Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Ustad Saleh berbicara


__ADS_3

Sarto berlari kecil menuju ke tempat dimana ustad Saleh berada. Namun Sarto sedikit heran ketika dirinya menemui ustad Saleh. Wajah ustad Saleh yang biasanya tersenyum jika bertemu dengan nya kali ini menatap nya dengan garang dan tak tersenyum sama sekali.


Namun, Sarto berusaha memahaminya karena saat ini kondisi nya berbeda. Mereka semua berada dalam kondisi genting dimana banyak misteri yang harus mereka pecahkan.


Saat Sarto sudah bisa mengontrol rasa takutnya, Sarto mulai memberi tahu ustad Saleh tentang keanehan yang telah terjadi di kamar Subhan.


"Ustad, di dalam kamar Subhan ada potongan tulang belulang dan aku sangat yakin jika tulang itu adalah tulang manusia" ujar Sarto pada ustad Saleh


Mendengar perkataan Sarto, ustad Saleh menjawab dengan berkata


"Baiklah, ayo , antar aku ke sana" jawab ustad Saleh pada Sarto

__ADS_1


Ustad Saleh dan Sarto akhirnya pergi ke dalam kamar Subhan dan menemui Subhan yang saat itu masih diliputi rasa takut akan beberapa hal yang baru saja ditemukannya.


Setelah sampai di dalam kamar Subhan, terlihat Subhan duduk di dekat tulang belulang entah tulang belulang milik siapa itu.


Dengan kemampuan batin yang dimiliki, ustad Saleh segera menerawang jauh guna melihat kerangka siapakah itu.


Ustad Saleh langsung duduk bersila dihadapan Subhan dan orang tua Subhan. Sementara itu Sarto melihat ke arah kiri dan kanan kamar Subhan.


"Ustad, apa yang ustad Saleh lakukan?" tanya Subhan penasaran


"Subhan, diamlah sebentar" Aku akan mencari tahu apa yang terjadi" jawab ustad Saleh

__ADS_1


"Kalian peganglah tanganku, dan pejamkan mata kalian semua" pinta ustad Saleh pada Subhan, Sarto dan kedua orang tua Subhan


Mereka semua akhir nya menuruti permintaan ustad Saleh. Mereka ikut duduk di samping ustad Saleh dan bersila. Mata mereka semua terpejam. Satu Tangan mereka yaitu tangan kanan memegang bahu ustad Saleh yang saat itu lebih dahulu memejamkan matanya.


Saat semua mata terpejam, jiwa ustad Saleh masuk ke dalam sebuah lorong gelap diikuti oleh jiwa Subhan, Sarto dan kefua orang tua Subhan. Mereka telah memasuki sebuah tempar dimana disitu adalah perbatasan antara alam gaib dan alam manusia.


Saat mereka membuka mata mereka, Mereka melihat sebuah desa yang sangat ramai sekali. Mereka semua berada di kerumunan orang yang berlalu lalang berbelanja di pasar.


"Loh, kita ada di mana ustad Saleh?" tanya Subhan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Desa itu tampak tak asing baginya. Rasa penasaran itu bukan hanya dimiliki oleh Subhan saja, melainkan bagi Sarto dan kedua orang tua Subhan.


"Sarto, Subhan, peganglah punggung ku sebelah kiri, dan bapak, ibu penganglah punggung ku sebelah kanan" Jangan sampai terlepas ya?" ucap ustad Saleh pada mereka berempat

__ADS_1


Mereka berempat pun akhirnya memegang punggung ustad Saleh tanpa bertanya apapun lagi. Mereka semua melihat gambaran yang sangat nyata. Mereka juga bisa mendengar perbincangan antar penduduk yang berlalu lalang di desa itu.


"Untuk sementara waktu, kalian berempat cukup diam dan perhatikan saja" Jangan bertanya dahulu, karena pertanyaan kalian akan membuat kita berada di sini lebih lama dari seharusnya dan menghambat kita untuk kembali di alam nyata" Ini adalah masa sepuluh tahun yang lalu dimana ayah dan ibu Subhan pergi mengungsi meninggalkan desa" Jika ada suara dentuman apapun, kalian harus kuatkan diri dan jangan sampai goyah melepaskan pegangan tangan kalian" ujar ustad Saleh memberi penjelasan.


__ADS_2