Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Suasana Desa


__ADS_3

"Sepertinya iya bu" Tapi kata Subhan ini memang benar-benar desa kita kok" Sudahlah ayo kita singgah di desa ini dulu" Tak ada salahnya kita melihat suasana desa" ucap ayah Subhan pada istrinya.


"Iya juga sih" Ayo kalau begitu kita turun" jawab ibu Subhan


Perahu yang dinaiki mereka akhirnya berada di pinggir sungai. Sarto Subhan dan ustad Saleh terlebih dahulu turun dari perahu disusul oleh kedua orang tua Subhan.


Suasana sungai tetap sama seperti Subhan meninggalkan sungai itu.


"Ya, ini benar-benar sungai yang pernah aku tinggalkan bersama Sutikno waktu itu" gumam Subhan sambil mengamati daerah sekitar nya.


Terlihat jalan setapak yang sudah ditumbuhi rerumputan dan hampir tak terlihat lagi. Padahal dulu Subhan sering melewati jalan setapak itu.

__ADS_1


"Hem, jalan ini biasanya sangat lebar dan tak berumput" Kenapa sekarang kok rumput nya sangat tinggi?" Dan jalannya juga sangat kecil?" gumam Subhan sambil terus mengamati jalan setapak yang menjadi jalan utama kemanapun dia pergi.


Sambil terus berpikir keras, Subhan berusaha menenangkan dirinya dan menganggap bahwa jalan sempit yang ditumbuhi rumput liar merupakan hal wajar karena Subhan tak tahu berapa lama dirinya meninggalkan desa itu. Namun yang masih janggal adalah usia Subhan dan tubuh Subhan tak berubah banyak. Itu tandanya Subhan hanya sebentar meninggalkan desa nya.


Saat kebingungan melanda pikirannya, Subhan mencoba mengalihkan pikirannya dengan bertanya pada ustad Saleh mengenai Sutikno.


"Ustad, saat aku bersama Sutikno, aku selalu lewat jalan setapak itu" Jalan itu yang menghubungkan rumahku dengan ladang milik Sutikno" Aku harus bagaimana?" Orang tua Sutikno pasti sedang menunggu nya di rumah, sedangkan aku pulang ke desa ini tanpa membawa Sutikno" ujar Subhan. Air mata Subhan mulai menetes tak kala mengingat sahabatnya itu.


Sutikno yang identik menggunakan baju merah dan tak pernah ganti baju selama bermain dengan nya, selalu terngiang di kepala Subhan dan sulit hilang.


"Lewat jalan setapak itu ustad" Aku sering lewat jalan setapak itu bersama Sutikno jika ingin pergi ke ladang ataupun ke sungai ini" Jawab Subhan pada ustas Saleh

__ADS_1


"Yaudah, kita lakukan perjalanan menuju me kediaman nenek mu" Kamu berjalanlah paling depan, setelah itu, Sarto dan ayah ibumu yang menyusul" Sedangkan aku akan selalu berada di belakang kalian" ujar ustad Saleh pada Subhan.


Subhan menganggukkan kepalanya dan berkata


"Baiklah ustad" Ayo kita mulai melakukan perjalanan ini" Rumah ku dari sungai ini tak begitu jauh, jadu ustad Saleh tak perlu kawatir " ucap Subhan pada ustad Saleh.


Ustad Saleh hanya tersenyum saja mendengar penuturan dari Subhan. Wajah ustad Saleh seakan tahu apa yang akan terjadi. Hanya saja ustad Saleh belum pernah menyampaikan hal itu pada Subhan Sarto dan ayah ibu Subhan.


Subhan akhirnya mulai berjalan terlebih dahulu disusul Sarto dan ayah ibunya. Saat kaki Subhan mulai menginjakkan kaki nya di tanah desa teluk meriang, rasa merinding mulai dirasakan oleh Subhan. Biasanya dia tak pernah setakut itu.


Pijakan kaki Subhan terasa aneh karena bagi Subhan, jalanan itu dulunya keras dan tak becek, namun saat ini, jalanan itu menjadi sangat becek dan berlumpur sehingga Subhan ,Sarto dan ayah ibu Subhan kesulitan untuk melangkah kan kaki mereka.

__ADS_1


Namun hal yang dialami oleh Subhan, Sarto dan orang tua Subhan sangat berbeda dengan yang dialami ustad Saleh. Segala sikap ustad Saleh sangat aneh ketika berjalan bersama mereka. Ustad Saleh tampak sangat mudah berjalan di atas lumpur itu.


Subhan mulai menoleh kebelakang dan melihat cara ustad Saleh berjalan.


__ADS_2