
Satu bulan kemudian...
Sibuk. Itulah yang kurasakan selama satu bulan terakhir ini. Bagaimana tidak, aku mengikuti kegiatan modeling dan juga bekerja full time pada pergelaran mobil terbaru. Dan ya, tentu saja hal yang kulakukan ini diketahui oleh ayah dan juga Rey. Tapi aku menebalkan muka dan teguh pendirian. Toh, hal yang kukerjakan tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada. Aku mendapatkan uang dari hasil kerja kerasku sendiri.
Aku menghabiskan banyak waktu di studio pemotretan dan juga showroom mobil di mall-mall besar. Tak ayal kegiatanku begitu padat merayap. Pagi sampai siang kuliah, sedang siang sampai malam bekerja. Aku tidak mempunyai waktu lagi untuk bercengkrama ataupun bercerita dengan siapapun. Termasuk ibuku sendiri. Dan kini aku sudah memetik hasilnya.
Seratus lima puluh juta dalam satu bulan. Benar-benar gila.
Kini aku sedang duduk santai sambil menikmati matahari pagi yang bersinar terang. Aku menjemur badanku dengan pakaian mini di teras lantai dua rumah ini. Dan ya aku menikmati hari-hari sibukku. Hingga lupa dengan statusku sekarang. Karena nyatanya aku masihlah seorang istri dari pria yang tidak kucinta, Rey Mahendra.
"Lala!"
__ADS_1
Pria berkaus putih itu datang menghampiriku yang sedang asik menjemur badan di sini. Aku pun segera menegakkan tubuh saat dia datang ke sini. Kulihat raut wajahnya kembali seperti dulu. Tersirat jika dia ingin marah padaku.
"Tuan, ada apa?" Dan tanpa merasa berdosa, aku pun bertanya padanya.
Dia mendengus kesal. "Kau bekerja di perusahaan Vino?" tanyanya padaku.
Aku mengangguk sambil menebarkan senyuman padanya. Aku tebal muka dan tebal telinga terhadapnya.
Dia mengernyitkan dahinya di depanku. "Lala, tidak ingatkah jika masih terikat perjanjian denganku?" Dia menanyakan hal itu.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya seperti tak percaya dengan sikapku sekarang. "Kau sudah berubah semenjak bertemu dengannya. Kau tidak lagi memenuhi kewajibanmu sebagai seorang istri." Dia seperti kecewa.
__ADS_1
"Oh, ya. Bagus kalau begitu. Bukankah hal ini yang Anda inginkan sejak dulu, Tuan?" Aku balik bertanya padanya.
"Apa maksudmu?" Dia menanyakan balik padaku.
Aku tersenyum. Senyum palsu yang kuberikan untuknya di pagi hari yang cerah ini. "Secepatnya aku akan membayar semua utang ayahku. Jadi ...," Aku mengusap dadanya. "Anda tenang saja, Tuan." Aku pun beranjak pergi meninggalkannya.
Tak peduli apa yang dia pikirkan tentangku, aku jalani saja kehidupanku. Kuberikan senyum palsuku agar dia tahu jika aku bahagia. Dan setelah selesai berhadapan dengannya, raut wajahku berubah cuek kembali. Aku tidak memedulikannya.
"Lala!" Dia memanggilku. Aku pun berhenti melangkahkan kaki ini. "Kau ingin membayar semua utang ayahmu? Sungguh kau tidak akan mampu." Dia berkata seperti itu.
Aku tersenyum sinis menanggapi ucapannya, lalu berbalik ke arahnya. "Kita tunggu saja tanggal mainnya, Tuan. Aku yakin pasti bisa melunasi semua utang ayahku." Aku berkata seperti itu.
__ADS_1
Kulihat Rey menelan ludahnya. Aku pun tak memedulikannya. Aku berbalik lalu melangkahkan kaki ini menjauh darinya. Matahari menjadi saksi betapa kerasnya hatiku yang ingin segera melunasi utang ayah kepadanya. Dan ya, aku menjadi wanita jahat di matanya.
Entah bagaimana persepsinya tentangku, aku tak peduli. Aku tidak mau peduli lagi terhadap apapun yang terjadi padanya. Saat ini yang harus kulakukan adalah bagaimana cara agar bisa segera terlepas dari jeratan pernikahan ini.