
"La, cowok gue bentar lagi datang." Nina pun berbicara padaku.
Aku segera tersadar di mana gerangan ini berada. Aku pun melihat ke arah Nina sejenak. Aku bertanya padanya. "Lo kenal cowok yang di sana?" Aku menunjuk Rey bersama wanita-wanita cantik itu.
"Oh, itu. Dia buaya kelas kakap, La. Suka gonta-ganti pasangan. Lo kenal sama dia?" tanya Nina padaku.
Aku menggelengkan kepala.
"Jangan mau sama dia. Tiap malam ganti cewek di sini. Kaya sih, tapi keterlaluan. Senakal-nakalnya gue aja nggak sampai sebegitunya. Cukup sama satu." Nina menuturkan padaku.
Entah mengapa saat mendengar pernyataan Nina, aku jadi merasa kasihan kepada ayah. Terlebih aku merasa kasihan kepada diriku sendiri. Ayah menjodohkanku dengan pria seperti itu. Tanpa berpikir lagi bagaimana ke depannya. Apakah aku akan bahagia atau tidak.
"La, lo kenapa?"
Aku pun diam sambil menahan sesak di dada. Lalu kemudian berpamitan kepada Nina karena tiba-tiba merasa pusing. Padahal hanya alasanku saja. Tak lupa juga untuk kupotret kebersamaan pria itu dari jauh. Aku ingin menunjukkan kepada ayahku. Kali-kali saja ayah akan membatalkan perjodohan ini. Aku tidak ingin menikah dengan seorang penjahat kelamin.
__ADS_1
Sesampainya di rumah...
Aku pulang dan sampai di rumah pada pukul sembilan malam lewat. Aku tidak berlama-lama di bar karena malas berada di keramaian. Katakanlah jika aku seorang introvert. Aku tidak ingin banyak masuk ke dalam kerumunan. Aku lebih suka berdiam diri di rumah, di dalam kamar sambil membaca buku atau mengerjakan tugas kuliahku.
"Dari mana kamu?!"
Baru saja masuk ke dalam rumah, ayah menyambutku dengan intonasi yang tidak mengenakkan. Ternyata dia sudah pulang dari kantornya tanpa kutahu. Pria tua itupun menatapku dengan pandangan yang menyeramkan. Aku seperti selalu saja salah di matanya.
"Lala habis pergi sama Nina nyari buku, Pa." Aku berbicara seperti itu kepada ayahku.
Yang namanya orang tua memang selalu merasa benar. Dan yang namanya anak, memang harus selalu mengalah. Tapi kadang hatiku ini tidak terima saat ayah memaksakan kehendaknya. Aku ingin sekali melawannya.
"Seminggu lagi pernikahanmu akan diselenggarakan. Tetap di rumah dan jangan pergi ke mana-mana." Ayahku bak mengeluarkan titah.
"Apa?!" Saat itu juga aku terkejut bukan main.
__ADS_1
"Tuan Rey sudah mempersiapkan semuanya untukmu. Kau tinggal menunggunya saja di rumah." Ayah pun beranjak pergi meninggalkanku.
"Pa, aku tidak mau menikah dengannya!" Frontal aku mengucapkan kalimat itu kepada ayahku.
Ayahku berbalik. "Apa? Tidak mau?" Ayahku bertanya dengan tatapan nanar.
"Pa, dia bajingan. Dia suka main perempuan!" Aku mencoba menjelaskan.
Ayahku menggelengkan kepalanya. "Sekalipun dia menduakanmu, kau harus tetap menikah dengannya. Tidak ada jalan lain lagi." Ayahku pun pergi dariku.
"Pa! Papa!"
Aku pun berusaha memanggilnya, tapi arogansi itu menutupi mata hati ayahku untuk menyadari keadaan yang sesungguhnya. Dan akhirnya aku hanya bisa meneteskan air mata. Hatiku merasa sakit dengan paksaan pernikahan ini. Tidak mungkin bagiku untuk menikah dengan pria bajingan seperti Rey. Aku punya hak untuk memilih. Tapi apakah aku harus bunuh diri agar ayah tersadarkan dari keegoisannya?
Jangan gila, La! Mati demi sesuatu unfaedah sama saja menyia-nyiakan hidupmu. Hidup cuma sekali. Pikir lagi, dong!
__ADS_1