
"Lepaskan!" kataku padanya dengan setengah kesal.
"Tidak." Dia berkata singkat sekali.
"Lepaskan aku, Tuan Rey Mahendra!" Aku pun memintanya dengan intonasi penekanan tinggi.
"Tidak, Lala Kirana." Dia berkata lagi.
Sungguh aku kesal bukan main. Kedua tanganku dipegangi sampai tidak bisa bergerak lagi. Sedang wajahnya itu sangat dekat dengan wajahku ini. Ingin sekali aku membenturkan kepalaku ke kepalanya agar bisa lari. Tapi itu terlalu berisiko untukku. Aku takut lari tidak bisa malah kepalaku berdarah. Aku harus memikirkan cara agar bisa lari dengan aman darinya.
Dia menatapku dengan tatapan mengejek. Dia juga memerhatikan apa yang ada di wajah ini. Dia memerhatikan perubahan yang terjadi.
"Kau mengenakan kaca mata hanya untuk menarik perhatian Vino?" tanyanya yang kepo.
__ADS_1
Aku mendongakkan kepala melihatnya. "Bukan urusanmu!" kataku singkat.
"Oh." Dia mengangguk-anggukan kepala. "Jadi kau ingin bermain-main denganku rupanya." Dia menduga. Saat itu juga rasa takut muncul di hatiku.
"Apa maksudmu?!" tanyaku tak mengerti.
Rey tidak menjawab. Dia diam saja sambil terus memegang tanganku ini. Sungguh aku tidak bisa lari darinya. Dia memegang erat tanganku sampai tidak bisa bergerak lagi. Hingga akhirnya kusadari wajahnya itu semakin mendekati wajahku. Deru napasnya juga kian memburu. Sekuat tenaga aku melepaskan tanganku ini. Tapi nyatanya Rey terlalu kuat untuk kulawan. Tenaganya tidak bisa kutandingi. Aku kalah. Aku lemah. Aku tidak bisa melawannya.
Sebisa mungkin aku pun memberontak saat dia ingin menciumku. Sebisa mungkin memalingkan pandangan agar dia tidak jadi menciumku. Dan entah mengapa rasanya ingin menangis saja saat hidungnya itu mulai menyentuh hidungku. Ciuman pertamaku akan diambilnya sekarang. Dan sungguh aku tidak rela sama sekali. Tidak ada cinta di hati kami.
Lantas aku berpikir cepat agar bisa lari. Satu-satunya cara adalah dengan menendang telur-telur itu agar dia lemas dan tidak bisa memegangiku lagi. Aku harus melakukannya, secepat yang kubisa.
Maafkan aku, Rey.
__ADS_1
Pada akhirnya kuarahkan lutut kakiku ke sana. Sontak saat itu juga Rey menatap kaget ke arahku seketika. Dia membungkam mulutnya saat menyadari apa yang terjadi. Dia pun melepas kedua tanganku ini dari cengkeramannya. Saat itu juga aku melarikan diri. Aku tidak ingin diciumnya.
"Lala ... Lala!"
Dia jatuh terduduk di lantai sambil memegangi apa yang kutendang tadi. Entah bagaimana rasanya, aku tidak peduli juga. Aku lekas pergi dari ruang TV menuju kamarku di lantai dua. Sesaat setelah menaiki anak tangga, kudengar dia berdesir lirih di sana. Rey kesakitan sambil berkata, "Telurku." Saat itu juga aku tersenyum senang melihatnya. Aku telah berhasil menghukumnya.
Belasan menit kemudian...
Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Aku baru saja mandi, membersihkan tubuhku ini. Tapi dari kamar kudengar ramai sekali orang yang datang. Aku pun menoleh ke luar jendela kamar. Dan ternyata ada mobil ambulan. Sepertinya Rey menelepon ambulan setelah apa yang terjadi tadi.
Aku sendiri tidak ingin memusingkan. Aku lekas mengambil pakaian untuk bersantai. Namun, tak lama pintu kamarku terketuk dari luar. Aku pun mengira-ngira siapa yang datang. Aku juga sedikit takut dengan apa yang terjadi barusan. Aku takut Rey kenapa-napa lalu aku dipersalahkan. Padahal aku hanya ingin melindungi diri dari ciumannya yang tidak kuinginkan.
Ya, aku tidak ingin dicium olehnya sekalipun kami sudah berstatus suami istri. Karena tidak ada cinta di hati kami. Sebisa mungkin, semampu mungkin menjaga jarak darinya. Sampai perjanjian itu berakhir.
__ADS_1