DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Mengalah


__ADS_3

"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok?"


Dan karena tidak ingin memperkeruh suasana, aku mengalah saja. Aku tidak ingin mempeributkan hal ini bersama dokter yang menanganinya.


"Untuk sementara biarkan tuan Rey beristirahat sejenak. Saya sudah menyiapkan resep obat yang nanti bisa ditebus di apotek luar. Kebetulan obat yang tersedia di rumah sakit sedang habis. Jadi Nona nanti bisa membantu mengoleskannya."


Dokter menerangkan padaku. Walaupun sejujurnya hatiku ini tidak bisa terima dengan kata-katanya. Yang mana seolah-olah menganggapku seorang hiper yang tidak lagi bisa mengontrol nafsu. Sungguh aku kesal bukan main kepada pria gila itu.


Satu jam kemudian...


Aku membawa Rey kembali ke rumah dengan berdiaman di sepanjang jalan. Aku duduk diam sambil fokus menyetir mobilku, sedang dia duduk di samping sambil sesekali memerhatikanku. Aku sendiri tak memedulikannya. Aku sudah terbiasa dengan situasi yang seperti ini. Jadi bukan masalah lagi yang setiap hari harus berdiaman dan hanya bicara jika terpaksa saja. Karena jika kami bicara hanya kata-kata menyakitkan yang akan kuterima.


"Sampai."


Kami pun akhirnya sampai di depan rumah besar ini. Dan karena tidak mempunyai pembantu, atau lebih tepatnya tidak boleh mempekerjakan seorang pembantu, aku jadi harus turun dari mobil untuk membuka pintu gerbang rumahku ini. Dan ya, aku turun lalu lekas membuka gerbangnya, kemudian kembali masuk ke dalam mobil untuk memarkirkannya di garasi rumah. Dan setelahnya aku kembali lagi untuk menutup pintu gerbangku ini. Benar-benar merepotkan sekali.


"Ayo turun!" pintaku pada pria gila yang masih duduk nyaman di dalam mobilku.


"Aku masih sakit. Tidak bisa berjalan," katanya seperti ingin mempersulitku.


"Kau ingin kugendong ke dalam? Apa tidak salah?" tanyaku ketus padanya.

__ADS_1


Dia diam sejenak lalu menatapku dengan tatapan kesal. Aku pun menarik napas dalam-dalam agar tenang dan tidak marah kepadanya. Karena bagaimanapun aku telah berbuat salah padanya.


"Bantu aku berjalan," pintanya padaku.


Aku menghela napas. "Baiklah."


Aku pun membantunya turun dari mobil lalu memapahnya, berjalan bersamaku menuju pintu rumah. Dengan hati menahan kesal, aku melakukannya. Hingga akhirnya kami masuk juga ke dalam rumah.


"Dokter meminta agar kau yang mengoleskannya pada bagian yang memar, Lala." Dia berkata seperti itu padaku.


"Apa?!"


Saat itu juga aku terkejut karena tak percaya. Aku pikir dokter tadi hanya bercanda saja.


Dia mulai memarahiku. Duduk di sofa tamu sambil meringis kesakitan. Entah benar, entah pura-pura. Tapi kalau dipikir-pikir kasihan juga.


Kenapa tidak mati saja?


Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba cuek dengan semua perkataannya. Dia ini hanya badannya yang besar. Sedang sedikit terkena pukulan saja sudah lemah.


"Sekarang beristirahat saja di kamar. Aku akan menyiapkan makanan untukmu meminum obat." Aku memintanya naik bersama ke lantai dua.

__ADS_1


"Hah ...."


Dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak tahu apa yang sedang ada di pikirannya. Aku juga tidak peduli. Aku hanya menjalankan kewajibanku saja.


Baiklah, Lala. Tabahkan hatimu. Cepat atau lambat kau juga akan berpisah dengannya.


Lantas aku pun kembali memapahnya masuk ke dalam kamar. Kubiarkan dia beristirahat sejenak sambil menyiapkan makanan. Rey harus segera meminum obat agar rasa nyerinya hilang. Dia memang benar-benar merepotkan.


Dua puluh menit kemudian...


Untuk yang pertama kalinya aku menyuapi pria gila ini. Dan kini bubur ayam yang aku pesan telah dia habiskan. Saatnya untuk meminum obat. Aku pun segera memberikan padanya.


"Ini, minumlah. Biar lekas sembuh," kataku padanya.


.........


...Lala...



...Rey...

__ADS_1



__ADS_2