
Subhan merasakan ada perahu lain yang juga berlayar searah dengan perahunya. Terlihat samar-samar dan agak jauh ada perahu usang yang berlayar menuju searah dengan perahu yang ditumpangi nya.
"Ustad, lihatlah" Aku melihat rakit yang sama persis dengan yang pernah aku naiki" Bukan kah rakit itu sekarang masih ada di pinggir sungai desa?" mengapa ada di situ?" tanya Subhan pada ustad Saleh
Ustad Saleh langsung melihat ke arah dimana Subhan memberi petunjuk kepadanya, sementara itu Sarto dan ayah ibu Subhan juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh ustad Saleh.
"Loh, mana nak?" ayah tidak melihat apapun di sana" ucap Ayah Subhan pada Subhan.
"Iya, aku juga tak melihat nya" ujar Sarto penasaran
"Gimana ustad?" apakah ustad melihat nya?" tanya Sarto penasaran
Ustad Saleh hanya diam dan tampak berkonsentrasi melihat hal aneh yang telah dilihat Subhan
"Ya, aku melihat nya" Berdoa saja semoga rakit itu tidak mengganggu perjalanan kita" ucap ustad Saleh pada ayah, ibu Subhan dan Sarto
"Hah?" yang benar" rakit itu hanya bisa dilihat oleh Ustad Saleh dan Subhan saja?" mengapa kami tidak bisa melihat nya?" tanya Sarto penasaran
__ADS_1
"Iya, aku juga tak bisa melihat nya" Apakah ada makhluk gaib yang mengganggu perjalanan kita ya?" tanya ayah Subhan sedikit merasa takut.
"Tenanglah" Sebisa mungkin aku akan melindungi kalian semua" Sekarang berdoa saja semoga kita cepat sampai di desa teluk meriang" ucap ustad Saleh dengan mimik wajah yang tenang.
Subhan yang melihat rakit misterius itu hanya terdiam. Dirinya mencoba menutup matanya dan tak ingin melihat hal itu lagi. Bayangan Sutikno selalu muncul menari-nari di kelopak matanya.
Setelah memejamkan matanya, Subhan berusaha membuka lagi matanya dan rakit miaterius itu kini telah menghilang. Hati Subhan sedikit tenang menyaksikan hal itu karena bagi Subhan Sutikno telah tiada. Jika sampai ada, berati itu adalah arwah Sutikno pastinya.
Perahu yang mereka tumpangi terus berlayar menuju desa teluk meriang. Tampak nya Sarto dan orang tua Subhan mulai tertidur karena hari sudah menjelang siang. Suasana masih cerah. Bekal makanan yang mereka bawa masih cukup untuk satu minggu untuk mereka.
Melihat orang tua nya dan pak Sarto sedang tertidur di perahu, Subhan memberanikan diri untuk bertanya pada ustad Saleh
"Ya, bisa saja asal tidak ada halangan yang berarti" Kamu terburu-buru ingin bertemu nenek mu?" tanya ustad Saleh pada Subhan
"Iya ustad" Aku tak sabar ingin bertemu dengan nenek ku" ucap Subhan jujur
"Ya, itu desa mu sudah terlihat dari sini" ucap ustad Saleh sambil menunjukkan daratan yang memang tak asing bagi Subhan.
__ADS_1
"Oh iya ustad" Aku baru menyadari nya sekarang" jawab Subhan sambil memperhatikan daratan yang ada di depan matanya
Tak terasa perahu yang dinaiki Subhan pun mendarat dengan selamat di pinggir desa itum Suasana terlihat sangat sunyi dan sepi mencekam.
orang tua Subhan dan Sarto mulai terbangun dari tidur nya. Mereka menanyakan apakah mereka telah sampai di desa Subhan.
"Ustad, apakah kita sudah sampai?" tanya Sarto dan orang tua Subhan.
"Ya, kita sudah sampai" Lihatlah" Apakah ini benar desa kalian dahulu?" tanya ustas Saleh pada ayah dan ibu Subhan
Orang tua Subhan melihat dengan seksama suasana desa yang teramat sunyi. Setelah puas melihat ayah Subhan berkata
"Kok sunyi ya?" kalau dulu di sini banyak orang" Dan suasana desa seperti yang sudah tak beroperasi lagi"
"Dik, apa benar ini desa kita?" sepertinya desa ini sangat asing bagi kita" ucap ayah Subhan pada istrinya.
Ibu Subhan akhirnya melihat ke sekeliling.
__ADS_1
"Pak, apa kita salah alamat?" tanya ibu Subhan terkejut