DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Saudara Satu Ayah


__ADS_3

Terserahlah bagaimana pandangannya terhadapku. Aku tidak peduli.


Dan hanya kata itu yang kuucapkan di dalam hatiku. Aku pun segera melewati mereka lalu bergegas menuju pintu rumah. Aku membuka pintu lalu lekas menuju gerbang rumahku. Dan tak lama kemudian Vino pun datang ke rumah ini. Entah apa yang akan dilakukannya, aku menonton saja. Toh, mereka kakak-beradik walaupun berbeda ibu. Jadi nikmati saja apa yang akan terjadi selanjutnya.


Beberapa menit kemudian...


Vino masuk ke dalam rumahku dan melihat-lihat isinya. Dia tampak lelah tapi tetap berusaha untuk datang ke sini. Setelan jasnya masih tampak rapi walau sudah berganti hari. Aku pun membiarkannya berjalan duluan di depan. Sedang aku menutup pintu rumah kembali. Sampai akhirnya dia tiba di ruang TV. Barulah dia bisa melihat sendiri apa yang terjadi. Dia pun tanpa malu berjoget dan bergabung langsung dengan Rey dan teman-temannya. Sontak Rey mematikan musik yang sedang menggema itu. Vino pun duduk santai di atas sofa.


"Hai, boleh aku bergabung?" tanya Vino sambil mengambil kacang kulit di atas meja.


Kulihat wajah Rey yang tadinya bergembira berubah dingin seketika. Dia seperti tidak senang Vino datang ke rumah ini. "Apa ada yang mengundangmu?" tanya Rey pada Vino.


Vino beranjak berdiri. Dia kemudian berhadapan dengan Rey. "Tidak ada. Hanya insting saja." Vino pun berbicara santai kepada Rey.


"Rey, siapa dia?! Mengapa tiba-tiba sudah ada di rumah ini? Apakah istrimu yang mengundangnya?" tanya salah seorang wanita berdres merah yang ada di sana.

__ADS_1


Vino pun menoleh ke arah wanita berdres merah itu. "Halo, Nona. Bisa tolong diam? Tidak ada yang memintamu bicara." Vino berkata seperti itu.


Saat itu juga aku terkejut. Ternyata Vino bisa berkata seperti itu kepada seorang wanita. Padahal selama ini aku melihatnya sebagai sosok pria yang menenangkan. Tidak pernah menunjukkan sisi kasarnya. Tapi malam ini sedikit demi sedikit aku mengetahui kepribadiannya. Aku pun tak percaya dengan apa yang kudengar ini. Aku masih berdiri di sini sambil melihat apa yang terjadi di ruang TV.


Rey menatap tajam ke Vino. "Ada urusan apa kau ke sini?" tanya Rey sambil menyilangkan kedua tangannya. Dia tampak congkak sekali.


Vino tertawa lalu menundukkan pandangannya. Dia kemudian menatap Rey kembali. "Aku sudah bilang hanya ingin bergabung. Apa itu salah?" tanya Vino kepada Rey.


Rey berjalan selangkah mendekat ke Vino. "Tidak baik bagimu datang ke rumah orang malam-malam, Tuan Vino Mahendra." Rey berkata seperti itu. Saat itu juga aku membenarkan apa yang dikatakan Vino jika mereka adalah saudara satu ayah.


Rey terlihat geram. Dia mengepalkan tangannya. Saat itu juga jantungku deg-degan bukan main. Aku takut terjadi perkelahian di rumah ini.


"Lala!"


Dan saat itu juga Rey memanggilku. Aku pun segera menghampirinya. Berjalan cepat ke arahnya seperti pembantu yang dipanggil majikannya.

__ADS_1


Rey menoleh ke arahku. "Kau yang memintanya datang?" tanya Rey padaku.


Aku terdiam. Tidak berani menjawabnya. Aku kehilangan kepercayaan diri saat berada di situasi ini. Padahal aku tidak salah sama sekali. Vino datang karena keinginannya sendiri.


"Lala, aku bertanya padamu! Siapa yang menyuruhnya datang?!" Rey marah padaku.


.........


...Rey...



...Vino...


__ADS_1


__ADS_2