DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Awal Kehidupan


__ADS_3

"Lala, papa dan mama pamit. Baik-baik ya di sini. Rawatlah suamimu dengan baik dan jangan pernah kecewakan dia."


Itulah kata-kata yang ibuku pesankan sebelum berpamitan kepadaku dan pria di sampingku ini. Seorang pria yang sudah menjadi suamiku. Namun, lagi-lagi pria itu hanya tersenyum sekedarnya saja kepada ibu. Dia memasang raut wajah angkuhnya di depanku dan juga kedua orang tuaku.


Dasar sombong!


Sungguh jika bukan karena perjanjian, tentunya aku sudah memberinya pelajaran. Tapi aku harus dapat bersabar hingga masa itu selesai. Masa di mana aku bisa berlepas diri dari belenggu pernikahan.


"Buatkan teh dan jangan ganggu aku!"


Pria itu berseru saat kami baru saja masuk ke dalam rumah ini. Rumah yang besar jika hanya dihuni oleh kami. Tapi entah mengapa aku merasa hampa saat masuk ke dalamnya. Seperti tidak ada nyawanya sama sekali. Atau ini biasan dari diriku sendiri? Entahlah. Aku rasa harus membiasakan diri tersenyum palsu mulai hari ini.

__ADS_1


"Patuh padanya dan jangan melawan! Kau harus dapat menjaga nama baik keluarga selama dua tahun ke depan. Hanya dua tahun. Setelah itu kau bisa terbebas dari perjanjian!"


Kata-kata itu teringat kembali di benakku setelah tamparan keras hampir melayang ke pipi ini. Hampir saja pipiku menjadi sasaran amarah ayah jika tidak ada ibu. Aku dituntut balas budi dengan menjadi seorang istri dari pria yang tidak kucintai. Dan juga menuruti semua kemauannya. Apapun itu aku tidak boleh menanyakan apa alasannya. Tugasku hanya menurut saja.


"Baik."


Lantas dengan tanpa banyak bicara aku pun menuruti kemauannya. Membuatkan teh dan segera menyajikannya ke atas meja. Tapi, saat itu juga...


Pria berjas putih itu tampak tak terima dengan suguhan teh yang aku berikan. Dia menyemburkan teh itu dari dalam mulutnya. Dia kemudian mencaciku dan segera mengelap mulut dengan tisu. Aku pun tak tahu di mana letak salahku. Sungguh tak tahu salahnya di mana. Karena merasa telah benar mencampurkan gula ke dalamnya. Tapi aku rasa harus segera mencicipinya.


Rasanya manis. Apa yang salah?

__ADS_1


"Mulai hari ini jangan usik semua kegiatanku! Cukup lakukan tugasmu sebagai seorang istri. Dan jangan pernah menggangguku!" katanya, bertitah padaku.


Saat itu juga air mata ini ingin sekali keluar dari persembunyiannya. Perlakuan kasar dan ucapan menyakitkan harus kuterima darinya. Namun, sama sekali aku tidak bisa melawannya. Aku hanya bisa menurut dan terus menurut. Semua ini tak lain demi terbebas dari pinalti perjanjian. Dan aku harap dua tahun itu akan segera datang untuk menyelamatkanku.


"Baik."


Lagi, kata-kata itu kuucapkan setelah dia memarahiku. Lantas aku pun segera membawa kembali teh ini ke dapur. Di saat itu juga kudengar dering ponselnya berbunyi. Sebuah percakapan menyakitkan pun harus kembali kudengar. Dia berbicara mesra dengan seseorang yang meneleponnya. Entah siapa.


"Iya, Sayang. Aku akan datang malam ini. Tunggu saja di sana ya."


Dia berkata seperti itu lalu beranjak pergi. Tanpa kata, tanpa pamit padaku. Dan tak lama kudengar suara mobilnya melaju. Dia ternyata meninggalkanku di sini. Sendiri di rumah sebesar ini. Aku pun hanya bisa menutup pintu dan menunggunya kembali. Dan terus seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2