
"Pak Sarto, lihatlah itu" ucap Subhan sambil menunjuk ke sebuah rumah tua di dekat ladang jagung yang sudah tak terawat.
"Ya Subhan, apakah itu rumahmu?" tanya Sarto penasaran
"Iya, itu adalah rumahku bersama nenek ku" Lihatlah" Rumahku tak sebagus rumah pak Sarto, dinding rumahku sudah banyak yang bocor" ujar Subhan pada Sarto
"Iya nak, gak apa-apa" Yang penting kamu tetap sehat" jawab Sarto pada Subhan
Sementara itu, orang tua Subhan mulai mengingat-ngingat rumah yang mereka tinggali bersama bapak dan ibu mereka.
"Mas, sepertinya, itu memang benar rumah kita bersama bapak dan ibu kita" Tapi, kenapa rumah nya semakin tidak terawat dan rusak?" Apa bapak dan ibu tidak memperbaiki rumah kita selama sepuluh tahun?" Kelihatan dari jauh rumah itu sepertinya sudah tak berpenghuni" ucap ibu Subhan pada suaminya.
"Ya benar dik" Berarti Subhan memang benar" Ini adalah desa dimana kita berada sekitar sepuluh tahun yang lalu"
"Kamu ingat saat wedus gembel menyerang desa kita?" Seluruh penduduk desa banyak yang kabur melewati sungai karena lahar panas menyerang desa kita"
"Ayah dan ibu kita sudah tua dan tak bisa ikut lari bersama kita" ucap ayah Subhan pada istrinya.
__ADS_1
"Iya mas, ayo kita lihat keadaan ayah dan ibu, semoga sampai sekarang mereka tetap sehat" ucap ibu Subhan dengan penuh semangat.
Mereka semua pun berjalan ke arah sebuah gubuk tua dimana nenek Subhan berada. Sesampai di rumah tua itu, Subhan mengetuk pintu rumahnya dan memanggil nenek nya berkali-kali
"Nek, nenek, aku pulang nek" panggil Subhan sambil mengetuk pintu rumah nya.
Tak ada jawaban dari dalam dan hal itu membuat Subhan penasaran
"Subhan, apakah benar ini rumahmu?" tanya Sarto penasaran
Sementara itu, ayah dan ibu Subhan juga membenarkan perkataan Subhan dan menjelaskan pada Sarto bahwa itu adalah benar-benar rumahnya.
Hanya saja bentuk rumah nya sudah sangat usang dan seperti tak terawat.
"Iya benar pak Sarto" Ini adalah rumah kami saat kami belum merantau ke desa sebelah" ujar ayah Subhan
Sarto manggut-manggut saja dan mulai menoleh ke arah kyai Saleh yang sejak tadi hanya diam tak berbicara sepatah katapun.
__ADS_1
Sementara itu, Subhan yang mengetuk pintu rumahnya mulai tak betah karena sejak tadi tak ada jawaban dari nenek nya
"Aneh, Nenek ku kemana ya?" biasanya siang-siang begini dia ada di rumah" dan nenek ku tak pernah keluar rumah" guman Subhan dalam hati.
Karena penasaran Subhan melihat ladang jagung yang ada di samping rumah. Biasanya kakek nya selalu berada di sana setiap waktu.
"Pak Sarto, tunggu ya?" aku akan ke ladang jagung sebelah rumah" ucap Subhan pada Sarto
Subhan akhirnya berjalan menuju ke ladang jagung milik kakek nya. Sambil memanggil nama kakek nya, Subhan berjalan memutar di sekitar ladang jagung milik kakek nya itu
"Kakek, kau dimana kek?" panggil Subhan
Tak ada jawaban sama sekali dan suasana juga tampak sunyi di ladang itu.
Hingga suatu ketika, Subhan menemukan sebuah tulang belulang manusia yang sudah kering dan ada di sekitar ladang itu.
"Pak Sarto lihat, ada semacam tulang, apakah ini tulang hewan?" tanya Subhan dengan wajah tak mengerti. Wajar saja subhan tak mengerti karena dirinya tak mengenyam pendidikan sekolah dasar sama sekali..
__ADS_1