
...Rey...
.........
Pria bersweter hitam itu tampak duduk di depan meja makan. Kulihat dia mulai mencicipi sup yang kubuat. Lalu kemudian mengambil nasi yang telah kuhidangkan. Rey pun menyantap makan malam sendiri. Dia tidak memintaku untuk menemani. Jadinya aku hanya sebatas mengintipnya dari sini.
Dia tidak marah-marah lagi.
Entah apa yang terjadi pada dirinya selama satu minggu terakhir, aku juga tidak mau menanyakannya. Kudiamkan saja dia dan kulaksanakan tugasku sebagai istri. Aku juga tidak mau terlalu memedulikannya. Karena masih banyak hal yang lebih penting darinya. Misalnya saja ujian yang akan dilaksanakan minggu depan ini. Aku harus banyak-banyak belajar agar bisa mendapatkan nilai tertinggi.
__ADS_1
Sejujurnya jika melihat dia diam dan tidak marah-marah seperti ini, aku merasa kasihan padanya. Kasihan karena hidupnya hanya dipenuhi oleh emosi semata. Dia tidak bisa menikmati hidup yang hanya sesaat ini. Terlintas di benakku pun untuk menghiburnya. Tapi hal itu segera tertepiskan sendiri saat mengingat ucapan pedas dari mulutnya.
Eh, dia melihat ke atas?!
Segera kututup pintu saat dia melihat ke arah kamarku. Mungkin dia merasa diperhatikan olehku dari sini. Aku pun lekas-lekas kembali ke meja belajarku. Aku tidak ingin dia tahu jika aku mengintipnya dari sini. Aku masih bersikukuh dengan pendirianku. Bicara kalau diperlukan saja.
Lantas aku pun kembali membaca sejarah dan mencoba mengulangnya lagi. Beberapa belas menit berlalu akhirnya aku bisa mengingat dengan baik sejarah yang kubaca ini. Lantas aku pun segera beristirahat agar besok bisa bangun lebih awal. Aku harus bangun pagi-pagi untuk menjalani kewajibanku sebagai seorang istri. Istri kontrak tanpa cinta di hati.
Esok harinya...
Tadi pagi aku bangun pagi-pagi sekali. Segera mencuci pakaian, menjemurnya, lalu memasak untuk sarapan pagi. Tak lupa juga kubuatkan kopi hitam untuk Rey. Aku menghidangkannya di atas meja TV agar dia bisa duduk santai sebelum beraktivitas lagi. Dan kulihat dia sudah mulai menyeruput kopinya. Aku pun turun dari lantai dua untuk berpamitan padanya. Aku akan ke kampus pagi ini.
__ADS_1
Aku berjalan mendekatinya. "Tuan, aku pergi ke kampus. Ada ujian hari ini," kataku, berpamitan padanya.
Kulihat dia diam saja. Seperti tidak melihat kehadiranku di sini. Tapi tak apalah, aku harus sadar diri. Tidak ada kewajiban padanya untuk menghargai kehadiranku di sini. Toh di matanya aku sudah dibeli. Jadinya menurut saja tanpa menanyakan apapun padanya.
Baiklah. Kita berangkat sekarang.
Lantas aku pun melangkahkan kaki melewatinya. Aku pergi sambil menyampirkan tas ini. Aku melewatinya yang sedang duduk di sofa sambil menonton berita di televisi. Aku pun membuka pintu rumah lalu segera keluar darinya. Namun, saat itu juga aku terkejut melihat siapa gerangan yang datang pagi ini.
Vino?!
Ternyata Vino datang menjemputku. Tidak salah lagi jika dia datang untuk itu. Jantungku pun berdetak keras melihat kedatangannya. Dia pun membuka kaca mobilnya untukku.
__ADS_1
"Ayo, La. Kita pergi bersama."
Begitulah yang dia ucapkan padaku. Dan karena tidak ingin Rey sampai tahu, lekas saja aku masuk ke dalam mobilnya. Kami pun mulai melaju dari rumah besar ini.