Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
jubah putih


__ADS_3

Setelah Subhan dan Sarto mulai meletakkan tangannya di sungai misterius itu, cuaca dingin ekstrim mulai terasa di tubuh mereka masing-masing. Rasa dingin yang awal nya dirasakan di tangan mereka mulai merasuk ke seluruh tubuh dan menembua tulang. Hingga akhirnya wajah Subhan terlihat pucat begitu juga dengan Sarto.


Ayah dan ibu Subhan yang melihat hal itu seketika terkejut dan bertanya pada Subhan mengenai apa yang telah mereka rasakan setelah menyentuh air sungai itu.


"Nak, kenapa dengan kamu?"Wajahmu kok pucat?" pak Sarto juga pucat"? Tanya ayah Subhan pada Subhan.


Dengan bibir yang bergetar, Subhan menjawab pertanyaan ayahnya itu


"Entah kenapa mulut ku sangat berat untuk berbicara dan badan ku terasa sangat dingin" jawab Subhan dengan suara yang terbata-bata


Sementara itu, Sarto terlihat kedinginan sama seperti Subhan.


"Iya pak, aku juga merasakan kedinginan yang sama dengan yang dirasakan oleh Subhan setelah aku mencelupkan tangan ku ke dalam sungai ini" ujar Sarto pada ayah Subhan.

__ADS_1


Sarto mulai terbatuk batuk dan wajahnya terlihat sangat kaku.


Keadaan sungai mulai gelap gulita. Mereka tak tahu arah dan harus kemana mereka akan menepi. Hingga suatu ketika disaat kedinginan hampir menusuk jantung mereka, jin zaenal terbang berputar di sekitar rakit yang mereka naiki.


Tampak keringat jin zaenal bercucuran karena terbang di atas sungai angker itu ternyata cukup menguras tenaganya.


Setelah berhasil turun ke rakit, jin zaenal menceritakan semua yang dilihatnya.


"Tuan, aku akan menemanimu sampai ke tepian, tapi aku minta padamu simpan lah aku di dalam cincin mu" Energi gaib yang ada di sungai ini semakin lama akan semakin menyedot tubuh ku" ucap jin zaenal pada Subhan


"Pak Sarto, mendekat lah padaku" aku sudah mulai merasakan rasa hangat" ucap Subhan pada Sarto


Sarto mulai mendekati Subhan dan dirinya mulai merasakan hangat di sekujur tubuh nya.

__ADS_1


"Alhamdulillah nak, tubuh ku sudah mulai hangat" Ucap Sarto kegirangan.


Jin Zaenal yang berputar di atas rakit mulai masuk ke dalam cincin biru milik Subhan. Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan pulang dengan memakai cahaya cincin biru milik Subhan.


Terasa suasana sungai semakin mencekam. Banyak pasang mata yang melihat perjalanan mereka dan mereka tak dapat melihatnya, hanya merasakan rasa yang tak nyaman saja. Rasa lapar tak begitu dirasakan oleh mereka. Hingga akhirnya sampailah mereka berempat di perbatasan antara negeri jin dan manusia.


Tampak jubah usang mirip jubah putih milik Subhan masih tertancap di batang kayu yang dulu pernah dijadikan penanda oleh ustad Saleh.


Pak, lihat pak, ada jubah usang?" mirip aekali dengan jubah putih milikku yang aku letakkan di perbatasan sungai?" ucap Subhan sambil menunjuk ke arah sebatang kayu pembatas yang di situ ada jubah yang masih tertancap dengan kuat.


Sarto yang tak mempunyai tenaga segera berdiri melihat apa yang dilihat oleh Subhan, begitu juga dengan ayah dan ibu Subhan


"Oh, iya benar" Itu sepertinya jubah putih milik Subhan" Disini ustad Saleh berpisah dengan kita" ujar ayah Subhan dengan perasaan yang senang.

__ADS_1


Subhan akhirnya mengarahkan rakit nya ke sana dan mulai memegang jubah usang itu. Dengan teliti, Subhan mengamati jubah usang itu dan membandingkan dengan jubah putih yang pernah dia tinggalkan di sana


__ADS_2