Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
sang nenek tua


__ADS_3

Subhan mulai duduk di pojok ruang kamar milik sang nenek tua, Sarto berada di pinggir pintu masuk, sedangkan ayah dan ibu Subhan berada di tengah kamar. Tak ada kasur empuk seperti di rumah Sarto. Mereka tidur beralaskan tikar usang milik sang nenek.


Namun, bisa menginap di sana sudah merupakan keberuntungan bagi mereka berempat, karena jika diluar ruangan, rasa dingin terasa di kulit mereka.


"Subhan, apa disini tak ada suara azan?" Sejak tadi aku menunggu itu" ucap Sarto pada Subhan.


"Pak Sarto, aku tak mendengarnya sama sekali" Apa sang nenek hanya sendirian di hutan ini dan tak mempunyai tetangga?" tanya Subhan penasaran


"Sepertinya tidak deh nak, saat bapak memasuki rumah ini, ada beberapa rumah yang berdekatan dengan rumah sang nenek" jawab Sarto sambil membuka jendela kamar


"Tuh, lihat, ada rumah penduduk yang berdekatan dengan rumah ini" Tapi anehnya kok pintu rumah mereka tertutup semua?" tak ada satupun orang yang membuka pintu rumahnya" ujar ayah Subhan penasaran


"Benar juga sih, apa kita keluar rumah sambil melihat rumah tetangga?"tanya Subhan memberikan idenya.


"Ayo kalau begitu, kita keluar sebentar dari sini" Tampak nya nenek tua itu sedang tidur sekarang" ujar Sarto

__ADS_1


Sarto segera membuka pintu kamar yang mereka tempati, disusul oleh ayah dan ibu Subhan. Kali ini Subhan berada paling belakang.


Sementara itu di ruang kamar yang lain, terlihat nenek tua mata satu sedang melakukan kegiatan aneh. Entah apa yang dilakukan. Terlihat nenek tua mulai mengaduk sebuah adonan kue yang diletakkan di atas tungku yang besar.


Perjalanan menuju ke rumah tetangga sang nenek rupanya membutuhkan waktu lama. Rumah yang terlihat dekat seakan menjadi jauh dan tak kunjung sampai.


"Subhan, apa kau tak merasa ada kejanggalan?" sejak tadi kita berjalan, kita tak pernah sampai ke rumah tetangga" Lihatlah kita terus berada di sini terus" ucap Sarto pada Subhan


"Iya, aku juga merasa aneh pak" Andai ada ustad Saleh dan Sutikno di sini, kita tak perlu memikirkan akan hal ini" Mereka sudah pasti mengerti" Aku masih penasaran dengan keberadaan ustad Saleh, semoga ustad bisa menyusul kita disini" ujar Subhan berharap


"Iya, benar nak" Jawab Sarto


"Oh ya, ayo pak" jawab Subhan


Mereka akhirnya berlari kecil menuju ke sebuah rumah kecil yang berada tepat di depan rumah sang nenek mata satu.

__ADS_1


"Hem, akhirnya kita telah sampai di rumah tetangga" Cukup lama kita berjalan dan sepertinya telah menguras energi kita" ucap Sarto sambil melihat ke arah rumah yang tak asing baginya.


"Loh, rumah inu kok mirip dengan rumahnya seseorang ya?" tapi siapa?" gumam Sarto sambil melihat ke arah halaman rumah itu


Sarto berusaha menenangkan pikirannya, sementara itu, Subhan mulai mengetuk pintu rumah dengan penuh semangat.


"Tok tok tok"


"Permisi, apa ada orang di dalam?" panggil Subhan berusaha memanggil sang pemilik rumah.


Tak ada jawaban dari dalam rumah dan ibu Subhan meminta Subhan untuk mengetuk pintu rumah itu lagi.


"Ayo ketuk pintu nya sekali lagi nak" pinta ibu subhan


Setelah subhan mengetuk pintu rumah untuk kedua kalinya, keluarlah sosok seorang nenek dan wajah itu sama persis dengan sang nenek tua yang telah memberinya tempat tinggal.

__ADS_1


"Loh, nenek, kenapa nenek ada di sini?" tanya Subhan terkejut.


Wajah takut cemas menyelimuti mereka


__ADS_2