
Eh, dia mengintipku?!
Kunaikkan kaca mobil lalu kulihat jendela rumahku. Saat itu juga kulihat Rey seperti mengintipku dari sana. Di berdiri di samping jendela sambil mengintip bersama siapa aku pergi. Tapi aku tidak memedulikannya. Aku punya hak untuk membahagiakan diriku sendiri. Toh, dia juga diam saja seperti tidak menghargai kehadiranku di rumah. Jadi mari bergegas meneruskan hari.
Di perjalanan...
"Kau belum menghubungiku, La. Maka aku memberanikan diri untuk menjemputmu." Pria berjas hitam di sampingku ini bicara.
"Hm, ya. Ponselku masih belum selesai diperbaiki," kataku padanya.
"Ponselmu rusak?" tanya Vino segera. Ia menoleh cepat ke arahku.
Aku mengangguk.
"Apakah terjatuh?" tanyanya lagi.
"Tidak. Hanya terbanting saja," jawabku.
__ADS_1
Vino mengernyitkan dahinya. Ia terlihat berpikir mengenai hal yang kukatakan ini. "Jangan bilang jika Rey membanting ponselmu," katanya, seperti tahu segalanya.
Aku tersenyum miris sambil menunduk di sampingnya. Tidak tahu harus bicara apa.
"Berapa harga saat kau beli ponsel itu?" tanyanya padaku.
Sontak aku menoleh ke arahnya. "Tuan, Anda seperti wartawan saja yang ingin selalu tahu." Aku pun mengatakannya.
"Hahaha." Vino tertawa. "Tidak. Bukan begitu, La. Jika aku mampu menggantinya, maka akan kuganti." Vino berkata lagi.
Aku terdiam, tidak enak hati.
"Em, ya. Aku membelinya dari hasil menabung uang jajan selama satu tahun. Nilainya cukup besar untukku." Aku menuturkan.
"Apakah ponselmu seharga satu motor mewah?" tanya Vino lagi sambil terus melajukan mobilnya.
"Tidak, sih. Hanya sekitar sepuluh jutaan saja. Tapi ini bukan tentang nilainya. Tapi kesabaranku dalam mengumpulkan uang jajan selama satu tahun. Ponselku itu memiliki sejarah tersendiri untukku." Aku menceritakan padanya.
__ADS_1
Vino mengangguk. "Baiklah. Nanti kita ambil ponselmu setelah selesai diperbaiki." Vino mengatakannya lagi.
"Terima kasih." Aku pun hanya bisa berucap seperti itu padanya.
Vino berdehem. "Em, lalu bagaimana dengan tawaranku kemarin? Apakah kau tertarik untuk mengakhiri perjanjian pernikahanmu?" tanyanya yang sontak membuatku terbelalak seketika.
Sungguh aku tidak tahu siapa Vino yang sebenarnya, dan ada hubungan apa dia dengan Rey. Tapi sampai detik ini aku melihatnya sebagai seorang pria yang baik, perhatian dan juga peduli padaku. Entah yang sebenarnya. Aku juga belum tahu tentangnya lebih jauh. Aku masih menjaga jarak darinya. Karena takut terjadi fitnah. Tapi jika sering bertemu seperti ini aku bisa galau sendiri jadinya.
Vino, kau terlalu baik padaku.
Sebenarnya Vino dan Rey tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama belum kuketahui lebih lanjut. Hanya saja aku dan Rey sudah resmi menikah, sedang dengan Vino hanya sebatas teman biasa. Tapi sepertinya Vino bersikeras dengan pemikirannya jika menganggap aku hanya sebatas istri kontrak Rey saja. Jadi dia tidak terlalu mempermasalahkan pertemanan kami. Entah bagaimana nantinya, aku jalani saja. Toh, Rey juga tidak memedulikanku.
Lantas aku pun menjawab pertanyaannya itu. "Akan kupikirkan kembali. Mungkin lusa sudah bisa memberi kepastian."
Pada akhirnya aku pun tertarik untuk segera mengakhiri sandiwara ini. Aku ingin mengakhiri perjanjian ayah dengan Rey. Entah bagaimana caranya, aku hanya mengikuti instruksi saja.
Malam harinya...
__ADS_1
Hujan deras mengguyur ibu kota. Entah mengapa cuaca silih berganti dan tidak bisa diprediksi. Aku pun baru saja pulang dari mengambil ponselku yang sudah selesai diperbaiki. Dan ya, aku diantar oleh Vino, bukan oleh suamiku sendiri.
"Terima kasih, ya." Aku pun berucap terima kasih padanya saat turun dari mobil.