
Beberapa saat kemudian....
Mobil Arya telah tiba di halaman kediaman keluarga Mahessa,,,
Amel melihat sekeliling halaman, tak ada yang berubah sejak dari tiga tahun lalu, semuanya tetap sama,,,,
"Mas...!!!
"Sayang, jangan khawatir, percayalah padaku" ucap Arya yang berusaha untuk meyakinkan sang istri
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
"Assalamualaikum,,,," ucap Arya saat memasuki rumah, dan Rey yang berada di gendongan nya serta Amel yang mengikuti dari belakang
"Wa'alaikum salam,,,,. ( Sahut Asisten rumah tangga yang kebetulan sedang beberes rumah ),,,. Tu, tuan,,, ???? ucap art itu yang kaget saat melihat siapa yang datang bersama Arya
"Bi,,, apa papa dan mama ada di rumah...??? tanya Arya
"Iya tuan,,, Nyonya dan tuan besar ada di taman belakang,..." ucap art itu
Arya menggenggam tangan Amel dengan erat, dan memperlihatkan senyum manis nya untuk memberi semangat pada sang istri agar tidak gugup,,, "Mas,,, " ( Ucap Amel sekali lagi dengan perasaan yang sulit di jelaskan ),,, Arya mengangguk meyakinkan Amel agar tetap tenang,,, saat tiba di taman belakang,. terlihat sepasang pria dan wanita paruh baya yang sedang asyik mengobrol sambil sesekali tertawa renyah, entah apa yang di bicarakan keduanya,,, hanya mereka yang mengetahui nya....
"Pa, ma..." ucap Arya,,,
__ADS_1
seketika Nyonya Rani dan tuan Adi menoleh saat mendengar suara yang tidak asing bagi mereka baru saja memanggil,,, sesaat kedua nya sama-sama tertegun saat melihat siapa yang datang bersama putra mereka,,,
Arya menarik tangan Amel dan membawanya mendekat pada kedua orang tua nya bersama dengan Rey yang masih berada dalam gendongan nya...
"Arya,,,, " gumam Nyonya Rani yang masih dalam keadaan tertahan
Tuan Adi langsung bangkit dari duduk nya dan perlahan melangkah menghampiri putra dan menantunya itu...
"Arya,,, ini,, ini,,,,?!! apakah aku bermimpi....??? tanya tuan Adi dengan terbata-bata, sementara Nyonya Rani masih dalam mode terkejut nya
Arya tersenyum menanggapi pertanyaan sang ayah,,,. sementara Amel yang sudah mulai gemetar menahan rasa takut, takut jikalau mertuanya tak mau menerima dan memaafkan nya kembali,,,
"Benar pa, aku telah berhasil membawa mereka kembali" ucap Arya dengan sangat yakin
"Iya pa,,, dia cucumu,,, dia Reyhan amera, cucu kalian"
tuan Adi tersenyum dalam tangis nya, memandang wajah seorang balita tampan yang ada di hadapan nya, wajah itu mengingatkan ia pada Arya kecil yang dulu selalu merengek ingin minta di gendong pada nya saat ia pulang bekerja,...
"Papa,, itu ciapa,,, kenapa dia menangis,,, mama bilang laki-laki tidak boleh menangis, laki-laki halus kuat, tapi kenapa dia menangis...??? tanya Rey dengan bahasa cadel nya yang membuat Arya dan semua orang yang ada di situ tersenyum kecuali Amel
"Sayang,,, dia Papa nya papa dan dia mama nya papa,,, mulai sekarang Rey harus memanggil mereka dengan sebutan Opa, dan Oma, " ucap Arya yang memperkenalkan orang tua nya satu persatu pada sang putra
"Opa... Oma...??? tanya Rey dengan wajah yang terlihat bingung
__ADS_1
Tuan Adi dan nyonya Rani tersenyum melihat tingkah laku cucu mereka yang terlihat sangat polos,, "Kau sangat tampan sayang, wajah mu sangat mirip dengan ayah mu, saat masih kecil,,, Mau kah kau ikut dengan Opa...??? tanya tuan Adi sembari mengulurkan tangan nya,,, sesaat Rey tidak langsung mengiyakan, ia terlebih dahulu menatap wajah sang papa dan mama untuk meminta persetujuan, Arya dan Amel pun mengangguk mengijinkan, barulah Rey mau berpindah ke gendongan Sang Opa,,,
Nyonya Rani tersenyum Setelah melihat Rey berada dalam gendongan tuan Adi,,, Nyonya Rani perlahan mendekati Amel dan kedua nya saling bertemu tatap, namun momen itu tidak berlangsung lama,,, dengan cepat Amel segera menundukkan pandangan nya saat menyadari sang mertua yang saat ini berada tepat di hadapan nya,,,
"Ma,,, " ucap Arya singkat saat melihat reaksi sang mama
Nyonya rani menoleh sekilas dan tersenyum pada putra sulung nya itu, Arya merasakan khawatir, takut jika ibunya akan memarahi sang istri, namun sesaat kemudian apa yang di takuti Arya dan Amel ternyata malah terjadi yang sebaliknya,,,
Nyonya Rani menarik tangan Amel dan membawa nya kedalam pelukan nya,,, untuk sesaat Amel merasa terkejut dan kaku dengan perlakuan Nyonya Rani pada nya,,, beberapa detik kemudian Amel pun memberanikan diri untuk membalas pelukan dari sang mertua,,, kedua nya saling memeluk satu sama lain, Arya tersenyum lega menyaksikan semua itu... ia senang mama nya tidak membenci istrinya itu...
"Amel,,, maafkan mama,,, " ucap Nyonya Rani tiba-tiba
"Ma,,, mama tidak melakukan apapun, kenapa mama meminta maaf padaku . ? tanya Amel
"Amel,,, maafkan mama,,, karna keegoisan mama, kamu harus menanggung penderitaan yang seharusnya tidak kamu rasakan,,, saat itu mama tidak tau kalau kamu masuk rumah sakit karna ingin mencoba bunuh diri setelah di usir oleh ibu mu,, mama juga telah lalai untuk menasehati Arya agar bersikap adil padamu dan almarhum Nisa,,, kamu pergi setelah tidak mendapat keadilan dari putraku, kalau bukan karna mama yang bersikeras menginginkan cucu dari Arya, mungkin saat itu kamu tidak akan terjebak dan mengalami masa-masa sulit seorang diri " ucap Nyonya Rani dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan penuh dengan penyesalan
"Ma, cukup ma,,, semua itu sudah terjadi, itu juga bukan salah mama, Aku hanya menjalani takdir yang sudah di tetapkan oleh yang maha Kuasa... aku tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi, mulai sekarang kita akan memulai nya dari awal lagi, mama jangan bersedih" ucap Amel sambil menghapus butiran cairan bening yang perlahan mengalir di pipi sang mertua...
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG