DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Terus Dihina


__ADS_3

Dia berjalan memutariku. "Pasti menyenangkan sekali menjadi simpanan seorang General Manager. Bisa dipakai kapan saja dan dinikmati di mana saja." Dia berkata lagi yang membuat gejolak amarahku ini meluap sampai ke ubun-ubun.


Rey, kau benar-benar keterlaluan!!!


Dia tersenyum sinis padaku. "Lihatlah dirimu, Lala." Dia memintaku untuk melihat diriku sendiri. "Tubuhmu itu tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Apa yang bisa kau lakukan untuk membuat pria tertarik padamu?" Dia melakukan body shaming padaku.


Saat itu juga kukepalkan kedua tanganku. Aku sudah bersiap untuk meninjunya. Tapi aku masih berusaha bersabar untuk menghadapinya. Tak lain agar tidak terkena pinalti dari perjanjian yang telah ayah sepakati.


Dia menertawaiku seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Saat itu juga aku menatapnya tajam-tajam. Tapi sepertinya hal itu hanya akan menguras emosiku saja. Nyatanya dia adalah seorang CEO gila yang menganggap semua wanita itu rendah. Tidak pantas aku menanggapi semua ucapannya yang menyakitkan itu. Lantas saja aku segera pergi, masuk ke kamarku.


"Hahahaha."

__ADS_1


Kudengar gelak tawa itu semakin keras darinya, seperti merendahkanku. Rey amat puas mencaci dan mencercaku. Tanpa peduli lagi bagaimana perasaanku yang hancur berkeping-keping karenanya. Lalu pada akhirnya aku pun masuk ke kamar mandi. Kuhidupkan shower air lalu mulai mendinginkan kepala ini. Aku harus bisa mengontrol emosi.


Lala, sekarang sudah terlihat siapa yang baik dan buruk, bukan?


Hatiku berkata seperti itu. Seolah menegaskan jika Rey tidak akan pernah berubah dengan mulut pedasnya. Sedang pria yang kuabaikan itu menunjukkan perhatian dan kepeduliannya terhadapku. Dia peduli bahkan mau memberi tumpangan untuk menginap semalam di apartemennya. Sungguh aku kepincut olehnya. Ya, mungkin saja aku juga sudah jatuh cinta pada kakak tingkatku itu.


"Kau harus kuat, La!"


Pukul 12.12 siang waktu ibu kota dan sekitarnya...


Semilir angin membelai rambutku yang dibiarkan tergerai. Aku pun melangkahkan kaki menuju teras atap sebuah kafetaria yang ada di ibu kota. Aku mengenakan rok panjang dengan kaus berlengan panjang juga. Aku ingin menemui seseorang siang ini.

__ADS_1


Keadaaan kafe tampak mulai ramai saat jam makan siang tiba. Tapi mungkin karena keramaian itulah Vino tidak ingin berbicara padaku di sana. Dia memintaku untuk menemuinya di teras atap kafe ini.


Lantas aku pun melangkahkan kaki menaiki anak tangga untuk menuju ke sana. Dan sesampainya di sana kulihat pria itu sedang berdiri sambil menatap perkotaan seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dan entah mengapa aku merasakan jantungku ini berdetak tidak biasanya saat ingin bertemu dengannya. Aku pun melangkahkan kaki untuk mendekatinya.


"Kak Vino." Aku menyapanya.


Dia pun menyadari kehadiranku. Dia memutar tubuhnya ke arahku. Saat itu juga kulihat dia begitu tampan sekali. Dia tampan, tinggi, berkharisma dan juga mapan secara finansial. Tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan jika hidup bersamanya. Entah mengapa angan-anganku sampai sejauh itu saat melihatnya. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?


.........


...Lala...

__ADS_1



__ADS_2