itu.
"Subhan, sudahlah"
"Lebih baik, kita lanjutkan saja perjalanan kita menuju ke ruang paling dalam di kamar ini" Lihatlah lorong itu, sepertinya lorong itu mengarah ke suatu tempat dan tak berujung" ujar ayah Subhan sambil menunjuk ke arah lorong gelap yang ada di depan mereka.
Cincin biru milik Subhan terpancar dengan sangat terang dan hal itu membuat Subhan takjub. Sementara itu anak keturunan jin jinggo yang singgah di dalam cincin mata biru itu mulai keluar dari cincin mata biru tempat nya tinggal. Cahaya biru yang terpancar terus membuat anak keturunan jin jinggo gerah dan kepanasan.
Muncul asap putih dan asap putih itu terlihat jelas oleh Subhan.
"Ayah, ada asap putih keluar dari cincin ku" ucap Subhan sambil terduduk lemas
Ayah Subhan segera melihat kepulan asap itu dan terlihat sosok pria botak dengan moncong putih ada di depan mereka.
__ADS_1
Pria botak itu segera melihat ke arah Subhan yang dia anggap sebagai tuannya.
Pria botak dengan tubuh yang tinggi menjulang mulai menundukkan kepalanya tepat di hadapan Subhan.
"Si si apa kamu?" tanya Subhan sedikit gugup
"Tuanku, aku penghuni cincin mata biru milikmu" Cahaya cincin ini sangat menggangguku sehingga aku keluar tanpa kau pinta" ujar anak keturunan jin jinggo.
"Oh, ya, siapa namamu?" tanya Subhan penasaran
"Aku tak mempunyai nama tuan" jawab anak keturunan jin jinggo.
Wajar saja, saat pertama kali masuk ke dalam cincin milik Subhan, anak keturunan jin jinggo telah lupa jika ayah mereka sudah dibunuh oleh tombak gaib milik Subhan. Cahaya biru dari cincin itu sedikit demi sedikit telah mengikis ingatan sang jin.
"Hem, kalau kau tak punya nama, aku akan memberi nama padamu"
__ADS_1
"Ayah, sepertinya makhluk ini berguna untuk membantu kita keluar dari tempat ini" bisik Subhan pada ayahnya.
"Hem, benar juga katamu Subhan" Berilah dia nama Yang bagus menurutmu saja" ucap ayah Subhan
Subhan terlihat sedang memikirkan sesuatu dan muncullah nama baru yang baru saja dia temukan dalam ingatannya.
"Baiklah, aku akan memberimu nama Zaenal." Jawab Subhan sambil memandang ke arah jin yang saat itu masih berada di depannya.
"Oh ya ya, aku senang tuan" jawab anak keturunan jin jinggo itu.
Seketika, Zaenal mulai berdiri dan bertanya pada Subhan, apa yang harus dia lakukan untuk membantu tuannya itu.
"Tuan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Zaenal. Bagi Zaenal ini adalah tugas pertamanya dari majikan barunya.
"Hem, aku meminta tolong padamu, keluarkan aku dari tempat ini, aku ingin keluar dan pergi ke dunia manusia" Sejak tadi kami semua tersesat di sini" ucap Subhan
__ADS_1