
Adit saat ini sedang duduk setelah menghubungi Adik iparnya dan tak lama kedua orang tuanya datang menghampiri, Adit langsung memeluk Mamanya dan menangis.
"Lia kritis Mama dan Lia ternyata sedang hamil muda. "
ucap Adit dan membuat Mamanya langsung terdiam mematung mendengarnya.
"Maksud kamu. Lia sedang hamil??
tanya Mamanya yang meyakinkan kembali dan Adit menganggukkan kepalanya.
"Benar Maa, sepertinya Kamelia juga tidak menyadarinya kalau dia sedang hamil, Kamelia banyak kehilangan darah dan ada organ tubuhnya yang terkena goresan makanya harus di operasi, tapi janin dalam kandungannya baik baik saja Maa dan Adit bersyukur. "
jelas Adit dan Mamanya langsung terdiam karena menyelamatkannya Kamelia malah yang kena tusukan.
Adit langsung membawa Mamanya duduk dan Papanya langsung bergabung, ketiganya langsung terdiam dengan pikirannya masing masing hingga Mamanya Adit menatap ke arah putranya.
"Orang tua Kamelia sudah di kasih tahu belum Adit?? "
tanya Mamanya dan Adit menganggukkan kepalanya.
"Sudah Maa dan supir sedang menjemputnya. "
jawab Adit dan Mamanya bernafas lega mendengarnya.
.
.
Beberapa jam kemudian orang tua Kamelia datang dan bersamaan dengan pintu ruangan operasi terbuka yang artinya operasinya telah selesai.
Semua langsung menghampiri Dokter dengan raut wajah yang begitu cemas di semua wajah keluarga, Dokter menarik nafasnya sebelum menjelaskannya.
"Pasien masih kritis pasca operasi dan operasinya berjalan lancar, janin yang ada dalam kandungan nya pun keadaan nya baik baik saja, kita tunggu lima jam kedepan kalau pasien tidak sadar berarti pasien di nyatakan koma, kita hanya bisa menunggu dan berdoa saja untuk saat ini. "
jelas sang Dokter dan membuat semua orang langsung berwajah muram.
Mamanya Kamelia langsung lemas mendengarnya, Mama mertuanya bahkan langsung melorot ke lantai saat mendengar penjelasannya.
"Bagaimana kalau saya bawa Istri saya untuk pengobatan di negara luar Dok?? "
tanya Adit dan Dokter itu langsung terdiam.
"Saya sarankan untuk saat ini pasien harus tetap dalam penanganan intensif, takutnya ada kendala saat perjalanan menuju ke negara luar, kondisi pasien sangat lemah sekali saat ini karena hanya menerima dua infus darah ke tubuhnya karena tubuh pasien menolak yang selanjutnya. "
jawab sang Dokter dan Adit langsung terdiam mendengarnya.
__ADS_1
"Adit percayakan sama Dokter disini, Papa yakin Lia akan siuman dan sembuh. "
ucap Papanya saat melihat guratan kekecewaan di wajah sang putra.
"Baik Dokter dan tolong lakukan yang terbaik untuk istri Saya karena Dokter yang saya andalkan. "
ucap Adit yang akhirnya menerima semuanya dan Dokter mengiyakannya.
"Terimakasih untuk kepercayaannya, kami semua akan berusaha semaksimal mungkin dan sekarang kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU. "
ucap Dokter dan Adit mengiyakannya.
Berangkar yang membawa tubuh Kamelia akhirnya keluar dan menuju ruangan ICU agar kondisi tubuh Kamelia sterill, bahkan tidak ada yang di perbolehkan masuk hanya Dokter dan suster penjaga yang di perbolehkan masuk.
"Lebih baik Mama pulang saja biarkan Adit yang menjaga di rumah sakit. "
ucap Adit saat semua keluarga berkumpul di depan ruangan ICU.
"Mama mau nunggu saja sampai lima jam kedepan saja. "
tolak Mama Riana dan Mama nya Kameliapun berucap sama.
"Sudah Ditt biarkan kamu tetap disini menunggu Kamelia sadar baru kami akan lega. "
ucap Papa Alam dan Adit mengangguk setuju.
.
.
Di penjara saat ini.....
Cindi mendadak histeris bahkan merancu aneh aneh dan membuat penjara menjadi riyuh bahkan Cindi mengakuk memukul penghuni penjara lainnya.
Pihak penjara langsung membawa Cindi ke rumah sakit jiwa karena Cindi mengalami gangguan jiwa, akan sangat aman kalau tetap berada di rumah sakit jiwa.
Asistennya Adit tersenyum menyeringai karena semua rencananya berhasil sempurna, Tuannya benar benar pendendam dan dia sebagai asisten hanya bisa mematuhinya.
"Akhirnya Nyonya Cindi mendapatkan pelajaran dari semua yang dia lakukan, sudah saat nya dia menyingkir dan tidak berbuat ulah. "
gumam sang asisten yang langsung berbalik menuju rumah sakit untuk mengurus semua juga melaporkan semuanya yang telah lancar terlaksana.
Tiba di rumah sakit, asistennya Adit langsung menghampiri Tuannya dan Adit langsung beranjak untuk menghampiri sang asisten.
"Bagaimana dengan rencananya?? "
__ADS_1
tanya Adit saat menghampiri sang asisten.
"Semua sesuai keinginan Anda Tuan dan wanita itu sudah masuk ke rumah sakit jiwa saat ini, saya juga sudah memerintahkan satu suster untuk selalu memberikan obatnya pada wanita itu. "
jawab sang asisten dan Adit menganggukkan kepalanya.
"Saya harap semua kembali semula dan bereskan semua masalahnya, Asisten Papa akan membantu kamu nanti agar semua semakin lancar. "
ucap Adit dan asistennya mengangguk lalu pamit setelah melaporkan semuanya.
Adit kembali menghampiri keluarganya yang tetap tinggal sampai lima jam kedepan, Adit memang sengaja tidak memaksa dan membiarkan keluarganya menunggu Kamelia sadar.
Adit akan membawa ke luar negeri untuk pengobatan kalau Kamelia tidak sadarkan diri saat setelah lima jam nanti, Adit di hampiri Papa nya dan langsung duduk di sampingnya.
"Apa rencana kamu setelah nanti?? kita harus mempersiapkan kemungkinan buruk nya Ditt. "
tanya Papa Alam dan Adit mengangguk.
"Adit sudah menyiapkan semua di negara J Papa dan semua akan Adit lancarkan, mudah mudahan Kamelia sadar sebelum lima jam nanti. "
jawab Adit dengan nada seriusnya dan sang Pap langsung percaya dengan keputusan putranya.
"Kenapa gak mengakhiri saja Ditt?? kamu malah membiarkan wanita itu tetap hidup, akan membahayakan Kamelia dan semua keluarga nantinya. "
protes Sang Papa yang merasa aneh dengan keputusan putranya.
"Papa aku hanya ingin wanita itu merasakan penderitaan dan dia sendiri nanti yang akan mengakhiri hidupnya, sekarang dia akan Adit siksa dengan semua rencana nya hingga dia lelah dan mengakhiri hidupnya sendiri, Adit gak mau jadi pembunuh nantinya Ayah. "
jawab Adit dengan kata kata yang begitu terdengar dendam mendalam dan Papa nya hanya bisa mengikuti semua keinginan putranya.
"Baiklah Papa akan dukung kamu dan hati hati menjalankan semuanya, Papa takut ada sabotase nantinya. "
ucap Papa nya dan Adit menggelengkan kepalanya.
"Gak akan Ayah karena semua sudah Adit konsep kan, kita hanya menunggu waktu saja sekarang. "
ucap Adit yang meyakinkan keraguan dari sang Papa.
Papanya Adit kembali ke samping Sang Istri yang terlihat diam, istrinya terus menyalahkan dirinya karena membiarkan Kamelia berkorban untuknya.
Adit menyiapkan sebuah kamar pasien di samping ICU dan meminta semua keluarga menunggu disana, udara di luar ruangan ICU begitu dingin dan untungnya semua keluarga menyetujuinya lalu menunggu di ruangan.
Adit tetap menunggu dan memperhatikan semua gerak gerik Dokter juga suster, Adit ingin semua lancar tidak ada kendala karena istrinya saat ini sedang bertaruh nyawa.
.
__ADS_1
.
Bersambung........