
"Bagaimana dengan tombak itu ustad?" Kita belum menemukannya" ujar Subhan mengingatkan ustad Saleh.
"Ya, sebelum kerumah Sutikno, aku akan mencari tombak itu terlebih dahulu"Minggirlah dulu" Jangan mendekati aku selama aku mencari tombak itu" Lebih baik, kalian semua tunggu aku halaman rumah Subhan" ujar ustad Saleh pada Sarto
"Baiklah kalau begitu" Kami tinggal dulu ustad" Semoga tombak itu segera ditemukan" ujar ayah Subhan berharap.
Setelah berkata demikian, ayah Subhan, dan istrinya pergi meninggalkan ustad Saleh disusul oleh Subhan dan Sarto.
Terlihat ustad Saleh duduk bersila sambil memejamkan mata.
Kepala ustad Saleh menunduk, dan dirinya mulai melakukan rogoh Sukmo. Saat rogoh Sukmo berlangsung, terlihat tubuh ustad Saleh bergetar hebat dan seakan mau melayang ke udara. Cahaya putih memutar di sekitar tubuh ustad Saleh. Hal itu disaksikan oleh Subhan, Sarto dan kedua orang tua Subhan.
"Cahaya apa itu?" Kenapa dengan tubuh ustad Saleh?" Apakah sebaiknya kita membantu ustad Saleh?" tanya Sarto pada ayah Subhan.
"Pak Sarto, tadi ustad Saleh sudah meminta kita untuk menunggu dia di luar dan jangan mendekati tubuhnya" Kita lihat saja apa yang terjadi selanjutnya" ujar ayah Subhan pada Sarto.
__ADS_1
Sarto akhirnya terdiam dan membenarkan ucapan ayah Subhan. Dirinya juga mendengar ucapan dari ustad Saleh sebelum ustad Saleh bersemedi.
Waktu terasa cukup lama dan mereka dengan setia menunggu ustad Saleh membuka matanya kembali.
Di alam gaib, ustad Saleh berjalan memutar di sekitar rumah nenek Subhan. Ternyata di rumah nenek Subhan dihuni beberapa jin dan anak keturunan mereka. Wajah mereka sangat menyeramkan dengan tangan menjuntai panjang ke bawah.
Saat ustad Saleh masuk ke dalam alam mereka, terlihat salah satu jin yang paling tua menyambut kedatangan ustad Saleh itu.
"Kisanak, ada apa kau datang ke tempat kediaman kami?" Bukankah kau manusia?" Bau tubuhmu tercium dari sini" ujar jin laki-laki setengah tua yang bernama Jinggo.
"Ya, tombak itu adalah rumah kedua kami" jawab Jinggo pendek.
"Baguslah, aku ingin mengambil rumah itu sekarang" Apa kau rela?" tanya ustad Saleh pada Jinggo.
"Tentu saja tidak boleh" Jika kau ambil rumah itu?" Kami akan tinggal dimana?" kau mengusir kami?" Atau kau boleh ambil rumah ini, tapi kami tetap berada di dalam rumah ini" jawab Jinggo ketus.
__ADS_1
Mata Jinggo terlihat memerah dan mulut jinggo terlihat seperti hendak memakan mentah-mentah tubuh ustad Saleh.
Semakin lama tubuh Jinggo semakin membesar dan siap menerkam tubuh ustad Saleh.
Dengan wajah yang tenang, ustad Saleh mulai berkonsentrasi dan berdoa dengan kusyuk.
Jinggo dengan tatapan yang semakin beringas mulai menyerang ustad Saleh yang saat itu sedang berdoa.
"Kreeekkkk" Jinggo mulai menyobek baju yang dipakai oleh ustad Saleh dengan menggunakan kukunya yang panjang
Karena cakaran itu, baju ustad Saleh sobek dan darah ustad Saleh menetes.
"Pak tua, jangan coba mengambil rumahku" Ini adalah rumahku" Jika kau tetap memaksa, aku akan membunuh mu" ujar jin jinggo kesal.
Walau terluka, ustad Saleh tetap berdoa dengan kusyuk hingga jin jinggo mengeluarkan asap dari atas kepalanya
__ADS_1