
Selama satu minggu dia tidak pulang ke rumah, dan setelah pulang masih juga mendiamkanku. Tapi setelah jatuh sakit, mungkin dia mulai tersadar dengan sikapnya. Sedang aku sudah tebal hati untuk menanggapinya. Aku tidak memedulikan lagi semua ucapan atau tindakannya.
"Janji dengan siapa? Apakah itu lebih penting dariku?" tanyanya sinis.
Tentu saja lebih penting darinya. Kenapa aku bisa bilang seperti itu, karena aku akan menandatangani kontrak pekerjaan hari ini. Dan uang yang akan kudapatkan itu lumayan untuk uang jajanku. Sedang kalau bersamanya, aku tidak dapat uang.
Ya, benar. Rey tidak pernah memberiku uang sampai detik ini. Aku hanya diharuskan untuk bekerja dan terus bekerja. Tanpa mendapatkan apapun. Hanya makan saja yang masih bisa bebas dan sepuasnya.
"Maaf, Tuan. Sepertinya aku harus segera bergegas. Permisi."
Aku pun segera berpamitan padanya. Berjalan ke lantai dua untuk menuju kamarku. Aku ingin mandi lalu bergegas menandatangani kontrak hari ini. Aku harus bisa mandiri tanpanya. Karena aku adalah Lala.
__ADS_1
Pukul sebelas siang waktu ibu kota dan sekitarnya...
Hari ini tak lagi hujan. Cuaca cerah dan terasa sedikit menyengat. Aku pun sedang menunggu seseorang datang. Kami telah janjian dari semalam. Dan ya, pria berjaket hitam itu datang sambil membawa map di tangannya. Dia lalu duduk di hadapanku. Di sebuah kafe yang ada di tengah ibu kota.
"Lama menunggu, La?"
Pria di hadapanku ini selalu tersenyum dan menampilkan keceriaannya padaku. Aku tidak tahu bagaimana dia yang sebenarnya. Tapi mulai hari ini aku akan menyelidiki siapa dirinya. Aku ingin tahu ada hubungan apa dia dengan Rey sebenarnya.
"Em, tidak juga. Aku baru lima menit di sini," jawabku seraya tersenyum.
Dia juga tersenyum padaku. "Ini adalah surat perjanjian beserta lampiran yang harus kau baca terlebih dahulu. Jika setuju, kau bisa langsung menandatangani surat itu. Jika tidak, kau bisa mengembalikannya padaku." Dia memberi kebebasanku untuk memilih.
__ADS_1
Dia adalah Vino, kakak tingkatku dulu di kampus. Dia menyempatkan diri untuk bertemu denganku hari ini. Tak lain tak bukan untuk menawarkan sebuah pekerjaan untukku. Dan aku tertarik untuk mengambil tawaran itu.
Aku mengangguk. Segera kukeluarkan pena dari dalam tas kecil yang kubawa. Kubaca perlahan apa isi dari surat perjanjian ini. Dan sepertinya aku bisa memenuhi semua persyaratannya. Tidak terlalu sulit untukku. Aku pun lekas menandatangani kontraknya.
"Ini, Kak." Aku pun menyerahkan surat perjanjian kepadanya.
Vino tersenyum padaku. Dia merasa senang dengan kontrak yang telah aku tanda tangani ini. Dia kemudian mengajak ku berjabat tangan. Aku pun membalas jabatan tangannya. Kami akhirnya mengikat kontrak kerja.
"Aku harap setelah ini kita bisa lebih dekat lagi," katanya lalu mengajak ku duduk.
Aku mengangguk, tersenyum padanya. Tentu saja sebagai seorang pekerja harus menurut pada atasannya. Dan mungkin hal itulah yang sebentar lagi akan kulakukan. Tak lain tak bukan untuk mandiri di atas kakiku sendiri. Aku harus bisa mencari uang sendiri.
__ADS_1
Vino kemudian memesan makanan untuk kami. Kami pun makan siang bersama. Tentunya tidak ada makan siang yang gratis. Setelah ini aku harus mengikuti semua peraturan perusahaannya. Aku tidak bisa menghindar lagi.
Entah bagaimana nantinya, aku jalani saja cerita hidupku ini. Aku berhak bahagia dengan jalan hidupku sendiri. Aku yakin bisa berdiri di atas kaki sendiri. Tanpa bantuan ayah atau suamiku yang bernama Rey itu.