
Mereka berempat pun berjalan menyusuri jalan setapak yang ada di tanah merah itu. Suasana di tanah merah berbeda dengan desa lain. Daerah itu terlihat sunyi seperti tak berpenghuni.
Cincin yang ada di saku Subhan rupanya mulai memancarkan cahayanya dan terlihat oleh Sarto.
"Subhan, ada cahaya apa di saku bajumu?" kok seperti berkilau begitu?" warna biru?" Tanya Sarto penasaran
"Oh ya pak, ini adalah cincin mata biru yang aku temukan di rumah Sutikno" Aku menyimpan nya di saku bajuku, siapa tahu ini akan berguna buat ku" ucap Subhan pada Sarto
"Oh ya kalau begitu pakai saja cincin nya, siapa tau cukup buat mu" ucap Sarto pada Subhan.
Subhan akhirnya mulai memakai cincin mata biru itu, dan setelah memakai cincin itu, keanehan pun terjadi.
Anak keturunan jin jinggo yang merasa nyaman di tombak gaib mulai bergerak naik ke ujung tombak. Seperti nya jin itu merasakan hawa panas yang menembus kulit nya.
Muncul asap dari tombak gaib milik Subhan, dan ternyata asap yang muncul tak begitu terlihat oleh Subhan, Sarto dan ayah ibu Subhan.
__ADS_1
Asap itu tiba-tiba saja menghilang tak berbekas, dan berpindah ke dalam cincin yang dipakai oleh Subhan
Mereka terus berjalan hingga sampailah mereka di rumah penduduk. Rumahnya sangat sederhana dan hanya dibuat dengan bahan kayu saja.
"Ayo kitq ketuk pintunya, kayaknya ada orang di dalam" ucap Sarto pada Subhan
Subhan akhirnya mengetuk pintu rumah kayu itu, dan tiba-tiba muncullah seseorang dari dalam rumah.
Terlihat sosok nenek tua yang bungkuk, dan bermata satu. Sang nenek tua mulai bertanya pada Subhan maksud kedatangan mereka berempat ke rumahnya
"Ada apa kisanak datang ke rumahku?" tanya sang nenek pada Sarto. Tatapan sang nenek sangat tajam hingga membuat Sarto begidik ngeri.
"Oh iya, apakah kau butuh tumpangan menginap?" tanya sang nenek pada Subhan
"Iya nek, kami disini kedinginan" jawab Subhan pendek.
__ADS_1
"Ayo masuklah kalau begitu" jawab sang nenek pada Subhan. Setelah mendapatkan persetujuan dari nenek tua mata satu, Sarto, Subhan dan kedua orang tua Subhan ikut masuk ke dalam rumah kayu itu.
Suasana rumah kayu itu sangat aneh. Banyak hiasan rumah berasal dari tulang belulang dan hewan, mulai dari kulit harimau maupun kulit ular. Kulit hewan itu dipajang di dinding rumah sang nenek.
Subhan melihat ke arah lantai rumah, dan lantai rumah nenek tua terlihat sangat kotor. Banyak berserakan barang tak berharga di lantai.dan belum dibersihkan.
"Nek, barang ini apakah tidak dibuang saja?" tanya Subhan pada sang nenek
"Kalau mau dibuang, ayo saya bantu" tanya Subhan menawarkan diri.
Mendengar ucapan Subhan, wajah nenek tua yang semula biasa saja sedikit sinis, seakan ingin memakan Subhan. Melihat wajah sang nenek berubah, Subhan terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya.
Sarto mulai mencolek bahu Subhan agar Subhan tak terlalu cerewet pada sang nenek itu.
Hingga pada akhirnya sampailah mereka disebuah kamar yang tersedia dalam rumah itu.
__ADS_1
"Kalian boleh tinggal disini" Tempat nya cukup untuk kalian berempat" ucap sang nenek. Setelah berkata demikian, nenek tua mata satu mulai meninggalkan mereka berempat berada di dalam sebuah kamar itu.
Kamar itu terlihat remang remang, hanya ada cahaya lilin yang menerangi kamar itu