Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Hampir sampai


__ADS_3

Subhan, Sarto dan kedua orang tua Subhan mulai mempercepat langkah mereka. Mereka sangat takut dengan apa yang diucapkan oleh ustad Saleh.


Hingga pada akhirnya, mereka meneruskan perjalanan mereka menuju ke sebuah ladang, dimana Sutikno biasanya bermain bersama Subhan di ladang, Dimana Sutikno selalu berada di sana sebelum Sutikno lenyap ketika menyeberangi sungai bersama Subhan.


Sayup-sayup terdengar rintihan minta tolong yang berasal dari pinggir sungai angker itu.Namun Subhan, Sarto dan kedua orang tua Subhan tak menghiraukan rintihan itu. Mereka tetap fokus pergi menuju ke ladang Sutikno.


Entah mengapa, saat melewati sungai angker pinggir desa, Subhan, Sarto dan orang tua Subhan merasa, pinggiran sungai itu tiada habis nya dan selalu ada. Perjalanan terasa sangat jauh saja. Padahal, dulu ketika Subhan hendak menuju ke ladang bersama Sutikno, Subhan cepat sampai nya ke ladang itu.


"Pak Sarto, kenapa lama sekali kita sampai ke ladang milik Sutikno?" Padahal, aku dulu hanya beberapa menit saja" Ini sudah sangat lama sekali" Peluh ku sudah membasahi tubuh, dan aku sangat lapar" ujar Subhan kepada Sarto


"Iya Subhan, entahlah" Kita ikuti saja ustad Saleh" Coba lihatlah" Ustad Saleh tak terlihat capai sama sekali" Bahkan, kekuatannya masih sama dengan kekuatan anak muda usia 20 an tahun" ujar Sarto sambil terus memperhatikan gerak-gerik ustad Saleh.

__ADS_1


"Yah, nanti aku akan bilang pada ustad Saleh agar kita beristirahat sejenak, sambil minum air" ujar Sarto pada Subhan.


Sarto segera menghampiri ustad Saleh yang saat itu masih terus berjalan menuju ke ladang milik Sutikno


Sambil berjalan, Sarto bertanya pada ustad Saleh mengenai perjalanan mereka yang terasa sangat lama sekali


"Ustad, bagaimana ini?" Subhan sudah kehausan" Apakah kita istirahat sebentar saja?" tanya Sarto pada ustas Saleh.


"Sarto, bersabarlah" Lebih baik kita tetap berjalan dan jangan berhenti" Lihatlah di bawah kaki mu?" Disitu banyak rajut dan jaring -jaring yang menghambat perjalanan mu menuju ke ladang Sutikno.


Mendengar perkataan Ustad Saleh yang tak masuk akal baginya, Sarto mencoba melihat kaki nya dan ternyata benar adanya. Kaki Sarto seperti yang terlilit benang seperti sebuah sarang laba-laba. Tali itu berwarna putih susu dan makin malam makin terasa berat. di kanan kiri kaki Sarto, terlihat bocah kecil berkepala gundul mencoba memainkan benang halus itu di kaki mereka.

__ADS_1


"Hah, wajah bocah kecil ini sangat menyeramkan" gumam Sarto sambil berusaha menutup sedikit matanya.


Sambil melihat ke arah kaki Subhan dan kaki orang tua Subhan, ternyata kaki mereka juga mengalami hal yang sama. Hanya kaki ustad Saleh yang bebas dari gangguan.


"Ustad Saleh?" Kenapa kaki mu tidak di dihalangi oleh benang halus itu?" tanya Sarto penasaran


"Sudahlah Sarto, jangan banyak bertanya" Kuatkan kaki mu dan jangan melihat bocah kecil itu" Mereka akan pergi jika kamu terus berjalan" Jika kamu berhenti, benang itu semakin kuat dan lengket" ujar ustad Saleh pada Sarto.


Mereka akhirnya terus berjalan walau rasa haus menyerang mereka. Hingga pada akhirnya, ladang Sutikno mulai bisa terlihat samar-samar. Perlu beberapa langkah lagi untuk sampai ke sana


Bersambung...

__ADS_1


Hari ini autor ulang tahun, mau adakan give away yang dapat hadiah yang komen terbanyak selama episode ini berlangsung dari awal sampai akhir tak sebut namanya nantik ya..maap baru bisa nulis sekaramg karena tadi malam autor nerima pasien gawat hendak menghadapi ajal..alhamdulillah selamat sampai RSU..yang menang dapat apa ya? autor masih mikir nantik lok disebut namanya kirim alamat nya..via chat di pesan novel ini. Mungkin hadiahnya setelah novel tamat. Aku biasanya mbuat novel gak terlalu panjang.. paling banter bulan depan tamat..pantengin ceritaku ya, terimakasih banyak untuk bulan ini level ceritaku naik berkat kalian. Muga bulan depan bisa naik lagi atau bertahan..


__ADS_2