Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Perjalanan pertama


__ADS_3

Maap teman teman dua hari kemarin aku sibuk pasien ku di puskesmas full jadi belum bisa nulis.. Baru hari ini aku libur dua hari dan mau nulis lagi.


Setelah mendapatkan jubah putih dan membawa semua bekal perjalanan, Subhan akhirnya berangkat bersama ayah dan ibunya, diikuti pak Sarto dan ustad Saleh.


Perahu mereka sudah siap di tepi sungai. Perahu yang di sewa ayah Subhan rupanya perahu terbaik di desa itu. Sudah ada mesin sehingga tak perlu mendayung seperti yang dilakukan Subhan dan Sutikno di masa lalu.


Satu persatu mereka pun naik perahu dan lambaian tangan Subhan tak luput dari pandangan Rukmini dan Hasan.


Pak Sarto duduk paling depan sedangkan ustad Saleh duduk di bagian paling belakanh perahu. Sementara itu ayah ibu Subhan dan Subhan sendiri duduk di bagian tengah. Subhan terlihat memegang erat jubah putih pemberian Sang kakek tua tak dikenal.


Perjalanan awal lancar-lancar saja dan air sungai tampak bersahabat pada waktu itu. Subhan menoleh ke kanan dan ke kiri melihat suasana sungai yang tampak biasa. Tiba suatu ketika, terlihat satu batang kayu berada di tengah sungai. Batang kayu itu tampak kokoh berdiri. Sarto yang melihat batang kayu itu tampak menganggukkan kepalanya tanda dia tahu sesuatu.

__ADS_1


Perahu itu akhirnya berlayar mendekati batang kayu yang tertancap di tengah sungai itu. Sarto pun berkata


"Pak, batang kayu itu digunakan sebagai perbatasan desa kami" Sebenarnya, seluruh warga yang ada di desa kami jika mencari ikan di sungai, tak boleh melewati batas kayu itu. Karena menurut sesepuh desa, Kayu itu digunakan sebagai tapal batas Desa" ujar Sarto pada ayah dan ibu Subhan


Ayah dan ibu Subhan tertegun sejenak dan menjawab


"Pak Sarto, desa kami ada di ujung sana" ujar ayah Subhan pada Sarto.


Namun, Subhan hanya diam saja karena Subhan juga sedikit lupa dengan arah desanya.


Ustad Saleh yang berada di belakang perahu terlihat duduk berdoa. Dirinya seakan tahu tempat yang akan dia datangi.

__ADS_1


"Pak Sarto, perbatasan kayu itu sudah semakin dekat, sebaiknya kita berdoa saja karena sudah melanggar amanat sesepuh desa demi mengantarkan Subhan ke tempat tinggal nenek nya" ucap ustad Saleh pada Sarto


Sarto dan ustad Saleh akhirnya berdoa, begitu juga ayah ibu Subhan dan Subhan sendiri. Mereka berdoa dengan kusyuk. Tak terasa perahu mereka telah benar-benar hampir mendekati batang kayu pembatas itu. Saat situasi sudah menegangkan, Subhan membuka jubah putih pemberian sang kakek tua. Subhan dengan cekatan menggantungkan jubah putih itu diatas kayu pembatas. Hal itu membuat Sarto terkejut


"Subhan, jubah putih mu kau letakkan di kayu pembatas?"Untuk apa?" tanya Sarto penasaran


"Ya pak, kayu pembatas ini sangat kecil dan aku kawatir kayu ini mudah hilang dari pandangan ketika nanti kita kembali pulang"


"Jadi lebih baik aku menggantungkan jubah putih ini" Toh jubah ini tak berguna bagiku" Saat aku memakai nya, aku malah tak bisa mengendalikan tubuhku" ujar Subhan pada pak Sarto


"Oh ya, letakkan saja kalau begitu" ujar Sarto pada Subhan

__ADS_1


__ADS_2