DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Di halaman pesta...


Aku menikah di halaman besar sebuah rumah seorang konglomerat. Aku tidak tahu rumah siapa yang dimaksud. Karena yang kutahu hanya ingin lari dari keadaan yang tak kuinginkan ini. Bagaimana mungkin aku menikah tanpa cinta? Terlebih pernikahan ini dipenuhi keterpaksaan atas banyak sebab. Sungguh jika bukan karena keadaan yang mendesak, aku akan menolak keras keinginan ayah.


Menjelang siang ini kulihat cuaca cerah disertai angin yang berembus pelan. Seolah menyambut kedatanganku saat tiba di halaman pesta. Bunga-bunga indah tersusun rapi di sekelilingnya. Mirip seperti pesta kebun yang meriah. Karpet merah juga telah dihamparkan sebagai jalan istimewa untukku. Aku pun hanya bisa menunduk saat melihat semua ini. Aku tak percaya akan menikah pagi ini.


Ibu mencubitku, seolah memberi tanda agar aku tersenyum dan tidak menunduk. Aku pun mendongakkan kepala lalu tersenyum sambil melihat ke depan. Ayah dan ibu menggandeng tanganku saat memasuki halaman pesta. Sedang pria yang akan menjadi suamiku itu tampak menunggu di sana. Dia berjas putih dengan sapu tangan dan mawar merah di saku jasnya. Sungguh aku berharap bisa pingsan saja sebelum janji suci.

__ADS_1


"Lala! Lala!"


Beberapa teman satu fakultasku pun terlihat datang menghadiri pesta pernikahan ini. Tapi tidak dengan Nina karena dia sedang prakerin ke luar kota. Langkah demi langkah pun terasa sangat sulit untuk kulewati. Tapi demi menjaga nama baik keluarga, aku harus tetap tersenyum kepada mereka. Dan juga kepada hadirin di sini. Hingga akhirnya ayah dan ibuku tiba di altar pernikahan. Mereka menyerahkanku kepada mempelai pria. Saat itu juga aku merasa kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali. Tak ada cinta di hati kami. Tapi kenapa harus menikah seperti ini?


Usailah sudah, Lala ....


"Jangan harap kau bisa menguasai semua hartaku setelah ini," katanya yang membuat hatiku tersentak hebat.

__ADS_1


Sungguh kata-kata itu amat melukai hatiku. Tidak pantas bagi seorang calon suami berkata seperti itu kepada calon istrinya. Kusadari jika memang tak ada cinta di antara kami. Tapi, pantaskah melukai hati dengan kata-kata yang menyakitkan? Tentu jika bukan karena ayah yang memaksa, aku juga tidak mau menikah dengannya. Tapi semua terpaksa kulakukan demi perjanjian yang telah disepakati. Dan aku harus memenuhinya. Tidak mempunyai jalan untuk lari.


Esok harinya...


"Wah, rumahnya besar sekali."


Ayah dan ibu mengantarkanku menuju rumah yang akan kutempati. Sebuah rumah besar di kawasan ibu kota dengan arsitektur bak istana. Tapi sayang, entah mengapa aku melihatnya merasa hampa. Namun, ibuku terus mendorong agar lekas memasukinya. Sedang pria yang baru saja menjadi suamiku itu tampak sibuk menerima teleponnya. Dia seperti tidak menghargai keberadaan ayah dan ibuku. Aku pun dibuat kesal olehnya.

__ADS_1


Janji suci telah kami ucapkan. Pesta meriah juga telah diselenggarakan. Senyum palsu bertebaran dari bibirku. Dengan berat hati aku harus mengucapkan janji suci di hadapan para undangan. Selesai sudah satu masalah yang dihadapi. Tapi bukankah setelah ini akan menambah masalah lagi? Di mana aku harus membiasakan diri sebagai istri. Istri dari seorang pria yang tidak kucintai.


__ADS_2