
Subhan semakin heran melihat sebuah tulang tengkorak yang ada di gundukan tanah itu. Tengkorak itu memakai baju merah dan jenis baju yang dipakai tengkorak itu persis dengan baju yang selama ini dipakai oleh Sutikno.
Subhan ingat betul jika baju itu yang selalu dipakai oleh Sutikno. Mulai dari kantong baju yang ada di sisi kanan, kancing baju berbentuk bulat dan desain nya tak ada yang berbeda sama sekali dengan baju yang dipakai oleh Sutikno.
"Ustad Saleh, lihatlah, ini baju yang dipakai Sutikno selama hidup. Kenapa ada disini dan dipakai oleh tulang ini?" Apa aku tidak salah lihat?" tanya Subhan penasaran
Ustad Saleh yang ada dibelakang Subhan menjelaskan semua misteri yang ada di desa itu dan hal itu membuat Subhan tertegun. begitu juga dengan Sarto dan kedua orang tua Subhan. Mereka semua terdiam seribu bahasa
""Ketahuilah Subhan" Desa ini sudah tak berpenghuni sejak 10 tahun yang lalu" kau adalah satu-satunya manusia yang masih hidup di desa ini" ujar Ustad Saleh memberikan penjelasan.
"Loh, memangnya, aku hidup sedirian sejak bayi?" Kan tidak mungkin ustad" Siapa yang memberi makan setiap harinya kalau bukan nenekku?" Dan aku bisa hidup sampai sekarang" Apakah ustad Saleh sedang bercanda denganku?" tanya Subhan serius
"Subhan, dengarkanlah" Kau harus sadar jika kau hidup sendirian selama sepuluh tahun " Sekarang ayo kita pergi dari tempat ini, karena walau nenek dan kakek mu telah tiada, roh mereka masih terhalang untuk masuk ke alam barzah" Ada beberapa makhluk peliharaan kakek mu yang saat ini menguasai roh kakek dan nenek mu, ujar ustad Saleh pada Subhan.
"Aku semakin tak mengerti ustad" jawab Subhan pada Ustad Saleh
__ADS_1
"Ya, kau belum mengerti, aku akan menjelaskan nya pada ayah dan ibumu" ujar ustad Saleh sambil memandang ke arah orang tua Subhan.
"Pak, apakah dulu ayah dan ibu bapak mempunyai peliharaan jin di rumah?" semacam perewangan?" tanya ustad Saleh pada ayah dan ibu Subhan
"Iya pak ustad, ada suatu pusaka yang tersimpan di belakang rumah"Semacam tombak" itu berguna agar panen kami selalu berhasil" ujar ayah Subhan
"Tapi sepertinya saat kami berada di rumah kami, kami berdua tak melihat tombak itu lagi" Apa tombak itu terbawa arus sungai, karena sepertinya, saat gunung merapi meletus, lahar panas melewati rumah kami" Aku semakin heran juga karena Subhan yang saat itu masih bayi selamat dari bencana ini" ucap ayah Subhan pada Ustad Saleh.
"Ya, sebelum kita pergi dari desa ini, alangkah baiknya kita mencari tombak itu, di rumah almarhum nenek Subhan" ujar ustad Saleh pada ayah Subhan.
"Bagaimana dengan jasad Sutikno?" apakah kita kubur di ladang ini?" tanya Sarto pada ustad Saleh.
"Ya, kita kuburkan saja dan kita doakan" Semoga Sutikno tenang di alam nya" jawab ustad Saleh.
Akhrinya sebelum mereka semua pergi meninggalkan ladang, mereka mulai menggali sebuah lubang kubur untuk menguburkan jasad Sutikno yang kini hanya tulang belulang.
__ADS_1
Sambil berjalan menuju ke rumah Subhan lagi, ustad Saleh berkata pada Subhan mengenai Sutikno.
"Oh ya Subhan, sebenarnya, Sutikno telah meninggal saat gunung merapi meletus" Aku sudah menerawang dari sini" Saat gunung merapi meletus, Sutikno berada di ladangnya. Dia meninggal tepat di usia sepuluh tahun" ucap ustad Saleh pada Subhan
Mendengar ucapan ustad Saleh, Subhan bertanya lagi pada ustad Saleh
"Berarti, sebenarnya, usia Sutikno dengan ku berbeda?" Dia lebih tua sepuluh tahun dari aku?" Karena dia telah meninggal di usia sepuluh tahun?" Sedangkan saat gunung meletus aku masih bayi?" tanya Subhan pada ustad Saleh
"Ya" Kau benar" Arwah Sutikno masih berada di sini dan dia melihatmu" ujar ustad Saleh pada Subhan
Subhan menoleh kekanan dan kekiri, tak ada siapapun disampingnya
Walau mata batin Subhan sudah terbuka, namun untuk melihat roh Suci, dirinya belum bisa. Subhan hanya bisa melihat beberapa makhluk yang tak kasat mata, namun sebatas remang remang dan kemudian menghilang..
Terasa hangat di pundak Subhan seperti ada yang menepuk. "Apakah kau Sutikno?" gumam Subhan sambil berusaha merasakan sentuhan lembut itum
__ADS_1