Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Maunya sang dedemit


__ADS_3

"Ha ha ha" Yang aku mau, aku ingin anak ini memberikan makanan masakan nenek nya untuk ku" Saat perjalanan menuju ke desa ini, dia telah memakan makananya" Walau tak sampai habis, dan ada sisa makanan, aku tak bisa memakannya lagi karena bekas di jilat olehnya" ujar demit pada ustad Saleh


"Oh, permintaan mu akan sangat sulit terwujud" Tapi, tenang saja, aku akan memberikan nya kepadamu" Berilah aku waktu" Tapi, aku minta, kau jangan mengganggu bocah ini selama sebulan" Sementara waktu, aku akan memberikan mainan untuk mu" ucap ustad Saleh sambil mengambil sesuatu di kantong bajunya.


Sebuah permen berwarna merah diberikan oleh ustad Saleh kepada dedemit itu dan tampak nya, dedemit itu merasakan kesenangan yang luar biasa.


"Wah, apa ini ustad?" tanya dedemit pada ustad Saleh


"Ini permen warna merah, mungkin akan habis jika kau makan selama seminggu" Nanti aku akan memberikan makanan masakan nenek Subhan untuk mu" Sekarang pergilah dari sini dan jangan ganggu Subhan untuk sementara waktu" pinta ustad Saleh pada sang dedemit

__ADS_1


Sang dedemit itu pun mengangguk setuju. Setelah itu, dedemit itu langsung menghilang hingga tak terlihat lagi.


Setelah dedemit itu menghilang, terlihat wajah Subhan mulai sedikit sumringah. Beban berat di punggung nya terasa lebih ringan dibanding sebelumnya.


"Loh, kenapa badanku lebih enteng ya?" Aku bisa melakukan aktivitas ku lebih ringan daripada biasanya" gumam Subhan sambil meregangkan tangannya.


Subhan mulai menarik nafasnya dalam-dalam dan hal itu disaksikan oleh jiwa ustad Saleh yang masih ada di sekitar kamar Subhan.


Sekitar 10 tahun yang lalu, ustad Saleh pernah menjumpai mereka berdua di pinggiran sungai. Saat itu ustad Saleh sedang mencari dedaunan di pinggir sungai. Namun, karena saat itu suasana masih mencekam akibat letusan merapi yang begitu dahsyat, beberapa penduduk desa ada yang mengungsi ke kota untuk menghindari asap merapi, sehingga ustad Saleh belum sempat berbincang dengan mereka berdua.

__ADS_1


Desa yang ditinggali ustad Saleh dan Sarto tak begitu terkena dampak nya, hanya hujan debu saja. Namun karena beberapa penduduk masih takut akan banjir lahar yang dibawa oleh sungai dekat desa, sebagian dari mereka akhirnya mengungsi ke kota termasuk kedua orang tua Subhan.


Di kota dimana orang tua Subhan berada


"Bu, sudah lama kita tidak berkunjung ke desa kita dahulu ya?" Anak kita Subhan tertinggal di sana saat kita mengungsi, mungkin dia sudah tidak tertolong lagi" ujar ayah Subhan pada istrinya.


"Kejadian nya udah lama pak, kita kan gak boleh balik ke desa ini karena akses udah ditutup oleh pemerintah" jawab ibu Subhan.


"Iya bu, sudah tidak ada lagi" Aku menyesal udah meninggalkan Subhan bersama bapak dan ibu kita" Tapi walaupun begini, aku tetap berharap mereka semua selamat" ucap ayah Subhan. Mata ayah Subhan menerawang ke atap rumahnya.

__ADS_1


Kedua orang yang sedang bercakap-cakap itu rupanya orang tua Subhan yang pernah diceritakan oleh kakek nenek nya. Kakek dan nenek Subhan bercerita jika kedua orang tua Subhan tak pernah kembali ke desa setelah kejadian letusan gunung merapi 10 tahun yang lalu.


__ADS_2