
"Maaf lama menunggu." Temanku Rian melepas jaket hitamnya.
"Tidak. Aku juga baru datang," kataku.
Rian mengangguk. "Sepertinya sedang ada masalah serius padamu." Rian mendugaku.
Aku menghela napas. "Apa raut wajahku mengatakannya?" tanyaku.
Rian tertawa. "Lala, kita sudah berteman lama. Bahkan sangat lama. Untuk ukuran pria dan wanita dewasa itu mustahil terjadi tanpa ada rasa. Tapi nyatanya kita mampu menjalin pertemanan dengan baik sampai saat ini. Dan aku rasa lebih mengenalmu dari pria manapun juga." Rian mengatakannya padaku.
Aku ikut tertawa. Benar apa yang dikatakan olehnya jika pertemanan kami memang sudah lama. Dan aku rasa kami sudah saling mengenal satu sama lain tanpa adanya hubungan spesial. Dan itu amat langka terjadi pada lawan jenis seperti kami. Tapi kami mampu melaluinya sehingga aku tidak akan sungkan lagi untuk bercerita.
"Sebenarnya aku sedang dilanda masalah berkenaan dengan rumah tangga dan juga hatiku." Aku memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Baiklah. Katakan. Aku akan mendengarkannya."
Rian pun tampak tidak keberatan untuk mendengarkan ceritaku. Lantas saja segera kuceritakan apa yang terjadi padanya. Dia juga tampak antusias mendengarkannya. Rian sampai memesan kopi late sama sepertiku karena merasa obrolan ini akan memakan waktu.
Setengah jam kemudian...
"Jadi Vino mulai berani melakukan kontak fisik denganmu padahal dia tahu kau adalah adik iparnya?" tanya Rian lagi.
Aku mengangguk.
Sejenak aku mengingat-ingat. Aku mengingat kembali pembicaraan apa saja yang pernah terjadi di antara kami. Tak berapa lama aku pun mengingatnya.
"Waktu itu Vino pernah membisikkan sesuatu padaku. Dia bilang ingin pura-pura menjalin hubungan denganku untuk mengetahui perasaan Rey yang sebenarnya. Jika Rey masih tidak menggubrisnya, Vino akan menggantikannya. Dia yang akan membayar semua utang-utang ayahku," tuturku.
__ADS_1
"Semudah itu? Tanpa ada imbalan apapun?" tanya Rian kembali.
Aku mengangguk. "Dia telah menunjukkan saldo rekeningnya. Dia juga meyakinkan jika nanti memang terjadi hubungan sungguhan pada kami, tidak apa-apa. Dia bersedia menggantikan Rey," kataku kembali.
Rian menggelengkan kepalanya. "Lala, maaf. Tapi aku tidak bisa percaya ucapan Vino begitu saja. Bagaimanapun dia seorang General Manager mobil yang pastinya pandai berkata-kata untuk meyakinkan calon pembelinya. Aku khawatir kau terjebak dalam ucapannya dan malah akan membahayakan dirimu sendiri. Terlebih saat ini kau sedang berusaha menarik perhatiannya dengan berdandan seperti ini. Saranku, kenapa tidak mencoba menarik perhatian Rey saja yang memang sudah menjadi suamimu?" tanya Rian padaku.
Saat mendengarnya, saat itu juga hatiku tersentak. Kenapa tidak mencoba menarik perhatian Rey saja? Tapi kembali lagi hatiku berontak. Aku tidak menyukai Rey apalagi sampai mencintainya. Jadi bagaimana bisa aku melakukan hal itu kepadanya?
"Rian, aku tidak mempunyai perasaan apapun pada Rey. Dia sudah cukup menyakitkanku dengan segala sikap dan ucapannya. Berbeda dengan Vino yang memang perhatian padaku. Dan juga aku tertarik padanya." Aku menjelaskan.
Rian tertawa kecil mendengarnya. Mungkin dia tidak habis pikir padaku. "Lala, saat ini kau harus tahu status dirimu. Ayahmu berutang pada Rey, bukan kepada Vino. Jadi jika ingin menarik hati, maka tariklah hati Rey, bukan Vino. Jangan terlalu berharap pada Vino yang bukan siapa-siapa untukmu." Rian berkata lagi.
Saat itu juga aku merasa temanku ini seperti sedang membangunkanku dari angan semu. Aku seperti orang yang terkena hipnotis lalu baru tersadarkan. Pelan-pelan aku pun bisa menerima saran darinya.
__ADS_1