
"Sudahlah, Ma. Jangan terlalu dipikirkan. Pernikahanku bersamanya juga hanya sebatas kontrak. Tidak lebih dari itu." Aku membela diri ini.
Ibu mendekatiku. Dia duduk di dekatku. "Kalau papamu tahu, dia bisa memarahimu, Lala." Ibuku tampak khawatir.
"Maka dari itu Mama jangan bilang papa. Kedatangan Lala ke sini juga ingin melihat isi perjanjian yang sudah disepakati papa bersama Rey," cetusku.
Ibu menghela napasnya. Tersirat dari wajahnya yang khawatir padaku. Sedang aku... "Cepat, Ma. Aku harus segera kembali sebelum Rey pulang." Aku memaksa ibu agar memperlihatkan isi perjanjian itu.
Ibuku mengangguk pasrah. Mungkin serba salah dengan sikapku yang keras ini. Karena nyatanya aku memang tidak mau peduli lagi terhadap apa yang terjadi pada Rey. Hatiku sudah sakit sekali mendapat cacian dan cercaan darinya. Aku ingin membahagiakan diriku sendiri.
__ADS_1
Lantas ibu pun beranjak bangun lalu masuk ke kamarnya. Sedang aku menunggu ibu mengambilkan surat perjanjian bermaterai itu. Tak lama ibu pun kembali datang sambil membawa map berwarna hitam. Dan benar saja isinya memang surat perjanjian. Aku pun lekas-lekas memotretnya untuk kubaca ulang.
Aku harus tahu apa isinya. Semoga saja nanti setelah kupelajari ada celah untukku lari dari kontrak ini. Karena nyatanya aku dan Rey memang tidak saling mencintai. Tidak ada cinta di antara kami.
Malam harinya...
Kini aku tahu isi perjanjian yang telah disepakati ayah. Perjanjian yang membuatku sampai pusing untuk membacanya. Tapi untung saja aku mahasiswi fakultas sejarah. Walau banyak kata, aku tetap dapat mengingatnya.
Dan ya, ternyata ayah berutang seratus milyar kepada Rey. Yang mana jika ayah membatalkan perjanjian itu akan terkena pinalti sepuluh kali lipatnya. Jadi pantas saja ayah memaksaku untuk menikah dengannya. Karena jika dihitung-hitung, total kekayaan keluarga kami tidak sampai seratus milyar. Sungguh mengenaskan saat mengetahui isi perjanjian ini.
__ADS_1
Ayah terlilit banyak utang. Dan dia ingin tetap mempertahankan perusahaan tekstilnya walau sekarang pasar sedang dilanda isu wabah. Karena perusahaan itu merupakan perusahaan turun menurun dari keluarganya. Sehingga ayah merasa bertanggung jawab penuh atasnya. Dia tidak ingin perusahaan mengalami kebangkrutan apalagi sampai ditutup selamanya. Ayah menghargai jerih payah para pendahulunya.
Usut punya usut, ternyata ada celah untukku keluar dan lepas dari perjanjian ini. Yaitu dengan membuat Rey menceraikan aku sendiri. Jadi jika dia yang menceraikanku, maka perjanjian itu akan batal dengan sendirinya. Jadi tugasku sekarang adalah bagaimana membuat Rey menceraikanku dengan sukarela. Tanpa paksaan ini dan itu. Aku harus bisa membuatnya melepaskanku.
Hm ... kalau begitu tinggal tidak peduli saja padanya. Dia bicara, aku berlalu. Dia meminta apa, aku tidak peduli. Bukankah cara seperti itu membuatnya tidak betah bersamaku? Lama-lama dia juga bosan sendiri.
Terlintas sebuah ide di pikiranku agar Rey melepaskanku dari kontrak pernikahan ini. Tentunya tidak akan merugikan ayah sama sekali. Tinggal aku saja yang menebalkan muka dan telinga di hadapannya. Aku juga harus memperkuat hati agar tidak terbawa emosi. Lalu tinggal menunggunya mengucapkan kata cerai itu. Maka semua urusan ini bisa diselesaikan. Itu mudah, bukan?
Eh? Ada yang datang? Siapa ya? Apakah Rey?
__ADS_1