
Semakin lama, air semakin masuk ke dalam perahu dan mereka semua tenggelam di dalam sungai angker itu.
Subhan, pegang tangan ayah kuat kuat nak, begitu ucapan sang ayah Subhan. Untungnya mereka semua bisa berenang sehingga masih bisa terapung di atas sungai itu.
"Ayo, kita menepi dulu, cari daratan yang terdekat dari sungai saja" ucap Sarto sambil mengamati sekitar sungai yang masih gelap saja.
"Ohya, kemana perginya ustad Saleh ya?" sejak tadi aku tak melihatnya sama sekali" Apakah ustad Saleh tenggelam di sungai ini?" tanya ayah Subhan berusaha mencari keberadaan ustad Saleh yang hilang entah kemana.
" Tidak mungkin, ustad Saleh jago berenang dibanding aku, tak mungkin dia tenggelam" jawab Sarto berusaha mencari ustad Saleh di kegelapan sungai.
"Tidak ketemu, alangkah baiknya kita menepi dulu, semoga saja ada daratan yang dekat sini" ucap Sarto
"Aneh sekali, kita semua sedang berada di sungai, tapi, mengapa sungai ini sangat lebar dan mirip lautan" ujar Sarto. Keringat Sarto bercampur dengan dingin nya air sungai. Wajah gugup Sarto terlihat jelas begitu juga dengan Subhan dan ayah ibu Subhan.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, terlihat jelas sebuah daratan yang berwarna merah. Daratan itu sangat asing bagi mereka semua.
"Subhan, apa kau melihat ada daratan di depan mu?" tanya Sarto pada Subhan. Sarto hanya ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya tidak salah.
Subhan akhirnya menoleh ke arah daratan itu dan terlihat jelas jika memang benar ada daratan di depannya.
"Iya pak, ada daratan berwarna merah di depanku" Kalau begitu, ayo kita kesana" ucap Subhan pada Sarto
Walaupun suasana sungai masih gelap gulita, namun mereka bisa melihat daratan itu karena daratan yang mereka lihat berwarna merah. Ada cahaya di daratan itu sehingga mereka semua dengan mudah bisa sampai di daratan itu dengan selamat.
"Wah, alhamdulillah, kita semua selamat dan sampai di sini" ucap ayah Subhan sambil melihat ke semua arah.
"Gimana dengan ustad Saleh?" Aku tak melihatnya semenjak kita tenggelam" ucap ayah Subhan. Pandangan ayah Subhan tertuju pada Sarto karena ustad Saleh merupakan tetangga Sarto sebelum mereka berlayar ke desa teluk meriang bersama-sama
__ADS_1
"Entahlah, aku juga tak melihat sosok ustad Saleh disini" Kita doakan saja semoga ada keajaiban dan ustad Saleh kembali bersama kita lagi" jawab Sarto
Sementara itu, Subhan asyik melihat sebuah cincin mata biru yang sempat dibawanya dari desa teluk meriang. Cincin yang ditemukannya di rumah Sutikno masih ada di saku bajunya. Sedangkan tombak milik kakek Subhan masih digenggam erat oleh Subhan.
"Disini apakah ada rumah penduduk?" sejak tadi aku tak melihat seorang pun" Rumah penduduk juga tak terlihat di sini" tanya ayah Subhan
Sejak tadi aku juga tak melihat rumah penduduk di sekitar tempat ini" Bagaimana kalau kita berjalan menyusuri jalan setapak itu?" ajak Sarto sambil menunjuk ke arah sebuah jalan yang panjang menuju ke suatu tempat.
"Subhan, gimana?" tanya Sarto pada Subhan sambil menepuk bahu Subhan
"Oh ya pak, saya ngikut saja" Siapa tau di sana ada rumah penduduk" jawab Subhan pendek
"Baiklah kalau begitu, ayo" jawab Sarto pendek
__ADS_1