
Subhan segera meletakkan jubah putih itu di batang kayu pembatas antara desa Sarto dan desa luar wilayah. Ustad Saleh terlihat mengamati tingkah Subhan dan hanya diam seribu bahasa.
Perahu yang dinaiki Subhan dan beberapa keluarganya seketika mulai melewati batas kayu misterius itu.
"Nah, kita sudah melewati kayu pembatas itu" Berati sejak saat ini kita sudah keluar dari desa" ujar Sarto sambil melihat sisi kanan dan kiri sungai.
Tak ada keanehan yang berarti. Kayu pembatas itu kini semakin jauh, dengan jubah putih yang tergantung rapi di ranting itu.
"Semoga saja, jubahku tetap ada sampai aku kembali" ucap Subhan sambil terus melihat kayu pembatas itu hingga jauh.
Sepanjang perjalanan, suasana sangat cerah. Sesekali orang tua Subhan melihat arah desa mereka yang dulu pernah mereka lewati. Walau sudah lupa, tapi sedikit banyak mereka lumayan ingat arah menuju desa dibandingkan dengan Subhan.
Di tengah perjalanan, Terlihat ustad Saleh mematikan mesin perahu sehingga perahu yang dinaiki mereka tiba-tiba saja mati dan tak bergerak cepat. Karena penasaran, Subhan bertanya pada ustad saleh
"Ustad, kenapa kok mesin nya dimatikan?" perjalanan kita masih panjang" Tak ada daratan yang aku lihat" ucap Subhan sambil menoleh ke segala arah sungai.
__ADS_1
"Ya nak, Sengaja aku matikan karena, aku melihat ayah ibumu sudah lapar" Lebih baik kita makan dulu" ucap ustad Saleh pada Subhan.
"Oh iya ustad" entah mengapa perutku terasa tidak lapar" ujar Subhan sambil tersenyum.
Akhirnya Sarto, Subhan dan orang tua Subhan memakan makanan yang dibawanya dari desa mereka. Terlihat Sarto memakan makanan sangat lahap sekali, begitu juga dengan ayah dan ibu Subhan.
Sesudah mereka menghabiskan makanan mereka, ustad Saleh berkata
"Sepertinya cuaca sudah mulai tidak mendukung" ucap ustad Saleh pada Sarto
"Iya benar ustad" Sepertinya akan turun hujan" Tapi tenang ustad" Aku sudah membawa mantel dan cukup untuk kita berlima" ucap Sarto pada ustad Saleh.
Akhirnya mereka semua menggunakan mantel untuk melindungi tubuh mereka dari guyuran hujan yang sebentar lagi akan turun.
"Ustad, sampai kapan kita tiba di desa nya Subhan?" Sejak tadi saya belum melihat daratan" ucap Sarto sambil melihat ke sekeliling sungai
__ADS_1
Perahu tetap berlayar dengan lancar hingga suatu ketika sampailah mereka di suatu persimpangan sungai. Ada dua aliran di sana dan hal itu membuat ayah dan ibu Subhan kebingungan.
"Ustad, sampai ke dua cabang aliran ini, kami berdua sudah lupa harus ke arah mana kita meneruskan perjalanan" Kami sudah sepuluj tahun tidak melewati jalan ini lagi" Apakah kita ke arah kiri atau kanan" ucap Ayah Subhan pada ustad Saleh.
Ustad Saleh pun meminta mereka berdua menuju ke arah kanan, karena menurut filing nya, arah kanan adalah arah desa dimana Subhan berada
"Arahkan perahu ke arah kanan saja" ujar ustad Saleh pada Sarto yang saat itu bertugas mengemudikan perahu
Subhan yang duduk di sebelah ustad Saleh berkata
"Nah, persimpangan ini yang sepertinya dulu pernah aku lewati" Aku pernah melihat ibu-ibu membawa anaknya berlayar ke arah kiri atau kanan aku sudah lupa" terus aku bertemu pak tua juga di sini" ucap Subhan mencoba mengingat kejadian yang pernah dia alami saat berlayar bersama Sutikno.
"Ya nak, sekarang kamu sudah lupa" Jadi kita ikuti kata hati saja" Kita lewat ke arah kanan saja ya?* ucap ustad Saleh pada Subhan
"Yaudah ustad" Aku ngikut saja" Yang penting aku bisa bertemu dengan nenek" ucap Subhan pada ustad Saleh.
__ADS_1
Perahu itu akhirnya berlayar menuju ke arah kanan sesuai petunjuk ustad Saleh. Keanehan pun terjadi. Subhan seperti merasakan getaran yang hebat dalam tubuhnya Subhan merasakan kehadiran Sutikno di sana..