
Saat Feliks membuka pintu, pemandangan pertama yang ia lihat adalah,,, seorang ibu paruh baya yang tergelak tak sadarkan diri di lantai keramik polos itu,,,,
"Ibu,,, ibu,,, ibu kenapa,,, bangun Bu, ibu" Feliks berusaha untuk membangunkan ibu nya namun sepertinya Bu Warsih tetap betah dengan pingsan nya,,,
Feliks pun segera membopong tubuh ibunya dan membawa nya ke kamar, setelah memastikan ibu nya terbaring di tempat yang tepat, Feliks mengambil minyak angin dan mendekatkan nya pada daerah penciuman Bu Tika, berharap ibu ya bisa sadar setelah mencium bau minyak angin itu, hingga beberapa saat kemudian Bu Warsih pun mulai merespon dan perlahan membuka mata nya,
Saat sepasang mata sayu itu terbuka, hal pertama yang terjadi dan hal pertama pula yang dilihat oleh Feliks adalah air mata ibu nya yang mengalir dan membasahi wajah yang sudah keriput itu,,,,
Feliks bingung dengan apa yang di lihatnya, entah apa yang terjadi yang ia tak ketahui sampai-sampai ibunya seperti itu...
"Ibu, katakan pada ku, apa yang terjadi, apa yang membuat ibu hingga tak sadarkan diri tadi, katakan dengan jujur Bu, aku tak bisa melihat ibu seperti ini" ucap Feliks yang tak tahan untuk tidak bertanya kepada sang ibu tentang apa yang terjadi
Bu Tika tetap menangis dalam diam nya, namun sorot mata nya mengarahkan keluar kamar dan pandangannya tertuju ke arah ruang tamu yang terdapat meja di sana, di mana ia meletakkan selembar kertas dan beberapa foto tentang pernikahan Amel sebelum nya,,, Feliks pun sadar dan mengikuti arah pandangan sang ibu,,, ia pun berjalan keluar untuk memastikan apa yang di lihat dan di maksud oleh ibunya itu, saat Feliks menyadari di atas meja itu ada beberapa foto, segera ia meraih salah satu Nya untuk melihat apakah itu yang membuat Ibu nya sampai pingsan,,,
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Feliks ketika melihat Beberapa foto itu dan membaca selembar surat yang sama dengan yang Bu Warsih baca sebelum nya,,,. Feliks meremas semua foto termasuk surat yang sudah ia baca, seluruh urat-urat leher Dan tangan nya dapat terlihat dengan sangat jelas dan menonjol menandakan kemarahan yang begitu besar dalam dirinya akan apa yang terjadi dan ia tidak ketahui sebelumnya...
Bu Warsih memaksakan dirinya untuk bangun dan tergopoh-gopoh berjalan menghampiri sang putra...
"Feliks, katakan pada ibu, semua itu tidak benar, Amel tidak mungkin melakukan itu, ibu yakin, Feliks cepat telpon dia dan tanyakan pada nya, ibu ingin mendengar langsung darinya" ucap Bu Warsih dengan suara yang masih lemah
Tanpa menunggu lama, feliks langsung menarik ponsel yang ada di saku celananya dan menekan kontak Amel,,,
Saat panggilan itu sudah tersambung
"Assalamualaikum bang, ada apa, Amel sedang di kampus dan kelas akan segera di mulai" ucap Amel di seberang telpon
__ADS_1
"Amel, katakan apa yang kau sembunyikan dari Abang dan ibu" tanya Feliks yang masih berusaha untuk mengontrol emosi nya
"Deg" Amel tak menjawab langsung, tiba-tiba ia merasakan jantungnya berdetak kencang dan keringat dingin pun mulai bercucuran di dahi nya,,,. ( Bagai mana ini, apa Abang sudah tau kalau aku telah menikah diam-diam )
"Amel,,, katakan pada ku, apa berita tentang kau sudah menikah itu benar,,,??!!
"Abang,,, i i itu,, anu itu,, Mm, itu, "
"Cepat katakan Amel, jangan menguji kesabaran Abang" Ucap Feliks masih dengan suara yang datar,
Kali ini Amel benar-benar merasakan ketakutan, wajah nya mulai memucat dan air mata mulai mengalir membasahi pipinya begitu saja tanpa permisi,
"I itu, be benar bang" sahut Amel Dengan suara yang terbata-bata
Seketika Amel terkejut ketika sambungan telpon di putuskan oleh Feliks secara sepihak....
Amel gemetar menahan rasa takut nya, Menahan tangisan dalam diam agar tak ada yang menyadari bahwa ia sedang menangis, apa yang ia takutkan selama ini telah terjadi, ibu dan kakak nya telah mengetahui tentang pernikahan rahasia yang di lakukan nya dengan arya,
Dinda dan Lili yang melihat kejadian itu, segera menghampiri Amel dan menanyakan apa yang terjadi...
"Amel, apa yang terjadi,,, kau baik-baik saja,,,?!! tanya Lili
Tak ada jawaban dari Amel, ia hanya memeluk Lili dengan erat dan menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala rasa yang begitu membuatnya Ketakutan, seketika itu juga ia pun menjadi pusat perhatian siswa dan siswi di kelas nya, Dinda dan Lili menyadari itu dan berusaha menenangkan amel, mereka membawanya keluar dari ruangan dan mencari tempat yang sepi agar Amel bisa lebih tenang... Setelah beberapa saat Tangisan Amel pun mulai mereda walaupun belum berhenti sepenuhnya....
"Amel, tenangkan dulu hati dan pikiran mu, setelah itu ceritakan pada kami apa yang terjadi, jangan ragu untuk bicara yang sebenarnya, kita adalah sahabat dan sudah seperti saudara" ucap Dinda yang di anggukki oleh Lili
__ADS_1
"Iya Mel, jika kau ingin curhat kami siap mendengarkan dan jangan ragu untuk itu, bukan kah selama ini kita selalu bersama dan berjanji untuk saling terbuka satu sama lain, lagi pula, siapa tau dengan menceritakan tentang masalah mu, itu semua akan sedikit meringankan beban pikiran mu" ucap Lili menambah kan
Sesaat Amel memandang kedua sahabat nya secara bergantian,,,. "Dinda, Lili, apa kalian juga akan marah pada ku jika aku mengatakan yang sebenarnya,,?! tanya Amel dengan suara yang Pelan
Lili dan Dinda saling menatap sesaat,, dan,,. "Amel, apa hak kami untuk marah pada mu, lagi pula kau yang mendapat masalah dan sudah seharusnya kami sebagai sahabat untuk membantu mu dan memberikan solusi jika kami bisa" ucap Dinda meyakin kan Amel
"Benarkah, tapi aku takut jika aku jujur maka kalian juga akan ikut marah pada ku seperti Abang dan juga ibu ku"
"Amel, jika kami belum tau apa masalah nya, bagai mana kami akan memberikan penilaian atau memberi solusi untuk masalah mu itu,,,?!!! ucap Lili
"Baik lah, aku akan menceritakan semua nya, mungkin ini sudah waktunya untuk ku jujur pada kalian tentang status ku sebenarnya saat ini, tapi kalian janji jangan marah pada ku dan jangan meninggalkan ku dalam keadaan apapun dan janji untuk tetap menjadi sahabat baik selamanya bagiku dan kita semua" ucap Amel yang semakin membuat Lili dan Dinda merasa bingung sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi
"Amel, Apakah selama ini kau meragukan persahabatan kita,,, hm," tanya Dinda
"Tidak, aku hanya takut kalian juga meninggalkan ku saat kalian tau aku berbohong selama ini,,, Sebenarnya,,,,,,, aku sudah menikah,,,
Ucapan Amel yang sengaja ia tahan sesaat untuk melihat reaksi kedua sahabat nya itu
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1