
Ke empat manusia itu akhirnya benar-benar melakukan apa yang diminta oleh ustad Saleh. Mereka memegang pundak ustad Saleh tanpa melepaskannya lagi. Hingga akhirnya muncullah sebuah asap dan lambat laun asap itu hilang. Semakin jelas lah gambaran yang ada di mata mereka semua.
Beginilah gambarannya
Terlihat sosok kakek dan nenek, berserta seorang bayi laki-laki berada di teras depan rumah mereka
"Lihatlah kek, cucu kita sangat tampan" ujar sang nenek pada sang kakek yang saat itu berada di sampingnya. Nenek itu dengan senyum yang terpancar menggendong seorang bayi laki-laki tampan.
Melihat gambaran itu, orang tua Subhan merasa aneh dengan wajah suami istri itu yang mirip dengan orang tua mereka.
"Pak, itu kan wajah orang tua kita?" Apakah ini gambaran di masa yang lalu?" tanya ibu Subhan.
"Ya, bu" Kita lihat saja" Pegangan yang kuat" Jangan sampai goyah" ujar ayah Subhan pada istrinya.
__ADS_1
Hal yang sama dilihat juga oleh Sarto dan Subhan. Namun mereka berdua lebih banyak diam dibandingkan dengan orang tua Subhan.
Setelah melakukan pembicaraan itu, Nenek itu masuk ke dalam gubuk nya membawa bayi lelaki itu, sedangkan sang kakek pergi ke ladang samping rumah mereka.
Tak ada ayah dan ibu Subhan di sana karena saat itu, ayah dan ibu Subban sedang berada di ladang untuk mencari kayu
Hingga pada suatu ketika, Beberapa hewan piaraaan mulai berlarian tak tentu arah karena tiba-tiba saja ada gempa kecil yang melanda desa itu.
Gempa semakin lama semakin keras dan terdengar teriakan yang makin lama makin keras, semua manusia berhamburan dan berkata
Dentuman keras menggelegar membuat suasana desa menjadi gelap gulita. Walau gelap gulita, Subhan, sarto dan orang tua Subhan masih bisa melihat fenomena yang telah terjadi.
Terlihat nenek itu sambil menggendong bayi laki-laki mulai menutup semua pintu rumah, sedangkan sang kakek masih berada di ladang samping rumah dan tak beranjak dari tempat itu.
__ADS_1
"Bu, ayo kita pergi" ujar salah satu warga desa yang merupakan tetangga sang nenek. Tetangga itu berusaha memanggil sang nenek yang masih berada di dalam rumah.
"Tidak pak, kau pergilah" Aku masih menunggu anak ku dan menantuku yang saat ini masih berada di ladang" Jika aku pergi, mereka pasti bingung mencari kami" Anak mereka masih kecil dan butuh mereka" jawab sang nenek dari dalam rumah.
"Oh yaudah kalau begitu" Aku pergi mengungsi dulu ya?" ujar warga yang merupakan tetangga sang nenek.
Tetangga itu akhirnya berlari bersama hewan piaraan lain menuju ke pinggir sungai. Sungai itu terlihat deras karena lahar panas mulai melewati sungai itu. Beberapa warga ada yang terbawa arus sungai dan tewas di sana. Namun juga ada beberapa warga yang masih hidup tetap melanjutkan perjalanan melewati sungai itu.
Teriakan menyayat hati mulai terdengar kala itu. Rintihan minta tolong juga terdengar bersahut sahutan
Pak, apakah ini adalah waktu saat kita berada di ladang untuk mencari kayu bakar?" Seingatku kita meninggalkan mereka di rumah itu" ucap ibu Subhan pada suaminya.
"Benar bu, aku merasa bersalah sekarang" Kita meninggalkan mereka di gubuk ini" Saat terjadi gempa, kita tidak kembali ke rumah ini karena akses jalan menuju ke rumah kita sudah terputus" jawab ayah Subhan.
__ADS_1
Subhan yang saat itu juga melihat fenonena itu mulai bertanya-tanya.
"Apakah bayi kecil itu aku?" lalu Sutikno apakah juga masih kecil sama sepertiku?" Warga yang mengetuk pintu rumahku sepertinya aku mengenal nya" Dia ayah Sutikno?" guman Subhan dalam hati. Tapi kemana Sutikno?" Apakah dia juga tetap berada di dalam rumahnya atau tempat lain?" Bapak itu tak membawa anak dan istrinya pergi mengungsi, hanya seorang diri saja" gumam Subhan terus berpikir