DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Salah Orang


__ADS_3

Entah kata apa yang harus kuucapkan, rasa-rasanya begitu sulit untuk menemui pria gila itu yang notabene sudah menjadi suamiku sendiri. Apakah mereka tidak tahu jika aku ini istrinya? Di kantor ini sepertinya tidak ada satupun yang mengenaliku sebagai istrinya.


Wajar saja jika mereka tidak mengenalimu, Lala. Pernikahan kalian hanya dihadiri orang-orang terdekat saja. Karyawannya tidak tahu bagaimana rupamu.


Lantas karena tidak ingin mempersulit keadaanku sendiri, aku pun mengeluarkan ponselku. Aku segera menunjukkan foto pernikahanku dengan Rey. "Ini." Satpam gedung ini pun segera melihatnya. Dia kemudian memerhatikan foto yang kutunjukkan itu. Dia menoleh sebentar ke resepsionis kantor ini lalu menelan ludahnya. Dia pun kemudian berlutut padaku.


"Ampuni saya, Nyonya."


Sontak saja apa yang diperbuatnya membuat si resepsionis menyadari siapa aku. Dia ikut memasang wajah penuh penyesalannya lalu berlutut di hadapanku.


"Nyonya, maafkan kami."

__ADS_1


Baru kali ini aku melihat pemandangan tragis di depan mataku. Di mana orang-orang meremehkan orang lain karena melihat dari penampilan luarnya. Pantas saja jika resepsionis itu menelepon berbisik-bisik tadi. Dia ternyata merasa aneh dengan kedatanganku yang menanyakan Rey. CEO perusahaan ini sendiri.


Sungguh aku ingin tertawa, tapi aku teringat dengan luka yang pria itu torehkan di hatiku. Lantas saja aku meminta satpam gedung ini untuk mengantarkanku ke ruangan Rey. Aku ingin menemuinya segera karena ada hal penting yang ingin kubicarakan padanya.


"Tolong antarkan saya, Pak," pintaku pada satpam gedung ini.


"Baik, Nyonya. Silakan." Dia pun mempersilakan aku berjalan duluan.


Lekas saja satpam ini mengantarkanku menuju ruang kerja Rey. Dan kulihat tampilan kantor ini memang sedikit berbeda. Para karyawan dan stafnya terlihat begitu glamor. Sedang aku sebagai tamu hanya mengenakan pakaian biasa. Jadi wajar saja jika mereka menilaiku rendah.


Beberapa menit kemudian...

__ADS_1


Aku dipersilakan masuk oleh seorang pria berpakaian jas hitam lengkap. Tidak tahu siapa namanya, tapi mungkin saja asisten pribadi Rey sendiri. Aku pun masuk ke sebuah ruangan besar yang ada di gedung ini. Yang mana kulihat ada seorang pria sedang menerima teleponnya. Ya, siapa lagi kalau bukan pria gila itu, Rey Mahendra.


Ruangan ini besar sekali. Mungkin empat kamar yang dijadikan satu.


Aku menuju lantai lima gedung ini dengan menaiki lift. Di sinilah ruangan CEO itu berada. Tak berapa lama Rey pun selesai menerima teleponnya. Dia lalu membalikkan dirinya ke arahku. Saat itu juga kulihat dia begitu angkuh. Dia menyandar dengan enaknya di kursi yang empuk, sedang pembantuku diikat di kursi belajarku. Dia benar-benar tega.


"Halo, Lala. Selamat datang di ruanganku."


Rey memberi ucapan selamat datang padaku. Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Kulihat ruangannya juga hanya dipenuhi beberapa perabotan kantor yang diperlukan saja. Seperti sofa tamu, lemari dokumen, dan satu set meja kerja dengan meja teh yang ada di ujung sana. Dinding belakang ruangannya terbuat dari kaca semua. Sehingga terlihat begitu mewah.


"Kedatanganku ke sini untuk menanyakan apa maksudmu mengikat pembantuku?" Aku segera menanyakan tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.

__ADS_1


Aku berdiri di dekat pintu, sedang Rey masih duduk di kursi kebesarannya. Mungkin gaya seorang konglomerat memang semena-mena terhadap orang di bawahnya. Entahlah, yang jelas Rey begitu sombong di mataku. Tatapan matanya itu seperti merendahkanku.


__ADS_2