Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Jiwa yang tergadai


__ADS_3

"Sudahlah, kita tidak perlu memaksa lagi" Sepertinya kita sudah terjebak di dalam kamar ini" Bagaimana kalau kita berjalan masuk ke dalam?" Lihatlah di dalam ada lorong gelap yang panjang?" Aku heran kenapa kamar nenek tua itu sangat lebar sekali" ujar ayah Subhan sambil menoleh ke arah ruang kamar sang nenek.


Mendengar penuturan ayah Subhan, Sarto segera menghentikan aktivitas nya yang dirasa sia-sia.


"Yaudah pak, ayo kita berjalan masuk ke dalam" Siapa tau di dalam ada jalan keluar selain melewati pintu ini" ucap Sarto pada ayah Subhan.


Akhirnya mereka berempat segera menuju ke dalam ruangan. Semakin ke dalam suasana semakin menyeramkan dan gelap gulita.


"Paman, aku tak bisa melihat wajahmu lagi" Disini suasana nya kok sangat gelap?" Taknada lampu penerangan sama sekali" ucap Subhan pada Sarto


"Iya nak, aku juga tak bisa melihat wajahmu, hanya bisa mendengar suaramu saja" Kalau begitu kita berpegangan tangan saja agar kita tetap terus bersama" Ajak Sarto pada Subhan


Subhan pun mengiyakan ajakan Sarto. Di saat mereka semua berjalan pelan-pelan, Subhan teringat akan cincin biru miliknya.


"Oh, siapa tahu cincin biru itu bisa memberikan cahaya agar suasana kamar ini tak gelap lagi" Batin Subhan

__ADS_1


Subhan segera mengambil cincin biru yang ditemukannya di rumah Sutikno.


Saat Subhan mulai memegang cincin biru itu, muncul cahaya biru memancarkan sinarnya sehingga seluruh ruangan di dalam kamar sang nenek terlihat dengan jelas


"Subhan, kok tidak dari tadi kau memakai cincin mu itu?" tanya Sarto pada Subhan


"Ya paman, entahlah" Aku baru ingat sekarang" ucap Subhan meneruskan jalannya diukuti Sarto dan kedua orang tuanya.


Terlihat samar samar beberapa kamar misterius yang ada di dalam kamar sang nenek.


"Gimana kalau kita ketuk saja pintu kamar nomor 2?" Siapa tahu ada orang di dalam dan mereka bisa membantu kita untuk keluar dari tempat ini?" ucap ayah Subhan


"Benar juga ayah, aku jadi penasaran" Sejak tadi aku memanggil nenek tua itu selalu tak ada jawaban hingga saat ini" ujar Subhan pada ayahnya.


Subhan segera mengetuk pintu kamar nomor dua itu berkali-kali dan diikuti oleh ayah Subhan yang ikut serta mengetuk pintu untuk membantu Subhan memanggil penghuni kamar itu.

__ADS_1


"Apa ada orang di dalam?" Hallo?" panggil Subhan sambil mengeraskan suaranya.


Setelah ketukan ke tiga, muncullah seorang pria paruh baya membukakan pintu kamar. Pria itu terlihat sangat tampan namun berwajah pucat pasi.


"Iya, ada apa kamu datang kemari?" Tanya pria paruh baya itu.


"Hem, pak maaf mengganggu" Kami sedang tersesat di sini dan tak tahu jalan keluar dari tempat ini" Apakah kau bisa membantu kami?" tanya Subhan memberanikan diri bertanya pada pria paruh baya itu.


Pria itu terdiam sejenak dan beberapa saat kemudian segera menjawab pertanyaan Subhan


"Aku tak bisa membantu mu nak" sebagian jiwa ku sudah terkurung di sini" ujar lelaki separuh baya itu


"Hah?" jiwa apa maksud nya?" aku tak mengerti" ucap Subhan bingung


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2