DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Terpaksa


__ADS_3

Vino sampai berdiri setelah aku meminta tolong padanya. Aku juga ikut berdiri setelahnya. "Rey ingin mencium Lala, Kak. Tapi Lala tidak mau. Dia memaksa Lala. Jadi Lala sikut saja sebisanya. Tapi malah terkena telurnya." Dengan tanpa merasa berdosa aku berkata seperti itu.


Vino mengernyitkan dahinya. Dia juga menelan ludahnya. Entah apa yang ada di pikirannya, kukatakan saja apa adanya. Ya, walau sedikit seram untuk didengar.


"Dia baik-baik saja sekarang?" tanya Vino dengan raut wajah yang cemas.


"Em ... ya." Dengan ragu aku mengatakannya. "Dia meminta Lala mengoleskan salep dari dokter untuk meringankan rasa sakit di daerah itu. Tapi sejujurnya Lala menolak. Maka dari itu, mau ya Kak Vino bantu Lala mengoleskannya?" Aku pun mulai merayunya.


Vino tampak berpikir. Mungkin dia menyesal karena telah datang sore ini ke rumahku. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak bisa berkelak dari apa yang kupinta. Hingga akhirnya kutarik saja tangannya.


"Ayo, Kak!"


Dengan tanpa merasa bersalah, aku pun mengajaknya ke kamar Rey. Vino juga diam saja saat ditarik olehku. Dia tidak melawan atau menolaknya sama sekali. Mungkin dia bingung, mungkin juga dia pasrah. Tapi apapun yang ada di pikirannya, aku tidak peduli. Asal selamat dari mengoleskan salep itu.

__ADS_1


Hah ... lelah sekali.


Kami pun menaiki anak tangga bersama menuju lantai dua rumah ini, hingga akhirnya tiba di depan kamar Rey. Aku pun melepas tangan Vino lalu membukakan pintu untuknya. Kutebarkan senyuman semanis mungkin agar Vino tidak membatalkan niatnya untuk membantuku. Aku pun mempersilakannya masuk ke dalam.


"Silakan, Kak!"


Saat itu juga kulihat Vino seperti ragu untuk masuk ke dalam kamar Rey. Tapi kudorong saja dirinya agar masuk ke dalam. Lalu setelahnya...


Beres!


Kasur, I'm coming!!!


Begitu empuk kasur ini. Aku pun lekas menghidupkan AC lalu memejamkan mata. Aku ingin tidur sebentar di petang ini.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian...


Sunyi, sepi, senyap. Itulah yang kurasakan saat baru terbangun dari tidurku. Aku pun mencoba membuka mata untuk melihat keadaan sekitarku. Dan ternyata, kamarku gelap. Aku pun lekas beranjak bangun untuk menghidupkan lampunya. Tapi, tiba-tiba saja aku teringat sesuatu.


"Astaga!"


Aku teringat dengan kejadian sebelum tidur di kamar ini. Lekas-lekas kuhidupkan lampu kamar dan ternyata sudah jam sebelas malam saja. Aku tidak tahu apakah jam di dinding kamarku sudah rusak atau aku yang ketiduran terlalu lama?


Lihat luar! Lihat luar!


Aku pun bergegas melihat keadaan luar dari kaca jendela kamarku. Dan ternyata semua lampu di perumahan ini sudah hidup terkecuali lampu rumahku sendiri. Aku pun lekas menggulung rambut lalu menuju pintu. Aku ingin memeriksa keadaan Rey di kamarnya.


Semoga mereka baik-baik saja.

__ADS_1


Aku keluar kamar lalu menghidupkan lampu di lantai dua. Tapi saat itu juga kulihat pintu kamar Rey sudah terbuka. Dan ternyata, Rey sudah tidak berada di dalam kamarnya.


__ADS_2