DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Terbelenggu Perjanjian


__ADS_3

...Rey...



.........


Malam harinya...


Suara mobilnya kudengar saat sedang belajar untuk kuliah nanti. Aku pun berlari untuk menyambut kedatangannya. Tapi, sepertinya aku tidak terlalu diperlukan olehnya. Dia datang tak sendiri. Dia datang bersama wanitanya. Begitu cantik dan juga seksi.


"Oh, jadi ini istrimu?"


Begitu klasik hal yang kudengar dari wanita itu. Tapi aku tak peduli. Aku hanya melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri. Kusambut suamiku pulang walau dalam keadaan mabuk. Ya, Rey mabuk dan pulang bersama wanita itu. Dia kemudian ditidurkan di sofa oleh wanita itu. Sedang bantuanku ditolak mentah-mentah olehnya.


Wanita yang mengantarkan Rey lalu melihat ke arahku. "Bagaimana mungkin pria seperti Rey mau menikah denganmu?" Dengan angkuh dia bertanya seperti itu.


Aku tersenyum palsu. "Terima kasih telah mengantarkan suamiku pulang. Aku akan memesankan taksi untukmu." Aku pun membalasnya.

__ADS_1


Dia mendecih seperti mengejekku. "Tidak perlu repot-repot. Mobil Rey akan kubawa. Jadi jaga saja dia untukku. Sampai nanti." Wanita itupun segera pergi sambil membawa kunci mobil suamiku.


"Hei, tunggu! Kau tidak boleh membawa mobilnya!" Aku pun lekas merebut kunci mobil Rey.


Wanita itu tampak tak terima. "Apa-apaan kau ini?! Aku pacar Rey! Dia sudah memberikan mobil ini padaku!" cetusnya dengan amat yakin.


Wanita seksi ini ternyata tidak tahu diri. Dia seperti ingin mengajak ku berkelahi. Lekas saja kutunjukkan bagaimana sikap seharusnya seorang istri. Aku pun melindungi suamiku dan segala harta bendanya.


"Pergi dari rumah ini atau kuteriakkan maling?! Pergi!" Aku pun mengusir wanita itu.


Aku tak peduli. Sungguh tak peduli. Siapapun dia, bukanlah urusanku. Urusanku hanya mengurus pria yang telah menjadi suamiku ini.


"Silakan. Aku tidak takut." Dengan berani aku pun mengatakan padanya.


Dia mengepalkan tangan, memasang wajah kesal padaku. Lalu tak lama dia pun beranjak pergi dari rumah ini. Tentunya tanpa membawa mobil suamiku.


Usai sudah perseteruan yang baru saja terjadi malam ini. Kulihat wanita itu pergi dengan membanting pintu gerbang. Aku pun segera menutupnya rapat-rapat agar wanita itu tidak kembali. Aku masuk ke rumah untuk melihat keadaan Rey di sofa. Dan ya, pria yang sudah menjadi suamiku itu memang benar-benar mabuk. Tak tahu apa alasannya, sepertinya aku juga tak perlu menanyakannya.

__ADS_1


"Rey. Rey ...." Aku pun mencoba menepuk-nepuk pipinya. Berharap dia segera tersadarkan dari mabuknya.


Pagi harinya...


Suara burung bersiulan menemaniku yang sedang menata meja makan. Sarapan pagi akan segera dimulai. Aku pun bangun saat fajar datang. Segera menyiapkan segala keperluan dan juga sarapan untuknya. Sengaja pagi ini kubuatkan sup ayam agar bisa menghangatkan badannya setelah mabuk semalam.


"Lala!!!"


Namun, tiba-tiba saja dia menjerit dan meneriakkan namaku. Aku yang baru saja selesai menata meja makan pun segera berlari ke kamarnya.


"Rey?!"


Sesampainya di sana kulihat dia sedang mengenakan pakaiannya dengan cepat. Dia lalu menoleh ke arahku. "Apa yang kau lakukan padaku?!" tanyanya dengan ketus.


"Aku ...? Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mengelap tubuhmu semalam," kataku, menjawab pertanyaannya.


Dia mendengus kesal lalu berjalan cepat ke arahku. Seperti marah dengan hal yang kulakukan ini. "Lala, kuperingatkan padamu untuk tidak mencampuri urusanku! Jangan sekali-kali berani membuka bajuku sekalipun aku mabuk. Kau mengerti?!" tanyanya berapi-api.

__ADS_1


__ADS_2