Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Takdir


__ADS_3

Sarto, ayah ibu Subhan dan Subhan sendiri terus memantau fenomena yang terjadi di desa itu. Lava panas yang berasal dari gunung rupanya lambat laun turun ke Desa Teluk meriang. Beberapa warga yang terkena lava itu seketika tewas di tempat. Rumah warga ada yang hanyut dan ada pula yang tetap kokoh berdiri namun penghuni di dalam nya telah meninggal.


Jeritan dari seorang nenek terdengar dan tangisan bayi juga terdengar di rumah nenek Subhan.


"Tolong""" Beberapa kali nenek Subhan meminta tolong namun suasana desa semakin mencekam dan sunyi.


Hanya tangisan bayi yang terdengar waktu itu. Rupanya, bayi itu berada di atas dipan dan digantung di atap rumah oleh nenek Subhan. Dipan dan beberapa penyangga rumah masih kokoh dan kuat sehingga lava panas tak sampai mengenainya. Sementara itu nenek Subhan berusaha menemani Subhan sampai akhir hayat nya. Tubuh nya terlihat gosong karena terkena lava panas.


Sementara itu, kakek Subhan yang ada di kebun samping rumah juga telah meninggal lebih dahulu. Dirinya tak sempat kabur karena bingung dengan suasana desa yang gelap gulita akibat awan tebal yang menyelimuti desa itu.


Beberapa lama kemudian, desa terlihat sunyi, tak ada suara apapun di sana. Semua telah tewas dan yang selamat telah pergi meninggalkan desa itu lebih dahulu. Warga yang terjebak di desa itu tak ada yang selamat. Semua tewas tanpa ada yang menolong lagi.

__ADS_1


"Ha, itu kakek ku dan nenek ku" Mereka ternyata telah meninggal " jeritan tangis Subhan tak bisa dibendung lagi.


"Selama ini, aku hidup bersama arwah nenek ku?" nenek ku tetap merawatku walau dia telah meninggal?" Apakah benar Ustad?" tanya Subhan sambil terus menangis tiada henti.


Ustad Saleh yang ada di dekat Subhan mencoba membujuk Subhan agar jangan menangis dulu. Ustad Saleh ingin menunjukkan keberadaan Sutikno padanya.


"Subhan, jangan menangis" Apakah kau tak ingin tau tentang keberadaan Sutikno sahabatmu?" ucap ustad Saleh berusaha mengalihkan perhatian Subhan


Ustad Saleh segera berkonsentrasi dan mulai membuka mata batin Subhan, Sarto, dan orang tua Subhan.


Ustad Saleh mengajak mereka pergi ke sebuah ladang dimana Sutikno selalu berada di sana selama bersama Subhan.

__ADS_1


"Kalian semua sudah melihat kejadian yang ada di desa ini" Sekarang lepaskan pegangan tangan kalian di bahuku" Aku akan mengajak kalian ke ladang dimana Sutikno berada.


"Oh ya ustad" jawab Subhan


Mereka berlima akhirnya pergi ke sebuah ladang dengan dibantu oleh Subhan sebagai penunjuk arah. Akses jalan ke ladang tetap seperti dulu, yaitu melewati pinggir sungai yang angker itu. Karena mata batin Subhan, Sarto, dan kedua orang tua Subhan telah dibuka oleh ustad Saleh, mereka mulai bisa melihat beberapa penampakan makhluk halus di sana.


Terlihat beberapa manusia dengan wajah yang sangat menyeramkan duduk di pinggir sungai dengan menaiki perahu mereka yang usang. Perahu mereka hanya berlayar berputar di tempat itu dan tak pernah bisa pergi jauh.


Subhan, Sarto dan kedua orang tua Subhan memalingkan wajah mereka dari sungai itu karena tak kuat melihat wajah mereka yang sangat menyeramkan.


"Ayo Subhan, agak cepat berjalan nya" Waktu kita tinggal sebentar lagi" Desa ini telah menjadi desa tak berpenghuni" Ada beberapa roh jahat yang mengincar kita" ujar ustad Saleh pada mereka berempat

__ADS_1


__ADS_2