DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Bertemu Lagi


__ADS_3

"Sebentar ya." Dia pun meminta izin padaku untuk mengangkat teleponnya. "Iya, Pak. Saya baru pulang semalam dari prakerin di luar kota. Dan hari ini rencana ingin beristirahat terlebih dahulu." Rian ternyata sedang berbicara dengan bosnya.


Rian melirik ke arahku. Dia seperti bingung untuk menjawabnya. "Em, baik. Kalau begitu saya akan segera ke sana." Dia akhirnya memutuskan sesuatu.


Tak tahu apa isi pembicaraan teleponnya, sepertinya sangat serius. Aku pun mencoba menanyakan kepada Rian yang baru saja mengakhiri sambungan teleponnya. "Ada apa?" tanyaku.


"Em, Lala." Dia tampak tidak enak hati. "Bos hotel meneleponku agar masuk hari ini. Ada tamu besar yang akan datang. Jadi dia meminta bantuanku untuk mendekor ruangan. Aku diminta mengawasi dekorasi ruangan karena bos tidak bisa melihatnya langsung. Dia harus menyambut tamu besar itu nanti," katanya, menceritakan padaku.


"Oh, ya." Aku pun mengangguk-angguk.


"Jadi La, aku harus pergi sekarang. Tak apa ya? Nanti kita bisa lanjutkan perbincangan ini setelah urusanku selesai. Bagaimana?" Dia tampak terburu-buru.


Aku tersenyum. "Santai saja. Lagipula hal yang kualami ini tidak se-emergency dirimu. Cepat pergi sana! Mungkin kau akan naik jabatan sebentar lagi." Aku pun mengizinkannya pergi.

__ADS_1


Rian tersenyum padaku. "Kalau begitu sampai nanti." Dia pun lekas berpamitan padaku.


Aku beranjak berdiri. Mengantar kepergiannya dari kafe ini. Kusadari jika semenjak kuliah Rian memang tidak mempunyai waktu untuk bercengkrama lagi. Dia harus kuliah sambil bekerja. Dan itu pasti melelahkan sekali. Aku pun mencoba mengerti aktivitasnya. Dia pastinya mempunyai impian dan masa depan yang harus diraih. Jadi mari kita kembali saja ke rumah yang sepi.


Setengah jam kemudian...


Jalanan tiba-tiba saja macet karena ada pemblokiran jalan. Dan akhirnya aku harus turun dari taksi lalu mencari ojek untuk sampai ke rumah. Tapi entah mengapa ojek pun tidak ada. Jadi akhirnya aku menunggu di halte bis. Duduk sambil menikmati hari yang mendung ini. Sepertinya hujan akan segera turun.


Kepadatan ibu kota memang tidak bisa diprediksikan. Aku pun mencoba memesan ojek online untuk mengantarkanku pulang. Tapi ternyata, tidak ada ojek online yang menerima permintaanku. Sampai akhirnya hujan turun rintik-rintik di depanku. Aku pun merasa kesal karena mulai kehujanan.


Kulihat hujan turun semakin lama semakin deras. Beberapa anak sekolah juga ada yang berteduh di halte bis ini. Hingga akhirnya sebuah mobil BMW hitam berhenti tepat di depanku.


Siapa itu?

__ADS_1


Kaca mobil diturunkan. Saat itu juga kulihat seorang pria menoleh ke arahku. Seorang pria tampan yang beberapa minggu ini kuabaikan. Dialah Vino, kakak tingkatku dulu.


"Sedang mencari tumpangan? Ayo masuk!" Dia membukakan pintu mobilnya untukku.


Tentu saja jawabannya adalah iya. Dan karena tidak mempunyai pilihan, aku masuk saja ke dalam mobilnya. Pria berjas hitam itu lalu memberikanku tisu untuk mengelap air hujan yang jatuh membasahi kepalaku. Kami pun melaju bersama melewati jalanan ibu kota dengan rintik hujan yang menemaninya. Kulihat Vino sesekali menoleh ke arahku.


"Kau tidak dijemput Rey?" tanya Vino padaku.


Aku tersenyum menanggapinya seraya mengambil buku dari tas yang kubawa. Aku mengipasi rambutku.


Vino mengerti. Dia kemudian membesarkan AC mobilnya untukku. "Kau selalu menghindariku, La. Bukankah kau hanya sebatas istri kontrak Rey saja?" tanyanya, seperti menyudutkanku.


Astaga, jadi dia tahu semuanya?!

__ADS_1


__ADS_2