Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Kembali ke Desa Sarto


__ADS_3

Ustad Saleh terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari Subhan. Setelah menghela nafas panjang, ustad Saleh lalu berkata


"Nak, kau akan tahu siapa aku setelah kita keluar dari desa ini" Aku manusia biasa sama sepertimu, tapi aku sedikit berbeda dibandingkan kalian semua" ucap ustad Saleh pelan.


Sarto yang semula merupakan tetangga ustad Saleh terkejut kala itu. Bagi Sarto, ustad Saleh tak asing baginya. Namun kali ini ustad Saleh terasa asing baginya setelah melakukan perjalanan menuju ke desa teluk meriang.


"Ustad, apa yang kau maksud ustad? Berbeda dengan kita semua?" Tampak nya selama perjalanan ke desa Subhan, ustad Saleh memang tampak berbeda dari biasanya" ucap Sarto jujur.


"Sudahlah, sekarang kita harus segera keluar dari desa ini" Waktuku tak banyak" Sumur ini harus kita tutup dengan tanah dan di kubur" Sarto tolong ambilkan aku tanah yang banyak, agar bisa menutup sumur ini dan tak menjadi penyakit masyarakat dikemudian hari" ucap ustad Saleh memberi penjelasan


Sarto segera mengambil tanah dengan mencangkul nya, dibantu ayah Subhan yang saat itu baru saja datang ke tempat dimana Subhan, Sarto dan ustad Saleh berada.


Mereka bekerja sama mencangkul tanah hingga akhirnya mereka mendapatkan tanah yang cukup banyak. Tanah itu digunakan untuk menutup sumur sesuai permintaan ustad Saleh.

__ADS_1


"Nah, sudah selesai" Sekarang sumur ini tak mungkin dipakai lagi untuk membuang tumbal pesugihan yang dilakukan ayah Sutikno" ucap ustad Saleh sedikit lega.


Namun, hal aneh terjadi setelah mereka berhasil menutup sumur itu dengan tanah. Terdengar jeritan yang aneh di dalam sumur dan hal itu membuat Subhan terkejut.


"Pak, apakah bapak mendengar jeritan memilukan dari dalam sumur yang sudah ditutup tanah?" tanya Subhan pada Sarto, maupun ustad Saleh.


"Aku tak mendengarnya Subhan, mungkin halusinasi mu saja" ujar Sarto pada Subhan.


"Oh, iya sih, " jawab Subhan.


"Loh, ada apa ustad?" tanya Subhan pada ustad Saleh yang saat itu dalam keadaan terjatuh


"Tidak apa-apa nak" Sekarang sebaiknya kita pergi dari desa ini" Waktu kita tak banyak" ucap ustad Saleh memberi penjelasan.

__ADS_1


"Baiklah ustad, ayo ustad" ajak Subhan.


"Bapak, ibu, ayo kita pergi" Aku melihat gunung merapi yang ada desa mengeluarkan letupan-letupan kecil" Biasanya, nenek ku selalu menyuruh aku untuk bersembunyi di dalam rumah jika ads letupan kecil" Aku tak boleh bermain bersama Sutikno" Kecuali kalau kondisi sudah aman, aku boleh bermain lagi" ucap Subhan pada ustad Saleh dan Sarto.


Mereka semua akhirnya pergi menuju ke pinggir sungai angker dimana Subhan dan Sutikno pertama kali menyeberang melewati sungai itu.


Suasana sungai sangat mencekam. Ketika Subhan dan Sarto hendak menaiki perahu sewa an yang sudah ada di pinggir sungai, tak sengaja Subhan menyentuh tangan ustad Saleh. Tampak nya tangan ustad Saleh terasa dingin, tak sehangat biasanya.


"Ustad, apakah kau sedang sakit?" tanya Subhan penasaran


"Tidak Subhan, aku baik-baik saja" yang penting kita semua selamat saat kembali ke desa seberang" Ayah ibumu telah kembali ke desa dan menemui kakek nenek mu" Mereka pasti tenang di alam sana" ucap ustad Saleh pada Subhan


"Iya ustad" jawab Subhan pendek.

__ADS_1


Mereka semua akhirnya menaiki perahu itu berlayar menyeberangi sungai angker itu. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain sungai itu sebagai jalan penghubung untuk pulang karena Desa Subhan telah dikelilingi oleh sungai angker itu, sehingga apapun yang terjadi mereka harus melewati sungai itu untuk kembali ke desa dimana Sarto dan ustad Saleh tinggal.


__ADS_2