
"Lala! Lala!"
Dia memanggilku, tapi tidak kuindahkan. Aku pun pura-pura berjoget agar dia percaya jika aku tidak mendengar dia datang. Tapi ternyata, Rey segera menyadari jika aku sedang mendengarkan musik. Dia lalu menarik earphone ku dari telinga. Dia pun tanpa kata tanpa pamit lekas merebut ponselku. Lalu kemudian...
"Ponselku!"
Rey membanting ponselku ke lantai. Saat itu juga ponselku retak dan berhamburan keluar.
"Astaga!"
Dia sudah benar-benar keterlaluan. Dia begitu menyebalkan. Tapi aku harus tetap bertahan agar membuatnya semakin kesal lalu menceraikanku. Aku harus mendapatkan kata cerai itu.
Aku memunguti ponselku yang pecah. Aku pun beranjak bangun untuk berhadapan dengannya. Aku terdiam sambil memerhatikan wajahnya yang merah padam karenaku.
__ADS_1
"Lala! Sedari tadi aku memanggilmu, tapi kau tidak datang juga!" Dia marah padaku.
Kutahu jika dia marah, tapi memang inilah yang aku inginkan agar dia bosan dan lekas menceraikanku. Aku pun memasang wajah bingung padanya. Aku bersikukuh pura-pura tidak tahu terhadap panggilannya.
"Tuan, apa yang Anda lakukan sampai membanting ponselku?" tanyaku kepadanya.
"Kau masih bertanya, Lala?!" Dia terlihat amat kesal.
Saat mendapat jawaban itu, saat itu juga aku malas untuk berdebat dengannya. Lantas saja segera kubawa ponselku ini keluar kamar. Aku berniat memperbaikinya di konter terdekat. Karena bagaimanapun ponsel ini ada sejarahnya. Ponsel yang kubeli dari mengumpulkan uang jajanku. Tentunya tidak mudah untuk membeli ponsel ini dengan uang jajan sekelas mahasiswi biasa.
Namun, saat itu juga Rey menahanku. Dia menarik kuat tanganku sehingga aku berbalik cepat ke arahnya. Saat itu juga wajah kami bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Napas memburu itupun terasa di permukaan pipi ini.
"Kau benar-benar tidak tahu diri! Kau sudah menjadi istri tapi tidak mengerti apa kewajiban seorang istri!" Rey kembali marah padaku.
__ADS_1
Tentu saja mendengar perkataan itu membuatku tidak bisa diam. "Tuan, sebenarnya apa yang Anda inginkan? Anda ingin mencari wanita sebagai tempat pelampiasan amarah? Anda ingin wanita itu menurut saja bak boneka yang tak bernyawa? Atau—"
"Kau tidak punya hak untuk menanyakan hal itu padaku, Lala! Kau hanya harus memenuhi kewajibanmu sebagai seorang istri! Kau tidak berhak bertanya apapun padaku!" Dia masih tidak terima.
Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba berpikir tenang agar dapat menjawab semua perkataannya hanya dengan satu kalimat. "Baik, Tuan." Lantas aku temui sebuah cara. "Tapi apakah bisa seorang perempuan bersikap baik sedang lelakinya saja tidak mencotohkan bagaimana yang baik itu?" tanyaku padanya.
"Apa maksudmu?!" Dia malah bertanya padaku.
Aku berdiri tegar di hadapannya dengan tanpa mengalihkan tatapan ini dari wajahnya. "Pria itu adalah pemimpin. Bagaimana mungkin anak buah bisa berlaku baik sedang pemimpinnya buruk?" tanyaku kepadanya.
Saat itu juga kulihat Rey terdiam seribu bahasa. Mungkin dia mengerti apa yang kumaksudkan. Aku pun merasa lega karena dapat mengeluarkan sedikit uneg-unegku padanya. Karena tidak mungkin seorang istri bisa berlaku baik kalau suaminya bajingan kelas kakap. Mau tak mau perempuan pun akan mengikut ke mana arah pemimpinnya.
"Aku akan ke konter ponsel sekarang. Makan malammu sudah kusiapkan di atas meja. Air hangat untuk mandimu juga sudah kusediakan di dalam bathtub. Pakaian tidurmu kuletakkan di atas meja kamar. Jadi kau tinggal mengambilnya saja." Aku berkata lagi padanya.
__ADS_1
Rey terdiam. Mungkin dia telah sadar.
"Aku telah memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri. Maka izinkan aku pergi untuk memperbaiki ponsel ini. Karena ponsel yang kau banting ini adalah hasil jerih payah menabungku selama satu tahun dari uang jajanku sendiri. Permisi." Aku berkata seperti itu lalu pergi dari hadapannya.