
Lala, sadarlah. Kau tidak punya hak untuk cemburu atau marah padanya.
"Oh, sudah selesai ya?" Wanita itu pun menyadari kehadiranku.
Aku tersenyum. Hanya tersenyum tanpa bicara apa-apa.
"Dia Lala." Vino mengenalkanku pada wanita yang duduk di sampingnya.
Wanita itu tersenyum padaku. "Sudah lama?" tanya wanita itu lalu beralih kembali ke Vino.
Vino terkejut dengan pertanyaan itu. Mungkin merasa rancu dengan maksud pertanyaannya. Dia kemudian meneguk kopi yang sudah disajikan.
"Saat launching mobil keluaran terbaru. Mungkin satu atau dua bulan yang lalu." Vino menjawabnya.
Aku pun tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Aku duduk saja, menjauh dari Vino ataupun wanita itu. Vino pun seperti menyadari jika aku ingin menjauh darinya. Dia kemudian beranjak bangun dari duduknya.
"Kalau begitu aku permisi. Mobil akan dikirimkan siang ini juga. Terima kasih, Nona Stella." Vino mengajak berjabat tangan wanita itu.
__ADS_1
"Jangan terlalu formal padaku. Kita bisa minum bersama nanti malam." Wanita itu pun seperti ingin memancing Vino.
Vino tersenyum, dia lalu beralih kepadaku. "Ayo, Lala."
Dia kemudian mengajak ku keluar dari studio. Aku pun mengikutinya dengan menganggukkan kepala kepada wanita itu. Hingga akhirnya kami keluar bersama lalu mulai melaju. Kulihat jam di tangan sudah menunjukkan pukul sebelas siang sekarang.
Setengah jam kemudian...
Hening. Itulah yang kurasakan. Entah mengapa sejak pergi kami tidak berbicara sama sekali. Dan kini sudah sampai di pertengahan jalan menuju rumahku. Kami pun tidak berbicara sepatah kata juga. Aku diam, Vino juga diam. Kami seperti orang yang bermusuhan. Dan entah mengapa hatiku mulai merasa tak karuan. Aku khawatir terbawa perasaan.
Eh? Dia?!
"Sampai kapan kau akan diam seperti ini, Lala?" Dia bertanya padaku.
Saat itu juga aku menelan ludah. Aku bingung harus bicara apa.
"Harusnya aku yang mendiamkanmu karena kejadian kemarin sore. Kau mendorongku masuk ke dalam kamar yang mana berisi seorang pria sedang bertelanjang dada dan hanya memakai boxernya saja. Harusnya aku yang marah padamu. Tapi kenapa kau malah mendiamkanku?" tanyanya dengan intonasi terheran-heran.
__ADS_1
Aku menelan ludah kembali. Aku merasa bersalah dengan kejadian kemarin sore. Tapi semua sudah terjadi. Aku memang terlalu bodoh untuk menyikapi situasi. Dan pada akhirnya kami berdiaman seperti ini.
"Ma-maaf."
Dan hanya kata itu yang mampu kuucapkan padanya. Mobil yang melewati kami pun seolah menjadi saksi kecanggungan ini.
"Hah ...." Vino mengembuskan napasnya. Dia kemudian mengusap kepalanya sendiri. "Kau cemburu?" tanyanya.
"Ap-apa?!" Seketika itu juga aku merasa panik mendengarnya.
"Kau cemburu melihatku cium pipi dengannya?" Dia menanyakannya.
Dahiku berkerut saat mendengar pertanyaan itu. Tidak mungkin kuutarakan bagaimana perasaanku yang sesungguhnya. Aku tidak boleh mengakui jika aku kesal melihatnya cipika-cipiki bersama wanita lain. Aku harus sadar siapa diri diri. Namun, sesuatu kemudian terjadi pada kami.
"Lihat dua orang yang ada di depan toko itu!"
Vino menunjuk ke sebuah toko yang ada di ujung sana. Aku pun melihatnya segera. Namun, saat itu juga...
__ADS_1
CUP!
Detak jantungku berpacu cepat seketika. Aliran darahku melaju deras dalam sekejap. Hangat dan lembut itu kurasakan menyentuh pipiku. Sebuah kecupan kuterima darinya. Vino mencium pipiku.