
Suatu ketika setelah perpisahannya denhan Sutikno di persimpangan jalan, Subhan akhirnya melanjutkan perjalanan nya menuju ke rumah kakek neneknya.
"Pasti ,nenek sudah menunggu ku sejak lama" gumam Subhan sambil terus melanjutkan langkahnya.
Ternyata dugaan Subhan memang benar. Neneknya seakan cemas menantikan kedatangannya.
"Subhan, lama sekali kau perginya"
"Nenek dan kakek mu sudah menunggumu sejak tadi" ucap nenek subhan sambil memeluk subhan
"Ya, nek"
"Aku barusan masih bermain bersama Sutikno"
"Dan aku juga pulang terlambat karena masih banyak permainan yang membuatku penasaran" ucap Subhan berbohong.
Subhan mengingat tatapan Sutikno yang seperti tak biasa. Dirinya tak ingin Sutikno tak menemaninya lagi jika sampai janjinya pada Sutikno untuk tidak mengatakan hal apapun kepada semua orang termasuk kakek dan neneknya sendiri.
"Subhan, mengapa kau melamun?"
"Nenek sudah menyiapkan makanan yang enak buat kamu" ujar nenek subhan pada subhan
"Oh ya nenek" jawab subhan.
Akhirnya subhan menyantap makanan yang telah terbiasa dia makan seperti hari-hari sebelumnya.
Selesai makan, subhan pergi menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Kamar yang ditempati nya mulai kotor tal terawat. Karena pada hari itu Subhan tak bisa tidur, Subhan mulai membersihkan semua ruangan kamar tidur nya itu.
Saat hendak memindahkan tempat tidur miliknya, Subhan terkejut dengan setumpuk tulang aneh dan sepertinya sudah lama sekali ada di bawah meja kamar tidurnya.
Karena subhan masih berusia 10 tahun, Subhan tak tahu tulang siapa itu. Apakah itu tulang hewan, ataukah tulang manusia. Kemampuan berpikir Subhan yang masih primitif membuat Subhan tak bisa berpikir lebih jauh lagi.
"Hah, apa ini?" gumam Subhan sambil berusaha meraih tulang belulang itu.
Terlihat darah yang sudah kering ada pada tulang itu.
"Kenapa ada benda seperti ini?" gumam Subhan sambil terus mengamati tulang itu.
Karena kebingungan, Subhan segera mengembalikan tulang belulang itu ke tempat semula.
"Lebih baik, aku simpan baik-baik benda ini"
Hingga pada akhirnya Subhan pun langsung menggeser tempat tidur nya ke tempat semua tanpa berniat memindahkannya lagi.
Subhan pun segera menghentikan aktifitas nya yaitu membersihkan ruangan kamarnya. Dalam pikiran Subhan, dirinya mulai takut dengan penemuan benda itu.
Pagi telah tiba, seperti biasa, Subhan meminta ijin pada nenek nya untuk bermain bersama Sutikno lagi.
Subhan enggan menceritakan kejadian yang baru saja dia alami malam tadi.
"Aku harus menyembunyikan penemuanku ini kepada nenek ku"
"Nanti saja, aku akan bercerita dengan Sutikno" gumam Subhan dalam hati.
__ADS_1
Entah mengapa Subhan merasakan Sutikno lebih dekat dengan nya dibanding kedekatannya bersama kakek dan nenek nya.
"Nek, aku ingin bermain bersama Sutikno" ucap subhan pada nenek nya.
"Oh ya nak"
"Jangan lupa kalau pulang jangan sampai malam"
"Kau hendak ke ladang lagi?" tanya nenek subhan
"Ya nek"
"Dimana lagi aku bermain selain ke ladan" ucap subhan pada neneknya.
Nenek Subhan pun tersenyum melihat subhan cucunya yang semakin hari semakin dewasa saja.
Subhan pun melangkahkan kakinya pergi ke ladang dimana Sutikno pasti sudah ada di sana menunggunya.
"Hai, Subhan"
"Tumben, kau datang lebih awal dari biasanya" ujar Sutikno keheranan
"Yah, kau ini Sutikno"
"Aku ingin cepat menyelesaikan rakit ku"
"Aku ingin cepat pergi ke desa sebelah" ujar subhan tersenyum tipis
__ADS_1