DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Terketuk


__ADS_3

Aku tidak punya jalan lain untuk melampiaskan kesedihan di hati ini. Aku pun meminta wisky padanya. Dan Vino memberikannya. Sebagai seorang GM perusahaan mobil ternama, dia pasti sudah terbiasa dengan minum-minuman seperti itu. Dan ya benar saja, Vino memiliki beberapa botol minuman di apartemennya. Aku pun segera mencobanya. Dan entah mengapa aku begitu cepat terbiasa dengan rasanya.


"Lala, kau mabuk. Beristirahatlah."


Vino pun mengambil gelas minuman dariku. Dia kemudian membantuku berjalan menuju kamar apartemen ini. Tapi, aku sudah mabuk. Aku tidak kuat lagi untuk berjalan.


"Akh!"


Aku pun terjatuh. Tapi Vino segera menolongku. Dia memegang kuat lenganku agar tidak terjatuh kembali. Aku merepotkannya malam ini. Ya, merepotkannya.


"Maaf, Lala. Aku harus menggendongmu."


Lantas Vino pun menggendongku. Dia mengangkat tubuhku lalu dibawanya ke kamar. Aku pun direbahkan di atas kasurnya. Dan entah mengapa dia terlihat begitu tampan malam ini. Dia lalu menarikkan selimut untukku. Vino begitu perhatian dan peduli padaku.

__ADS_1


"Tidurlah, La."


Dia tampak prihatin padaku. Aku tahu itu karena sejak tadi dia hanya bisa memerhatikan dan mencegahku untuk tidak minum lagi. Pada akhirnya dia pun beranjak meninggalkanku.


"Kak Vino ...."


Saat itu juga aku menahannya pergi. Aku menahan jemari tangannya agar tidak meninggalkanku. Vino pun melihat apa yang kulakukan ini. Dan aku tersenyum padanya, memintanya untuk terus menemaniku. Aku tidak punya jalan lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya malam ini.


"Lala ...." Dia pun tampak terheran denganku.


Pagi harinya...


Sejuk angin terasa menerpa pipiku. Suara burung bercuitan juga terdengar tak jauh dariku. Aku pun mencoba membuka kedua mata setelah melewati malam yang hampa. Dan kulihat sedang berada di atas kasur mewah seseorang. Aku pun mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Tapi entah kenapa kepalaku terasa sakit sekali.

__ADS_1


Astaga, apa yang sudah terjadi padaku?!


Aku beranjak bangun lalu melihat keadaan sekitar. Kusadari jika aku sedang berada di kamar seorang pria yang semalam menemaniku. Ya, aku masih mampu mengingat siapa pria yang menemaniku sebelum terpejam. Dan dia adalah seseorang yang selama ini aku abaikan, Vino, kakak tingkatku dulu.


Pakaianku?!


Sontak aku teringat dengan pakaianku. Dan kulihat ternyata masih mengenakan pakaian semalam, tidak ada yang terbuka sama sekali. Aku pun mencoba memeriksa lebih dalam. Dan ternyata sama saja, tidak ada yang kurang. Itu berarti dia tidak melakukan apa-apa padaku.


Vino?!


Lekas saja aku bergegas keluar kamar. Tapi saat aku ingin meraih gagang pintu, saat itu juga ada catatan kecil yang tertempel di dindingnya. Aku pun lekas membaca isi catatan itu.


Semalam kita tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menemanimu sampai tidur saja. Aku membatasi diriku sampai kau terjaga penuh. Jadi jangan khawatir atas apa yang terjadi semalam.

__ADS_1


Begitulah pesan yang kubaca dan tak salah lagi jika itu memang pesan darinya. Lantas saja aku segera mencari di mana tasku berada. Dan ternyata tasku itu diletakkan di atas meja kamar. Aku pun mengambil ponsel lalu segera meneleponnya. Tapi ternyata nomor Vino sedang berada di luar jangkauan.


Vino, kau ....


__ADS_2