
Tiba hari dimana Kalila dan Aldo melangsungkan pernikahan, pernikahan yang sederhana bahkan jauh dari kata mewah, tapi semua memang keinginan Kalila dan Aldo hanya berusaha memenuhi keinginan dari Kalila.
Semua orang di buat tegang saat Aldo mengucapkan janji suci pernilaham dan akhirnya Kalila SAH secara agama juga secara negara sebagai istri dari Aldo.
Setelah derama ketegangan akhirnya berubah kelegaan dan Kamelia tersenyum menatap sang adik yang begitu di sayanginya sekarang sudah menikah, Aldo adalah sahabat suaminya dan Kamelia dapat dengan mudah mengawasinya.
"Mas kawin nya mewah sekali. "
ucap Kamelia saat mendengar Aldo mengucapkan mas kawinnya.
Adit langsung menatap istrinya karena merasa tersindir dengan ucapannya, Adit dahulu menikahi Kamelia tidak menentukan Mas kawinnya karena semua di urus oleh Mamanya.
"Maaf karena suami kamu gak memberikan yang terbaik untuk kamu sayang. "
lirih Adit dan Kamelia langsung mengerutkan keningnya.
"Kamu bicara apa sih Mas, bagi aku kamu dan calon anak kita adalah lebih dari yang terbaik, pernikahan kita sudah lama dan jangan mengungkitnya lagi, fokus menyambut kelahiran calon Babby kita saja. "
jawab Kamelia dan adit mengiyakannya karena dia tahu kalau sang istri tidak berniat menyindirnya.
Kamelia langsung beranjak setelah acara sungkeman kedua orang tua, Kamelia tersenyum lalu memeluk sang adik yang begitu di sayangnya.
"Kakak bukan menggurui kamu atau mau menasehati kamu, tapi Kakak hanya mau memberitahukan kamu sebagai seorang Kakak pada adiknya, saat ini kamu sudah menjadi seorang istri dan status kamu juga bukan single lagi, rubahlah sikap dan sifat kamu Lila karena semua akan berubah setelah kamu melangkah keluar dari rumah orang tua kita, ada mertua, ada ipar dan ada yang lainnya, Kakak hanya bisa mendoakan semoga pernikahan kamu di berkati limpahan kebahagiaan dan semoga pernikahan kamu ini yang pertama juga yang terakhir kalinya dalam hidup kamu. "
ucap Kamelia saat melepaskan pelukannya dan Kalila langsung mengangguk lalu kembali memeluk Kakaknya.
"Selamat Lila dan hadiahnya nanti setelah kamu keluar dari rumah sakit yaa. "
ucap Adit saat menghampiri adik iparnya dan Kalila mengacungkan jempolnya.
"Besok Lila sudah boleh pulang dan saya akan mengajak Lila ke rumah orang tua saya, semoga Papa dan Mama mertua mengijinkannya. "
jelas Aldo yang membuyarkan acara pelukan adik kakak itu dan Kalila langsung menatap ke arah Mamanya.
"Sudah kewajiban Kalila mengikuti kamu, karena sekarang Kalila tanggung jawab kamu dan kami sebagai orang tua tidak bisa melarang atau menolaknya. "
jawab Papanya Kalila dan Aldo tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Jangan khawatirkan Lila karena saya akan menganggap Lila seperti Putri saya dan bukan menantu saya, sudah lama saya kesepian karena suami juga anak saya sibuk dengan bisnisnya, pokonya jangan khawatirkan Lila selama tinggal dengan saya nantinya. "
ucap Ibunya Aldo dan kedua orang tua Kalila pun mengiyakannya karena mereka juga tidak bisa mencegahnya.
Malam menjelang......
Seluruh keluarga sudah kembali pulang dan hanya ada Kalila juga Aldo yang berada di rumah sakit, Kalila masih tetap bersikap seperti biasa karena baginya tidak ada perubahan mau menilah atau belum menikah.
"Besok kamu ikut dengan saya, semua kebutuhan kamu sudah saya siapkan dan jadwal kunjungan ke rumah orang tua kamu setiap. akhir pekan atau di saat saya libur bekerja, ingat jangan datang ke rumah orang tua kamu tanpa aku dampingi. "
ucap Aldo dan Kalila hanya berdehem saja tanpa mau menyahutinya.
Aldo hanya menghela nafasnya dengan respon Kalila dan dia tidak mengambil pusing karena baginya yang penting Kalila menurut padanya sudah lebih dari cukup.
Karena merasa kantuk dan tubuhnya lelah, akhirnya Aldo memilih merebahkan tubuhnya di sofa dalam ruang rawat Kalila dan Kalila hanya bisa diam melihat Aldo yang terlelap. damai di atas sofa itu.
"Sebenarnya aku gak mau tinggal di rumah mertua, tapi karena kaki aku masih belum pulih jadinya harus ikhlas deh mulai sekarang. "
lirih Kalila dengan tangan yang mulai menarik selimbutnya karena dia juga akan tidur untuk menyambut hari esok dengan gelar baru yaitu seorang istri.
Pagi menjelang.......
Kamelia melihat jam ternyata masih pukul lima tiga puluh pagi, ini masih pagi sekali kalau suaminya akan bersiap ke kantor, Kamelia memutuskan untuk beranjak dan menanyakan suaminya yang sedang di dalam kamar mandi.
"Mas..... kamu sedang apa di dalam?? "
tanya Kamelia di sela ketukan pintunya dan tidak ada sahutan membuat Kamelia panik lalu membuka pintunya.
Kamelia langsung berjalan cepat dan membantu suaminya untuk kembali kedalam kamar, ternyata Adit sedang terduduk seperti kelelahan setelag dekat closet kamar mandi.
"Kamu kenapa Mas?? wajah kamu pucat sekali sih. "
tanya Kamelia yang membantu Adit duduk di ranjang dan di sandarkan.
"Perut aku tiba tiba mual sekali dan akhirnya muntah. "
jawab Adit dengan nada lesu nya dan Kamelia langsung menyentuh dahi Adit takut demam.
__ADS_1
"Kamu gak demam juga, sebentar aku buatkan teh hangat dan kamu jangan turun dari ranjang dulu. "
ucap Kamelia yang langsung keluar dari kamar menuju dapur.
Kamelia langsung membuat teh hangat untuk Adit dan membuatkan susu juga untuk dirinya sendiri, saat asik di dapur ternyata kepala pelayan menghampiri.
"Nona sedang membuat apa?? "
tanya kepala pelayan dan Kamelia tersenyum mendengarnya.
"Mas Adit muntah muntah Bibi dan aku sedang membuatkan teh hangat untuknya, kalau susu ini buat aku. "
jawab Kamelia dengan nada lembutnya dan kepala pelayan tersenyum mengangguk.
"Sepertinya Den Adit mengalami kehamilan simpatik, Nona yang hamil dan Den Adit yang mengalami ngidamnya. "
ucap kepala pelayan dan Kamelia langsung mengerutkan keningnya merasa tidak percaya.
"Masa sih Bii?? emang ada yang seperti itu?? "
tanya Kamelia yang tidak percaya dengan ucapan kepala pelayan.
"Benar sekali, seperti Tuan Alam dulu saat Nyonya hamil Den Adit kan seperti Den Adit sekarang, mengalami kehamilan simpatik dan tubuhnya sampai kurus karena gak bisa makan banyak terus makanan nya gak semua masuk harus sesuai keinginannya. "
jawab kepala pelayan dan Kamelia menganggukkan kepalanya.
"Makasih infonya Bibi, nanti aku mau bawa Mas Adit ke rumah sakit karena kasihan sekali Bii, wajahnya pucat. "
ucap Kamelia sambil menuangkan air panas ke teko kecil berisi serbuk teh.
"Sama sama Non, biasanya trisemester pertama saja tapi gak tau kalau kasusnya Den Adit berapa lama, tanya Den Adit mau sarapan dengan menu apa?? takutnya malah gak mau makan kalau Bibi siapkan menu sarapan seperti biasa. "
ucap kepala pelayan dan Kamelia memgiyakannya lalu pamit untuk membawa teh nya ke kamar.
.
.
__ADS_1
Bersambung.......